Womanhood

INSPIRASI IBU “Speak Up” Vol. 1

Sabtu, 21 April 2018 kemarin adalah hari yang begitu istimewa untuk semua perempuan Indonesia. Semua perempuan Indonesia merayakan Hari Kartini sebagai sosok yang kuat dan penuh inspirasi. Tepat di hari itu juga, adalah hari yang istimewa bagi Nujuh Bulan Studio, karena untuk pertama kalinya Nujuh Bulan meluncurkan acara komunitas yang dinamakan “Inspirasi Ibu” Vol. 1. Di acara ini para perempuan hadir untuk berbagi inspirasi, pandangan, ide, perasaan, karya, pemikiran, kreativitas, semangat keyakinan, dan pengalaman hidup yang dikemas dalam format 11×11. Yaitu 11 foto, 11 menit, 1 kisah, 1 ibu. Nujuh Bulan Studio bekerjasama dengan Haloibu untuk mengajak semua ibu dan perempuan untuk berkumpul dan hadir dalam acara tersebut. Bertepatan dengan Hari Kartini, Nujuh Bulan mengambil tema “Speak Up” di Inspirasi ibu vol. 1. Tema ini menyentuh seputar perjuangan hak-hak wanita untuk berbicara, bertindak, mengambil keputusan, mandiri, berdaya, serta berjuang untuk pilihan hidupnya. Dalam acara ini kami semua diajak untuk mendengarkan…

Womens March Start at Home

Belakangan, timeline kita penuh dengan pemberitaan ataupun post tentang #womensmarch. Mungkin untuk kebanyakan dari kita, gerakan ini belum menjadi sesuatu yang populer. Tapi, di negara- negara lain yang sudah lebih maju seperti Amerika, UK dan Australia, gerakan ini telah menjadi event tahunan yang dirayakan oleh ratusan ribu perempuan. Dimulai di Amerika, geraka #womensmarch bertujuan untuk memperjuangkan hak- hak azasi perempuan, seperti kesetaraan gender, hak reproduksi, perlindungan dari pelecehan maupun kekerasan seksual, hingga penyetaraan gaji dan benefit dari tempat bekerja. Di Indonesia sendiri, isu yang agaknya banyak dibahas dalam momen #womensmarch tahun ini adalah perlindungan terhadap kekerasan seksual, dan penolakan terhadap victim blaming. mengundang perdebatan. Ibu, kita adalah sekolah moral pertama anak- anak kita. Sudah tanggung jawab kita untuk menciptakan generasi yang memahami cara memperlakukan sesama manusia dengan hormat dan penuh kasih. Meskipun tahun ini kita tidak turun ke jalan untuk merayakan #womensmarch, izinkan saya untuk menawarkan beberapa alternatif cara untuk…

How to Create Unjudgemental Conversation

Halo ibu, kemudahan untuk mendapatkan akses informasi di jaman sekarang ini, kadang membuat seorang ibu merasa paling tahu segala hal. Sehingga, ibu begitu mudahnya dengan atau tanpa sadar men-judge ibu lain saat sedang berbincang-bincang. Contoh dari pengalaman saya sendiri, ketika sedang bercerita tentang anak saya yang pernah susah makan, lawan bicara saya yang juga seorang ibu menanggapinya dengan jawaban “masakanmu kurang enak kali.. atau kamu kurang disiplin atur waktu makan dia dari sejak bayi. Makanya harus teratur waktu makannya” Contoh lainnya, ketika saya bercerita bahwa (waktu itu) anak saya suka memukul temannya, ibu lain yang usianya lebih tua dari saya menanggapi dengan jawaban “Nah, itu pasti ibunya suka memukul! Nggak mungkin anaknya suka mukul kalau nggak ada contoh. Pasti deh ibunya suka memukul” Tanpa bertanya terlebih dahulu, tanpa menggali informasi lagi, seorang ibu yang merasa lebih pengalaman dan lebih banyak pengetahuan berkata demikian. Jika sudah kenal dekat dengan lawan bicara,…

Kenapa #ibuberdaya?

