Motherhood

Trimester Pertama : Stop and Listen

Buat saya kehamilan adalah sesuatu yang luar biasa, saya jatuh cinta dengan semua apa yang tubuh saya lakukan. For me, being pregnant is a miracle, menumbuhkan satu makhluk hidup dalam perut, ah rasanya tidak mungkin, saya yang sembrono, kadang  meledak-ledak bisa diberikan Tuhan Alam Semesta, kehidupan lain di perut saya. Bahkan semua keajaiban di hidup saya terjadi karena kehamilan. Tapi keajaiban tidak melulu dimulai dengan indah dong. Kalau kamu sudah lama mengikuti blog @haloibu.id, pasti tahu bahwa dulu saya hamil saat baru berkenalan dengan Ray selama 3 bulan, kami menikah saat saya mengandung Mahija 3 bulan, dan melahirkan saat menikah 6 bulan. Everything was fast, I cant event digest. Memulai kehamilan bukan momen terfavorit dalam hidup saya. Memberitahukan semua orang tentang saya akan menikah dan hamil apalagi. Lima tahun lalu rasanya saya tidak suka dengan topik kehamilan. I hated it. Tapi saat hamil saya bisa berdamai, bertemu Robin Lim, Lanny Kuswandi, Reza…

#Charitees

Buat saya kata-kata mempunyai kekuatan besar dan kuat. Keberdaan kita di dunia ini, peradaban di dunia ini di mulai dari tulisan. Pengetahuan dapat turun menurun dirasakan semua orang karena tradisi menulis. Fast foward, zaman social media seperti sekarang, 160 karakter di twitter bisa menggerakkan massa untuk demo, caption instagram bisa membuat satu dunia posting #ootd atau #throwbackthursday . Kata-kata menjadi indah dan manfaat jika diputuskan, tapi kata-kata bisa juga jadi satu yang negatif kalau kita meyakini dan membiarkan. Satu comment pada postingan seperti ;   ‘kenapa anak kamu pakai metode BLW sic ? ‘, ‘Ngapain sic lahiran di rumah?’ , ‘Hah. kamu cesar’, ‘Kamu jadi ibu rumah tangga? yakin’ , ‘ Bekerja? mau Nelantarin anak ?’.  https://www.youtube.com/watch?v=MFmw_7Zme_A Little words, with strong effects. Januari 2017, satu hari setelah Presiden Donald Trump inagurasi, perempuan berbaris, berjalan bersama menyerukan suara mereka. Suara-suara kesetaraan hak perempuan pada semua area. Salah satunya hak…

Festival Lahir

“Saat seorang anak lahir ke dunia, seorang ibu pun terlahirkan.” – unknown. Minggu, 19 Desember 2017 lalu merupakan hari yang istimewa untuk Nujuh Bulan Studio karena mereka merayakan ulangtahunnya yang kedua dengan mengadakan event Festival Lahir. Festival Lahir adalah sebuah acara untuk merayakan kekuatan perempuan dalam perjalanan kehamilan, persalinan, dan menjadi seorang ibu. Dukungan penuh kepada ibu sangatlah penting karena ibu adalah tonggak utama keluarga, pendidik terbaik untuk anak sebagai penerus bangsa, generasi masa depan. ‘Karena setiap ibu perlu dukungan dan setiap insan perlu sosok ibu’, tagline itulah yang menjiwai Festival Lahir, untuk merayakan kelahiran ibu, bayi, dan semua yang terlahir baru dalam momen melahirkan. Bertempat di Bumi Apsari, Jakarta Selatan, Festival Lahir dikemas dengan sangat indah. Dihiasi dengan  foto-foto persalinan yang disusun dalam rangkaian, juga kata-kata penuh cinta dan semangat dari para ibu yang digantung rapi menjadi background sebuah pojokan piknik. Para pengunjung pun larut dalam aura cinta…

