menjadi ibu

9 Posts Back Home

Berdamai dengan Diri Sendiri

Mastitis yang disertai infeksi bakteri berat membuat saya harus dirawat selama 2 minggu di rumah sakit dan menghilangkan kemampuan saya untuk menyusui. Padahal, saat itu usia putri saya baru 1 bulan. Sakit hati karena ucapan nyinyir orang tentang “Aduh, harusnya begini dan begitu”, rasa iri setiap melihat ibu lain yang berhasil mengASIhi, semua tidak sebanding dengan perasaan bersalah yang saya rasakan terhadap putri saya. Saya tahu saya sudah gagal dalam salah satu fase paling penting di hidupnya. Dua tahun setelah itu, tak pernah sehari pun saya hidup tanpa rasa bersalah. Saya menyesali tidak berhasil menemukan tenaga medis yang lebih bisa diandalkan. Saya mengutuki diri saya mengapa tidak lebih awal mencari informasi. Melihat putri saya yang sedang minum susu formula membuat saya ingin menangis. Saya tahu penyesalan tidak akan mengubah waktu yang sudah berlalu, tapi tetap saja sulit untuk mengikhlaskan kegagalan yang satu ini. Sampai di satu titik saya sadar, menyalahkan…

Journey of Gratitude

Selamat tahun baru 2017 ! Memulai tahun baru seperti memulai harapan baru. Memulai resolusi baru. Apa Kamu sudah siap memulai tahun ini? Before we start this year properly, let’s take a look inside . Are you grateful with what you have last year? Butuh waktu lama buat saya benar-benar menikmati motherhood. Adaptasi dengan rutinitas bayi tidur, menyusui, mandi dan bermain. Saya beri simpulan, menjadi ibu tidak mudah . Tapi doable. Dapat diilakukan. Jika perempuan sebelum Kamu  melakukannya , kamu juga pasti bisa melakukannya. Kamu hanya perlu yakin dengan diri sendiri dan berlatih untuk bersyukur. What makes me get through transitioning in to  motherhood is,one of them,  I try to be grateful with small things. Saat single saya biasa melakukan semuanya dengan grand, besar. Menggapai semua yang saya harapkan dan inginkan walau sesulit dan setidakmungkin apapun. I will try my best. I don’t care for the obstacles, whatever I want and…

I’m a PPD Survivor

oleh Sukma  diedit oleh Dian Astari “Kebanyakan suami diluar sana lupa, bahwa kami, seorang ibu baru, tidak pernah dibekali dengan pengetahuan yang cukup untuk membesarkan dan merawat anak, tidak ada satupun kurikulum di sekolah yang mengajarkan cara merawat dan membesarkan anak, kami mempelajari semuanya dari nol saat anak kami lahir.” Dear ibu, Seperti kebanyakan orangtua lain diluar sana, saya dan suami menjadi orang yang paling berbahagia saat diberi tahu dokter bahwa saya sedang mengandung anak pertama kami. Terlebih lagi, pada saat itu kami hanya tinggal berdua di negara orang, tanpa ada keluarga dekat bersama kami. Saya sangat menikmati masa kehamilan pertama saya, sampai tiba-tiba pada saat saya melakukan cek rutin pada bulan ke 4 saya dinyatakan menderita Gestational Diabetic, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan saya seperti penderita penyakit diabetes, memiiliki kadar gula darah yang tinggi, dan hal itu bisa membahayakan kondisi ibu dan bayi pada saat melahirkan, sehingga saya diharuskan…

5 CARA UNTUK COMPASSIONATE PARENTING

Pekerjaan apa yang paling sulit tapi paling berharga? Menjadi orangtua. Tidak pernah diberikan pensiun oleh pemerintah, negara maupun tuhan. Dari Senin sampai Senin, 24 jam, 365 hari. Ironman, you got to rest,but we have children to raise. Saat dulu tahu kami akan menjadi orangtua, Saya dan suami merasa beruntung sekali diberikan tugas mulia oleh alam semesta. Lalu besoknya, Saya langsung mikir, ‘Ini gimana yah? Ngurus diri sendiri saja belum mumpuni, apa Saya mampu mengurus satu mahluk yang 100 persen harus mengandalkan Saya pada tahun-tahun pertama hidupnya?’. Maka Saya pun menarik kembali aplikasi saya jadi orangtua hari itu. Hehe. Kalau secara ekonomi,, ini sangat beresiko, saya tidak pernah punya pendidikan orangtua, tidak pernah dikasih tutorial oleh orang tua, tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua, jadi kenapa Saya harus ambil? I blame hormones and love. Unprepared but so much love. 3 September 2013, Mahija lahir ke dunia ini secara spontan gentlebirth. Hampir…

Melahirkan VBAC Sambil Tertawa

Dear Ibu, Saya mau berbagi cerita mengenai pengalaman hamil kedua kami (iya saya mengatakan kami karena kami merasa ketika istri hamil, suami juga ikutan merasakan hamil dengan segala dinamikanya). Hamil yang kedua ini bisa dibilang cukup istimewa karena kami memiliki harapan dan tujuan yang ingin kami capai, yaitu melahirkan secara nyaman, aman, selamat, dan sehat dengan metode VBAC (Vaginal Birth After Caesarian). Anak pertama kami lahir melalui operasi Caesar setelah induksi yang dilakukan oleh dokter di usia kehamilan 38 minggu karena air ketuban yang sudah berkurang. Setelah 2 malam diinduksi, pembukaan belum juga naik dari pembukaan 2, dan kondisi detak jantung yang mulai melemah, akhirnya dokter memutuskan untuk membantu kelahiran dengan proses operasi. Dengan pengalaman operasi tak terencana di kelahiran anak pertama, sebenarnya saya tidak kemudian menjadi trauma atau takut dengan tindakan operasi caesar. Namun, kami memutuskan untuk berupaya melahirkan VBAC karena pertimbangan biaya. Kebetulan di kantor suami ketika itu tidak mengcover secara…