Berawal dari pilkada DKI yang secara massif mudah ditemukan banyak pengguna socmed menjadi korban dari bisnis ujaran kebencian hasil karya sekelompok orang yang sudah dipesan oleh pelaku politik di negeri ini. Hasilnya kita semua tahu sungguh sukses dan fantastis bisnis kebencian ini dilakukan oleh anak-anak kecil, remaja, bapak-bapak, dan ( yang paling menyedihkan buat gue ) ibu-ibu! Banyak ditemukan postingan nyinyir, sinis, marah, umpatan enggak pantas yang ditemui di akun-akun social media ibu-ibu. Seolah enggak mau kalah berlomba-lomba sama kaum muda dan para bapak untuk serta terdepan menjauhi sopan santun, tutur kata baik, menghormati, menghargai orang lain, bertoleransi dan juga menjauhi empati. Puncak keresahan adalah ketika menemukan postingan seorang ibu yang sungguh manis dan religius, berkata sangat kasar ( menurut gue sih kasar ya ) dan tidak pantas kepada ibu lain yang sedang kena musibah dan sedang amat sangat kesusahan. Wow. Percayalah,  jika kejadian itu berbalik menimpa si ibu nyinyir,…

Relationship Goals ?

Saya masih ingat, saat di awal umur 20 tahunan, goal besar dalam bidup saya adalah menjadi sukses. Menjadi sukses secara finansial, karier dan seperti kebanyakan jiwa muda menjadi terkenal dengan apa yang saya lakukan. Saat masih duduk dibangku kuliah, saya akan pergi melanglang buana mencari kegiatan untuk memenuhi kebutuhan diri. Singkatnya, biar eksis. Saya mendaftar siaran di radio lokal, menjadi fashion stylish di sebuah majalah lokal, sampai menjadi MC di acara tradisional di pusat kebudayaan setempat, padahal saya bukan berasal dari sunda.   I just want to create, make a  different, and have achievement. Lahir dan besar di Jakarta, saya terbiasa mempunyai goal, dan bersaing dengan orang lain. Di Ibukota saya selalu bergerak cepat. Saya suka merasa bersalah hanya berada di rumah tak melakukan apapun. Saya hanya tahu, kalau saya punya banyak kegiatan saya keren. I was so drawn by having a lot of things in life. Kalau saya ingat…

Your Mind is Your Garden

HaloIbu! Saya yakin Ibu tahu istilah garbage in – garbage out. Apapun yang kita keluarkan dari tubuh kita, baik itu energi, ucapan, gestur maupun perbuatan, adalah produk dari asupan yang kita izinkan memasuki sistem tubuh dan jiwa kita. Untuk menjadi #ibuberdaya, kita perlu memilah dan memproses semua asupan yang ‘layak’ masuk ke sistem kita. Sementara itu, setiap harinya tanpa sadar, Saya nyaris tidak bisa lepas dari social media. Minimal, 1 jam sesi buka Instagram deh dalam sehari. Scroll, scroll, scroll, dan diterpalah kita oleh berbagai asupan yang tidak semuanya positif. Pernah tidak Bu, merasa lelah atau tertekan setelah beberapa waktu sesi browsing di social media? Saya pernah loh. Menurut saya, itu adalah pikiran dan tubuh  saya memberi tanda bahwa asupan online sudan tidak lagi positif. Dr. Kenneth R. Pelletier, PhD, MD dari Stanford Center for Research in Disease Prevention pernah mengatakan, “Pikiran dan tubuh memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan,…

Accepting My Self

My Motherhood Journey started when I was 24 Years old. When I was pursuing my dream, learning life, trying to take the world one step at a time. Saya ingin mekar di dunia, terbang dengan angin, mengikuti suara hati. 24 tahun, rasanya mengenal dunia belum juga cukup. I was so driven to the future, I wasn’t even thinking about marriage, I just want to try everything and try to find out who I am. Universe is saying another thing. There’s a small miracle in my tummy. Satu keajaiban kecil yang muncul, yang ada saat itu masih saya bilang kesalahan. Saya masih berpacaran, baru berpacaran 2 bulan malah. I was so in love with this guy, but I don’t know if I want to spend the rest of my life with him. There, we are two youngster, being adult. Kebaya merah, penghias kepala, peci, kain batik, janur kuning, dan Mahija 3…