Ibu and Self Actualization

Saya percaya bahwa kita tidak akan mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan orang lain jika kebutuhan diri kita sendiri pun belum terpenuhi. Bukannya mau egois, tapi, bahkan dalam panduan keselamatan di pesawat kita dianjurkan untuk lebih dulu mengenakan masker oksigen sebelum membantu orang lain kan? 😊 Sementara itu, menjadi seorang ibu berarti menerima kenyataan bahwa ada mahluk kecil yang sepenuhnya bergantung pada kita dan support system kita untuk tetap hidup. Tak perlulah kita bahas soal jam tidur yang memendek, jadwal salon yang berantakan, atau acara jalan- jalan dan ngopi bersama girl gang yang jauh berkurang – saya rasa kita sudah sama-sama ikhlas. Mari bicara soal kebutuhan yang lebih kompleks dan sering kita tidak sadari, yaitu self actualization atau aktualisasi diri. Menurut Abraham Maslow, bapak Psikologi modern, kebutuhan manusia dapat dikelompokkan secara berurutan sebagai berikut; Kebutuhan fisiologis; sandang, pangan dan papan Kebutuhan akan rasa aman Kebutuhan akan kasih sayang (affection) Kebutuhan akan penghargaan…

Kumpul di Fabelio / Lingkaran Kita Volume 2

“Energy is contagious. It doesn’t die. Saat kita berada di dekat orang yang bahagia, bawaannya juga pasti jadi happy. Because energy will circulate around you. Just like today, I am so happy to be with all of you,” tutur Ashtra membuka perbincangan pada acara Lingkaran Kita x Fabelio: Kumpul bersama Fabelio vol 2 hari Sabtu 28 Oktober 2017 kemarin di Fabelio Showroom. Fabelio sendiri adalah sebuah situs belanja online dalam bidang furniture yang menghubungkan antara pembeli dan penjual dengan beragam furniture berkualitas tinggi. Seperti tagline dari Fabelio “At Fabelio, we believe in bringing comfort to your home through design” Fabelio ingin mewujudkan surga di dalam rumah karena keindahan, kenyamanan, dan kehangatan menjadi fokus dari setiap produk yang ada di Fabelio. Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Sejak pagi tim haloibu dan Fabelio sudah sibuk menyiapkan segala persiapan dan printilan yang dibutuhkan untuk acara yang merupakan kerjasama kedua belah pihak ini.…

How to Create Unjudgemental Conversation

Halo ibu, kemudahan untuk mendapatkan akses informasi di jaman sekarang ini, kadang membuat seorang ibu merasa paling tahu segala hal. Sehingga, ibu begitu mudahnya dengan atau tanpa sadar men-judge ibu lain saat sedang berbincang-bincang. Contoh dari pengalaman saya sendiri, ketika sedang bercerita tentang anak saya yang pernah susah makan, lawan bicara saya yang juga seorang ibu menanggapinya dengan jawaban “masakanmu kurang enak kali.. atau kamu kurang disiplin atur waktu makan dia dari sejak bayi. Makanya harus teratur waktu makannya” Contoh lainnya, ketika saya bercerita bahwa (waktu itu) anak saya suka memukul temannya, ibu lain yang usianya lebih tua dari saya menanggapi dengan jawaban “Nah, itu pasti ibunya suka memukul! Nggak mungkin anaknya suka mukul kalau nggak ada contoh. Pasti deh ibunya suka memukul” Tanpa bertanya terlebih dahulu, tanpa menggali informasi lagi, seorang ibu yang merasa lebih pengalaman dan lebih banyak pengetahuan berkata demikian. Jika sudah kenal dekat dengan lawan bicara,…

Ibu Juga Manusia

“Don’t judge a situation that you’ve never been in” sepertinya adalah kalimat yang tepat mewakili apa yang saya simpulkan setelah duduk bersama dalam lingkaran cinta ibu-ibu Surabaya pada hari Minggu, 14 Mei yang lalu. Betapa kita tidak punya hak sedikit pun untuk memberikan penilaian terhadap apa yang dialami dan dilakukan orang lain, dalam hal ini ibu lain, karena kita tidak ada di posisi mereka. Kalaupun ada kemiripan cerita, tetap saja situasi, kondisi, ‘pemeran pendukung’ dalam kisah hidup masing-masing sama sekali berbeda, dan yang terpenting adalah karena kita tidak merasakan yang mereka rasakan, we don’t feel what they feel. Sebuah kemewahan bagi saya yang seorang Psikolog bisa mencurahkan isi hati dan kekhawatiran sebagai ibu selama ini kepada ibu-ibu lain yang belum terlalu saya kenal baik. Selama ini saya terbiasa mendengarkan kisah orang lain dan berusaha membantu orang lain, termasuk para ibu, untuk menemukan solusi terbaik bagi permasalahannya masing-masing.…

