Mutia

8 Posts Back Home
A mother, writer, entrepreneur and marketer, wishing to empower.

Ibu dan Sosial Media (bagaimana memanfaatkan sosial media yang baik)

Ibu, kadang bersosial media bisa jadi melelahkan. Di samping banyaknya kampanye politik terselubung dan konten hoax, sosial media seringkali membuat kita tanpa sadar membandingkan diri dengan orang lain. Selebgram A yang anaknya sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi. Teman kita si B yang tampaknya selalu punya uang untuk liburan ke berbagai tempat. Artis C yang baru 2 minggu melahirkan tapi sudah kembali ke bentuk badan semula. Huft. Inhale – Exhale. Sebelumnya HaloIbu pernah membahas bagaimana memilah konten positif dari negatif. Kita tentu bertanggung jawab penuh pada konten yang kita konsumsi di social media. Kita mendedikasikan waktu dan kuota mengakses social media. Kalau sedang lupa, social media malah bisa mengalihkan perhatian kita saat bermain dengan anak. Jadi, pastikan kita hanya menggunakannya untuk hal- hal positif. Tak perlulah kepo berita seorang artis karbitan yang pura-pura hamil, atau berbalas komen pedas dengan seorang yang tidak kita kenal dan mungkin tidak akan pernah kita…

Charitees : We Send Your Message!

Di Haloibu kami meyakini 3 hal dengan sepenuh hati; Ketika seorang ibu mendukung ibu lainnya, kita bisa menciptakan hal yang luar biasa, Ketika kita melakukan sesuatu dengan hati, hasilnya akan menyentuh banyak hati lainnya, dan Ketika kita menebar kebaikan, energinya akan berbalik pada kita. Hal inilah yang kemudian membuat kami memulai proyek Charitees bersama dengan Matroishka. Lewat T-shirt berisi kata- kata dukungan, kami ingin mengingatkan para ibu di Indonesia bahwa mereka kuat dan berharga. Lewat hasil penjualannya, kami mengajak para ibu untuk mendukung perempuan lain yang kurang beruntung. Semangat ini jugalah yang dimiliki Ibu Robin Lim, seorang bidan di Ubud, Bali, yang meyakini bahwa para perempuan harus diberi dukungan untuk mempercayai hati dan tubuhnya sendiri ketika melahirkan seorang anak ke dunia. Dengan semangat ini, Ibu Robin Lim telah membantu banyak ibu dan bayi untuk melewati proses kelahiran yang damai, penuh cinta dan dukungan. Ibu Robin Lim juga banyak membantu…

Womens March Start at Home

Belakangan, timeline kita penuh dengan pemberitaan ataupun post tentang #womensmarch. Mungkin untuk kebanyakan dari kita, gerakan ini belum menjadi sesuatu yang populer. Tapi, di negara- negara lain yang sudah lebih maju seperti Amerika, UK dan Australia, gerakan ini telah menjadi event tahunan yang dirayakan oleh ratusan ribu perempuan. Dimulai di Amerika, geraka #womensmarch bertujuan untuk memperjuangkan hak- hak azasi perempuan, seperti kesetaraan gender, hak reproduksi, perlindungan dari pelecehan maupun kekerasan seksual, hingga penyetaraan gaji dan benefit dari tempat bekerja. Di Indonesia sendiri, isu yang agaknya banyak dibahas dalam momen #womensmarch tahun ini adalah perlindungan terhadap kekerasan seksual, dan penolakan terhadap victim blaming. mengundang perdebatan. Ibu, kita adalah sekolah moral pertama anak- anak kita. Sudah tanggung jawab kita untuk menciptakan generasi yang memahami cara memperlakukan sesama manusia dengan hormat dan penuh kasih. Meskipun tahun ini kita tidak turun ke jalan untuk merayakan #womensmarch, izinkan saya untuk menawarkan beberapa alternatif cara untuk…

Our Thoughts with Evy: Fighting Postpartum Depression

Malam itu, Evy mengajak ketiga anaknya yang masih kecil ke kamar mandi rumahnya sambil membawa sebotol racun serangga. Tujuannya cuma satu, mengakhiri hidup mereka bersama-sama. Ketiga buah hatinya meninggalkannya selamanya, tapi Evy bangun keesokan paginya. Sendirian, menghadapi penyesalan dan penghakiman yang tidak terkira pedihnya. Tak akan ada yang tahu sepenuhnya apa yang ada di benak Evy malam itu. Mungkin, ia muak menunggu suami yang tidak pernah lagi mengunjunginya, apalagi menafkahinya dengan layak. Mungkin, ia terguncang menerima kabar rencana suaminya untuk menikah lagi. Mungkin, ia kesepian tanpa seorangpun yang bisa diajak bicara tentang masalahnya. Mungkin, ia putus asa akan masa depan anak-anaknya yang gelap tanpa selembarpun dokumen resmi, akibat status pernikahannya yang tidak sah di mata hukum. Sebagai sesama ibu, kita pasti bisa langsung melihat bahwa Evy menderita postpartum depression. Sayangnya, tidak semua orang memahaminya sehingga gejala- gejala awal yang dialami Evy tidak ditangani dengan serius. Di Indonesia sendiri, kasus postpartum…