A circle of Beautiful Souls

Diperlukan keberanian untuk bercerita kepada orang lain tentang motherhood journey kita, terlebih lagi kepada orang yang sama sekali belum dikenal. Perasaan malu terlihat “lemah” dan takut ketika orang lain men-judge bahwa apa yang kita lakukan itu “salah”. Tidak mudah bagi Saya untuk membuka bagian “termanusiawi” dalam perjalanan cerita menjadi Ibu, karena ada pahit dan pedih disana dan ada orang-orang yang kita cintai dalam kisahnya.  Pergulatan batin, antara ingin mengatakan apa adanya atau memolesnya agar lebih manis, Saya alami saat pertama kali mengikuti Lingkaran Ibu vol. 1 di bulan Desember 2016. Namun, ketika Saya telah berada di dalam Lingkaran, duduk melingkar bersama Ibu lainnya dan mendengar kisah mereka, sesaat itu juga pergulatan batin Saya pun hilang. Rasa takut itu sirna, rasa malu itu lenyap. Saya khusyuk dalam prosesnya. Saya kembali menjadi bagian dalam Lingkaran Ibu vol. 4 pada hari Minggu, 23 April 2017 kemarin. Kali ini Saya duduk melingkar bersama 5…

How To Be A Single Mom

How To Be A Single Mom “Saya orangtua tunggal.” Kalimat itu sudah sering saya ucapkan. Dulu saya merasa risih dan sering kali harus saya ucapkan setengah berbisik tetapi sekarang sudah mulai terbiasa. Ketika saya menikah terbayang di impian saya untuk hidup bersama dengan pasangan saya dalam sehat dan sakit dan dalam susah dan senang; sampai ajal memisahkan kita. Namun hidup pernikahan impian saya kandas, pada usia pernikahan yang sangat muda. Saya menjadi janda cerai yang ditinggal oleh pasangan saya ketika usia pernikahan kami baru memasuki usia 5 tahun. Menjadi janda cerai, khusunya dengan stigma negatif yang ada di masyarakat kita dan budaya Timur kita, adalah hal yang sangat tidak nyaman. Saya beruntung memiliki keluarga yang sangat mendukung saya pada saat yang sulit ini. Mereka hanya meminta fakta lalu membimbing saya untuk menyelesaikan masalah saya dari awal hingga pada akhirnya keluar surat keputusan dari pengadilan. Namun dari lingkup pertemanan banyak orang yang mempertanyakan perihal perceraian saya. Hal yang diihat sebagai tabu ini bagaikan pisau bermata dua,…

Ibu, Ayo urus diri Anda sendiri !

 Why Take Care for Yourself? Karena Ibu adalah entitas penting di dunia ini. Karena memberikan cinta kepada orang lain perlu energi dari diri, dan mencintai diri sendiri adalah hal paling masuk akal . Dalam satu minggu kemarin Saya malas sekali melakukan banyak hal. Padahal to-do list sudah menggunung. Satu minggu sebelumnya, semangat saya berkobar-kobar untuk melakukan banyak hal, I have goals and dreams, I was so cossumed with the idea of the future and forget about the present, What makes it worse, I started to compare my self with others. In this social media world, its so easy for us to love the idea of having someone elses life. Karena goal yang begitu besar, waktu yang terserap banyak untuk memikirkan hal itu, Saya jadi lupa memikirkan diri Saya sendiri. Sehabis mengurus anak, Saya akan memberikan energi yang tersisa untuk bekerja, lalu kembali mengurus rumah, lalu bekerja. Ini seperti pembunuhan karakter…

Navigate