Berdamai dengan Diri Sendiri

Mastitis yang disertai infeksi bakteri berat membuat saya harus dirawat selama 2 minggu di rumah sakit dan menghilangkan kemampuan saya untuk menyusui. Padahal, saat itu usia putri saya baru 1 bulan. Sakit hati karena ucapan nyinyir orang tentang “Aduh, harusnya begini dan begitu”, rasa iri setiap melihat ibu lain yang berhasil mengASIhi, semua tidak sebanding dengan perasaan bersalah yang saya rasakan terhadap putri saya. Saya tahu saya sudah gagal dalam salah satu fase paling penting di hidupnya. Dua tahun setelah itu, tak pernah sehari pun saya hidup tanpa rasa bersalah. Saya menyesali tidak berhasil menemukan tenaga medis yang lebih bisa diandalkan. Saya mengutuki diri saya mengapa tidak lebih awal mencari informasi. Melihat putri saya yang sedang minum susu formula membuat saya ingin menangis. Saya tahu penyesalan tidak akan mengubah waktu yang sudah berlalu, tapi tetap saja sulit untuk mengikhlaskan kegagalan yang satu ini. Sampai di satu titik saya sadar, menyalahkan…

Kenapa #ibuberdaya?

Berawal dari pilkada DKI yang secara massif mudah ditemukan banyak pengguna socmed menjadi korban dari bisnis ujaran kebencian hasil karya sekelompok orang yang sudah dipesan oleh pelaku politik di negeri ini. Hasilnya kita semua tahu sungguh sukses dan fantastis bisnis kebencian ini dilakukan oleh anak-anak kecil, remaja, bapak-bapak, dan ( yang paling menyedihkan buat gue ) ibu-ibu! Banyak ditemukan postingan nyinyir, sinis, marah, umpatan enggak pantas yang ditemui di akun-akun social media ibu-ibu. Seolah enggak mau kalah berlomba-lomba sama kaum muda dan para bapak untuk serta terdepan menjauhi sopan santun, tutur kata baik, menghormati, menghargai orang lain, bertoleransi dan juga menjauhi empati. Puncak keresahan adalah ketika menemukan postingan seorang ibu yang sungguh manis dan religius, berkata sangat kasar ( menurut gue sih kasar ya ) dan tidak pantas kepada ibu lain yang sedang kena musibah dan sedang amat sangat kesusahan. Wow. Percayalah,  jika kejadian itu berbalik menimpa si ibu nyinyir,…

Apa Saya Terkena Postpartum Depression ?

Menurut saya, melahirkan anak dan mengalami post- partum depression itu layaknya bermain Russian Roulette. Kita tidak tahu siapa yang akan kebagian selongsong berpeluru. Karena, tak peduli betapapun kita sudah menyiapkan mental dan merapikan birth plan serta check list, post- partum depression tetap saja bisa menyerang. Saya mengalami post- partum depression setelah melahirkan putri saya. Sayangnya, saya tidak menyadarinya sampai setidaknya setahun setelah itu terjadi. Kenapa? Karena saya tidak melihat diri saya sebagai target empuk post-partum depression. Terbiasa mengerjakan proyek-proyek dalam skala cukup besar, saya selalu mempersiapkan semua hal secara detail dan sejak jauh hari sebelumnya. Saya membuat check-list dalam bentuk excel untuk keperluan bayi, dan semuanya sudah terbeli 2 bulan sebelum HPL. Saya juga rutin menemui konsultan laktasi dan rajin ikut senam hamil. Saya tidak mudah panik, tidak hobi memperkarakan masalah kecil, dan saya akan menghabiskan masa post-partum di rumah orang tua saya, tempat dimana saya tumbuh dewasa. Saya pikir,…

Navigate