Aku Si Manusia Egois

Dear Ibu, 1 tahun 3 bulan tepatnya aku menunggu kedatangan makhluk mungil ini di perutku. Makhluk mungil yang ada di dalam perut sungguh merubah semuanya. Aku ingat berapa banyak khayalku tentang bagaimana aku akan menjadi gurunya, mengajarinya beribu hal yang ada di dunia. Bagaimana caranya duduk, bagaimana caranya makan, bagaimana caranya mengikat tali sepatu, sampai bagaimana caranya untuk mendapatkan gadis yang mungkin suatu hari nanti akan dia tanyakan kepadaku. Mungkin. Aku, si manusia egois ini mulai memperhatikan gizi makananku. Tidak hanya asal kenyang dan enak. Karena sekarang sudah ada makhluk kecil yang bergantung padaku. Aku si manusia egois ini mulai tidur tepat waktu. Karena sekarang ada makhluk kecil menendang-nendang seperti tidak senang ketika aku nonton tv terlalu larut. Aku si manusia egois ini mencari bagaimana cara tidur paling nyaman pada saat-saat yang paling tidak nyaman. Karena sekarang ada makhluk kecil yang mengganjal di perutku. Sampai pada akhirnya si makhluk kecil…

Menjadi Perempuan, Menjadi Ibu

Dear Ibu,     Aku Dita, ibun dari Aksara, yang saat ini sudah berusia 20 bulan. Waktu hamil Aksara, usiaku 27 tahun. Kata orang tua, itu adalah waktu yang pas untuk punya anak. Para ilmuwan di Royal College of Obstetricians and Gynaecologists juga mengamini kata orang tua itu. Secara raga memang mungkin aku sudah optimal, tapi secara jiwa aku belum siap. Gak tahu harus gimana saat lihat garis merah dua di testpack. Tapi setelah lihat senyum suami, lihat kebahagiaan muka orang tua dan terpapar foto teman-teman yang tengah hamil lalu punya bayi di news feed Facebook membuat aku jadi “mungkin inilah saatnya”. Ketakutan-ketakutan ibu hamil itu banyak banget. Banyak banget. Banget!. Sebulan sebelum aku tahu tentang kehamilanku, aku diterima kerja di kawasan Cikini. Ini menjadi salah satu kecemasan aku kala itu. Baru diterima kerja lah kok udah hamil, itu yang terlintas waktu mau berbagi cerita ini ke orang-orang kantor. Tapiiii,…

chasing dreams VS being a mother

Dear Ibu, Saya mau cerita sedikit tentang kehidupan saya. Di usia yang cukup muda, 21 tahun, saya memutuskan untuk menikah. Saat itu saya masih menjalani perkuliahan di semester-semester akhir. Saya ngga pernah berekspektasi untuk cepat-cepat punya anak, tapi ternyata Tuhan yang berekspektasi pada saya. Kehamilan saya – yang bagaikan kado kejutan ini – sedikit-banyak mengubah kehidupan saya. Saya mulai browsing tentang bagaimana cara mengasuh anak yang benar, apa itu ASI, apa itu colic, dan berbagai macam hal baru lainnya. Saya jadi rajin olahraga, saya juga mengalami beberapa hal aneh (jadi suka makan kambing, setiap hari harus makan cokelat, ngga suka dengar musik yang kencang) yang sebelum saya hamil ngga pernah terjadi, and of course saya jadi menelantarkan skripsi saya. Hahaha. Bulan demi bulan, sampai juga akhirnya di Juni 2012. Anak pertama saya, Arkhairan Razaki Akbar (atau biasa dipanggil Une), lahir dengan proses persalinan yang singkat. Waktu itu, berbekal dari baca…

Si Tujuh B

Si Tujuh B ini merupakan mantra yang bisa Anda gunakan sebagai jurus menguatkan hubungan Anda dengan anak Anda. Ramuan manjur untuk parenting yang damai. Tujuh B ini diantaranya, Bonding right after birth, Breastfeeding, Baby Wearing, Bedding close to Baby, Believe in the language value of your baby’s cry, Beware of baby trainers, and Balance. Kenapa harus menggunakan si tujuh B ini? Like all the things in the world, shouldn’t parenting also need a tool? Secara alami Ibu dan Ayah memiliki ikatan atau bonding yang kuat dengan anaknya. Lalu bagaimana menjaga hubungan yang alami dan indah ini? Attachment parenting menjawab kegelisahan saya sebagai Ibu baru. Saya yakin setiap Ibu dan Ayah memiliki caranya masing-masing dalam membesarkan anak, semua pilihan pasti baik dan spesial untuk masing-masing orangtua. Saya ingin memaparkan pilihan kami. Dokter Sears mengungkapkan “Attachment Parenting promotes parenting practices that create strong, healthy emotional bonds between children and their parents. For life.…

Navigate