Ibu and Self Actualization

Saya percaya bahwa kita tidak akan mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan orang lain jika kebutuhan diri kita sendiri pun belum terpenuhi. Bukannya mau egois, tapi, bahkan dalam panduan keselamatan di pesawat kita dianjurkan untuk lebih dulu mengenakan masker oksigen sebelum membantu orang lain kan? 😊 Sementara itu, menjadi seorang ibu berarti menerima kenyataan bahwa ada mahluk kecil yang sepenuhnya bergantung pada kita dan support system kita untuk tetap hidup. Tak perlulah kita bahas soal jam tidur yang memendek, jadwal salon yang berantakan, atau acara jalan- jalan dan ngopi bersama girl gang yang jauh berkurang – saya rasa kita sudah sama-sama ikhlas. Mari bicara soal kebutuhan yang lebih kompleks dan sering kita tidak sadari, yaitu self actualization atau aktualisasi diri. Menurut Abraham Maslow, bapak Psikologi modern, kebutuhan manusia dapat dikelompokkan secara berurutan sebagai berikut; Kebutuhan fisiologis; sandang, pangan dan papan Kebutuhan akan rasa aman Kebutuhan akan kasih sayang (affection) Kebutuhan akan penghargaan…

Berdamai dengan Diri Sendiri

Mastitis yang disertai infeksi bakteri berat membuat saya harus dirawat selama 2 minggu di rumah sakit dan menghilangkan kemampuan saya untuk menyusui. Padahal, saat itu usia putri saya baru 1 bulan. Sakit hati karena ucapan nyinyir orang tentang “Aduh, harusnya begini dan begitu”, rasa iri setiap melihat ibu lain yang berhasil mengASIhi, semua tidak sebanding dengan perasaan bersalah yang saya rasakan terhadap putri saya. Saya tahu saya sudah gagal dalam salah satu fase paling penting di hidupnya. Dua tahun setelah itu, tak pernah sehari pun saya hidup tanpa rasa bersalah. Saya menyesali tidak berhasil menemukan tenaga medis yang lebih bisa diandalkan. Saya mengutuki diri saya mengapa tidak lebih awal mencari informasi. Melihat putri saya yang sedang minum susu formula membuat saya ingin menangis. Saya tahu penyesalan tidak akan mengubah waktu yang sudah berlalu, tapi tetap saja sulit untuk mengikhlaskan kegagalan yang satu ini. Sampai di satu titik saya sadar, menyalahkan…

Apa Saya Terkena Postpartum Depression ?

Menurut saya, melahirkan anak dan mengalami post- partum depression itu layaknya bermain Russian Roulette. Kita tidak tahu siapa yang akan kebagian selongsong berpeluru. Karena, tak peduli betapapun kita sudah menyiapkan mental dan merapikan birth plan serta check list, post- partum depression tetap saja bisa menyerang. Saya mengalami post- partum depression setelah melahirkan putri saya. Sayangnya, saya tidak menyadarinya sampai setidaknya setahun setelah itu terjadi. Kenapa? Karena saya tidak melihat diri saya sebagai target empuk post-partum depression. Terbiasa mengerjakan proyek-proyek dalam skala cukup besar, saya selalu mempersiapkan semua hal secara detail dan sejak jauh hari sebelumnya. Saya membuat check-list dalam bentuk excel untuk keperluan bayi, dan semuanya sudah terbeli 2 bulan sebelum HPL. Saya juga rutin menemui konsultan laktasi dan rajin ikut senam hamil. Saya tidak mudah panik, tidak hobi memperkarakan masalah kecil, dan saya akan menghabiskan masa post-partum di rumah orang tua saya, tempat dimana saya tumbuh dewasa. Saya pikir,…

Your Mind is Your Garden

HaloIbu! Saya yakin Ibu tahu istilah garbage in – garbage out. Apapun yang kita keluarkan dari tubuh kita, baik itu energi, ucapan, gestur maupun perbuatan, adalah produk dari asupan yang kita izinkan memasuki sistem tubuh dan jiwa kita. Untuk menjadi #ibuberdaya, kita perlu memilah dan memproses semua asupan yang ‘layak’ masuk ke sistem kita. Sementara itu, setiap harinya tanpa sadar, Saya nyaris tidak bisa lepas dari social media. Minimal, 1 jam sesi buka Instagram deh dalam sehari. Scroll, scroll, scroll, dan diterpalah kita oleh berbagai asupan yang tidak semuanya positif. Pernah tidak Bu, merasa lelah atau tertekan setelah beberapa waktu sesi browsing di social media? Saya pernah loh. Menurut saya, itu adalah pikiran dan tubuh  saya memberi tanda bahwa asupan online sudan tidak lagi positif. Dr. Kenneth R. Pelletier, PhD, MD dari Stanford Center for Research in Disease Prevention pernah mengatakan, “Pikiran dan tubuh memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan,…

Navigate