ibu dan anak

6 Posts Back Home

JANGAN BILANG ‘JANGAN’

Dear Ibu, Pasti sudah sering dengar kalau orang tua dilarang bilang ‘jangan’ ke anaknya. Tapi sama seperti anak, makin dilarang, kok makin sering keluar kata ‘jangan’ ya dari mulut kita hehe.. Bedanya, cara berpikir dan kemampuan orang tua dalam mengatur emosi tentu sudah lebih baik dan matang daripada anak-anak. Karena itu orang tua bisa melatih kemampuannya dalam berkomunikasi positif, termasuk mengurangi penggunaan kata ‘jangan’. Jadi mengurangi saja? Bukan meniadakan? Tentu bukan dong. Kata ‘jangan’ boleh dan kadang perlu diucapkan kok untuk situasi dan kondisi tertentu, seperti ketika anak berlarian di jalan raya, mau memegang api, atau melakukan hal lain yang bersifat darurat atau bahaya. Perlu diingat bahwa setiap memberikan larangan kepada anak, wajib disertai dengan alasan atau alternatif kegiatan lain. Misalnya, “Jangan pegang api, karena api panas dan tanganmu bisa terbakar” atau “Jangan mainan pintu, nanti tanganmu terjepit. Kalau kamu sedang bosan, kita baca buku saja, yuk!” Berdasarkan pengalaman saya…

Melahirkan VBAC Sambil Tertawa

Dear Ibu, Saya mau berbagi cerita mengenai pengalaman hamil kedua kami (iya saya mengatakan kami karena kami merasa ketika istri hamil, suami juga ikutan merasakan hamil dengan segala dinamikanya). Hamil yang kedua ini bisa dibilang cukup istimewa karena kami memiliki harapan dan tujuan yang ingin kami capai, yaitu melahirkan secara nyaman, aman, selamat, dan sehat dengan metode VBAC (Vaginal Birth After Caesarian). Anak pertama kami lahir melalui operasi Caesar setelah induksi yang dilakukan oleh dokter di usia kehamilan 38 minggu karena air ketuban yang sudah berkurang. Setelah 2 malam diinduksi, pembukaan belum juga naik dari pembukaan 2, dan kondisi detak jantung yang mulai melemah, akhirnya dokter memutuskan untuk membantu kelahiran dengan proses operasi. Dengan pengalaman operasi tak terencana di kelahiran anak pertama, sebenarnya saya tidak kemudian menjadi trauma atau takut dengan tindakan operasi caesar. Namun, kami memutuskan untuk berupaya melahirkan VBAC karena pertimbangan biaya. Kebetulan di kantor suami ketika itu tidak mengcover secara…

TAMAN HATI

Dear Ibu, Memiliki anak batita atau balita, sudah pasti jadi kesenangan sekaligus tantangan tersendiri untuk Ibu. Perkembangan mereka yang pesat setiap hari, tingkah lucunya hingga kata-kata baru yang keluar dari bibir kecil mereka bisa jadi semangat tersendiri untuk kita. Namun tak bisa dipungkiri, sering kali keterbatasan kita sebagai seorang ibu adakalanya diuji. Ketika anak mulai rewel dan bersamaan Ibu sedang menghadapi banyak pekerjaan dan sejumlah aktivitas, kadang kala kita gemas dan terlontarlah begitu saja kata-kata yang seharusnya tidak kita ucapkan kepada anak. “Kamu nakal sekali, sih!” “Kamu tidak nurut ya sama Mama. Nanti Mama hukum!” “Jangan cengeng dong, Nak, masa begitu saja kamu nangis!”             Saya mengerti, bahwa Ibu pasti tahu bahwa contoh kata-kata di atas bila diucapkan terus menerus, bisa menjadi stigma yang melekat seumur hidup pada diri anak. Mereka akan berpikir: Oh, saya anak nakal karena tidak nurut sama Mama atau saya anak cengeng jadi wajar saja saya…

Jadi Ibu, Tanpa Ibu

Dear Ibu, Aku bukan lagi mommy without granny, tapi aku mommy without nanny. Ibuku meninggal 21 hari setelah Nyala – anak dan cucu pertama di keluarga kami, lahir. Satu-satunya hal yang ingin dilakukan orang yang ditinggal meninggal adalah memutar ulang waktu. Hal yang tidak mungkin dilakukan, sama seperti menghidupkan kembali yang sudah mati. Sedihnya terlalu. Apalagi aku (mengaku) penulis. Penulis, biasanya, punya tendensi untuk melebih-lebihkan sesuatu. Termasuk duka. Mungkin Dukamu Abadi-nya Sapardi Djoko Damono ada benarnya juga untuk perasaan ditinggal ibu. Kalau ibuku masih hidup, sepertinya hidupku akan jadi jauh, jauh, lebih mudah. Jadi ibu baru itu penuh lika-liku, aku tentu butuh ibu (and who doesn’t, anyway?). Sulit memang menerima kenyataan kalau ibu sudah meninggal. Setiap berkunjung ke rumahnya, she is everywhere, cuma tidak kentara. Sering sekali aku memejamkan mata lama-lama dan berharap ketika kembali membuka mata ibu masih ada, doing her stuffs at home. Saat menulis ini, aku sudah…

PEOPLE TALK, I JUST WALK

Dear Ibu, Saya mau sedikit curhat. September 2013, saya berumur 24 tahun, saat itu saya diklaim Tuhan sudah siap menjadi Ibu dari seseorang. Saya sendiri belum yakin dengan diri saya sendiri. Memilih menu makanan di restoran saja saya butuh waktu untuk yakin dengan apa yang akan saya saya santap, tak bisa membayangkan bila ada mahluk lain yang harus bergantung hidupnya sepenuhnya pada saya. Ego wanita berumur 20 tahunan, membuat saya hanya memikirkan solo traveling, mencari uang, memotret dan makan enak. Menikah dan punya anak? Tuhan mungkin sedang bercanda.             Dalam ketidaksiapan menjadi Ibu, saya tak pernah punya kemewahan merencakan semuanya. Memang saya sudah mengorganisir cara melahirkan yang saya inginkan, lalu pada hari H, semua itu semu. Hehehe. I cant even eat. At some point my body take over myself, in a good way, and hell it was challenging. Hehe. Apalagi saat Mahija butuh susu, teriakan histeria bayi membuat saya gugup…

Si Tujuh B

Si Tujuh B ini merupakan mantra yang bisa Anda gunakan sebagai jurus menguatkan hubungan Anda dengan anak Anda. Ramuan manjur untuk parenting yang damai. Tujuh B ini diantaranya, Bonding right after birth, Breastfeeding, Baby Wearing, Bedding close to Baby, Believe in the language value of your baby’s cry, Beware of baby trainers, and Balance. Kenapa harus menggunakan si tujuh B ini? Like all the things in the world, shouldn’t parenting also need a tool? Secara alami Ibu dan Ayah memiliki ikatan atau bonding yang kuat dengan anaknya. Lalu bagaimana menjaga hubungan yang alami dan indah ini? Attachment parenting menjawab kegelisahan saya sebagai Ibu baru. Saya yakin setiap Ibu dan Ayah memiliki caranya masing-masing dalam membesarkan anak, semua pilihan pasti baik dan spesial untuk masing-masing orangtua. Saya ingin memaparkan pilihan kami. Dokter Sears mengungkapkan “Attachment Parenting promotes parenting practices that create strong, healthy emotional bonds between children and their parents. For life.…

Navigate