Husna Ika Putri Sari

6 Posts Back Home
Ibu rumah tangga dan psikolog pendidikan yang saat ini berdomisili di Surabaya. Penulis Buku Catatan Mainan DIY anak. Suka berbagi ide bermain lewat Instagram dan Youtube Channel Ibu Raka Rayi.

Ibu Juga Manusia

“Don’t judge a situation that you’ve never been in” sepertinya adalah kalimat yang tepat mewakili apa yang saya simpulkan setelah duduk bersama dalam lingkaran cinta ibu-ibu Surabaya pada hari Minggu, 14 Mei yang lalu. Betapa kita tidak punya hak sedikit pun untuk memberikan penilaian terhadap apa yang dialami dan dilakukan orang lain, dalam hal ini ibu lain, karena kita tidak ada di posisi mereka. Kalaupun ada kemiripan cerita, tetap saja situasi, kondisi, ‘pemeran pendukung’ dalam kisah hidup masing-masing sama sekali berbeda, dan yang terpenting adalah karena kita tidak merasakan yang mereka rasakan, we don’t feel what they feel. Sebuah kemewahan bagi saya yang seorang Psikolog bisa mencurahkan isi hati dan kekhawatiran sebagai ibu selama ini kepada ibu-ibu lain yang belum terlalu saya kenal baik. Selama ini saya terbiasa mendengarkan kisah orang lain dan berusaha membantu orang lain, termasuk para ibu, untuk menemukan solusi terbaik bagi permasalahannya masing-masing.…

Loving Approach in Parenting: Menumbuhkan Hati yang Baik pada Anak

Ilustrasi : @perempuangimbal Tulisan oleh : Iput @iburakarayi Beberapa waktu lalu saya pernah cerita di sebuah postingan sosial media ketika Rayi tidak sengaja menabrak Raka saat sedang bermain bersama dan tangannya mengenai mata Raka hingga Raka kesakitan. Agak lama Raka mengeluhkan matanya yang sakit sementara Rayi masih lari-lari cuek. Ketika itu saya hanya cek matanya Raka lalu memeluknya. Di keluarga kami, kami punya prinsip kalau pelukan insyaAllah bisa menyembuhkan segala sesuatu, karena dengan pelukan perasaan jadi tenang dan ketenangan itu kunci untuk menyembuhkan luka, at least mengurangi rasa sakitnya. Ternyata Rayi mengintip dari jauh ketika ibu memeluk Raka dan Rayi pun inisiatif meminta maaf karena sudah membuat Raka kesakitan. Mungkin karena melihat saya memeluk Raka dan tidak memarahinya, Rayi jadi tersentuh untuk meminta maaf. Mungkin karena Raka sudah tenang setelah saya peluk, jadilah ia dengan mudah mau memaafkan Rayi. Setelah itu yang membuat kaget, Raka bilang ke saya “Bu,…

Kapan Anak Siap Berbagi?

Oleh Iput “Dek, mainan ini nanti boleh dipinjem nggak sama temennya?” “Enggak!” “Yang boleh dipinjem yang mana?” “…..” “Ini boleh ya?” “Enggak!” Kira-kira begitu isi percakapan saya dan Rayi, saat mau berangkat arisan dengan ibu-ibu sekolahnya Raka . Saya tentu harus membawakan beberapa mainan supaya Rayi tidak bosan saat arisan. Di saat bersamaan Saya juga tahu kalau akan ada beberapa Ibu yang membawa anaknya, jadi Saya harus mempersiapkan Rayi siapa tahu ada anak yang tertarik pada mainannya dan ingin bermain bersama. Sayangnya, anak seusia Rayi baru bisa bermain bersama-sama alias memainkan mainan yang berbeda pada waktu bersamaan, bukan berbagi mainan. Jadi Saya juga sudah menebak jawabannya pasti “Enggak!’ ketika Saya tanya mainannya boleh dipinjam atau tidak. Untungnya selama arisan anak-anak yang lain sibuk main gadget hehe.. Jadi Rayi bisa tenang memainkan mainannya sendiri. Begitulah salah satu keseruan punya anak balita. Di satu sisi kita ikutan senang kalau anak bisa playdate dengan…

It Takes A Village To Raise Our Children

by Ibu Raka Rayi / Iput “Parents sometimes worry that they don’t have the money, they don’t have the time, they can’t buy they children fancy toys… It’s not those toys.. You’re the most important thing in that child’s life. It’s YOU, you’re the best teacher, you’re the first teacher. And it’s the things that come for free. It’s your words, it’s your love, it’s your play… It’s the connection that you build between you and your child, that means all the difference in the world.” Mungkin akhir-akhir ini sudah sering melihat dan mendengar tentang gerakan nonton bareng alias nobar film The Beginning Of Life yang diselenggarakan oleh Temantakita.com dan Ashoka Indonesia. Siapa saja boleh mendaftar untuk menjadi penyelenggara kegiatan ini di komunitasnya, di seluruh Indonesia. Film ini merupakan film dokumenter berbasis gerakan yang direlease oleh Unicef dan Maria Farinha Film untuk mengajak siapapun menjadi pembuat perubahan di masyarakat.…

Menghadapi Anak Tantrum?

Mungkin pernah mendengar quotes “Mother’s love to her kids is unconditional, but her temper is another subject.”  Sepertinya quote itu benar ya, apalagi ketika anak sedang tidak bisa diajak bekerjasama, misalnya saat sedang tantrum. Bisa-bisa orang tuanya juga ikut tantrum.. hehe.. Tantrum merupakan perilaku agresif yang tidak terkendali seperti menangis, menjerit, memukul, menendang, atau berguling-guling. Tantrum biasanya muncul pada anak usia 0 sampai 3 tahun ketika Ia mengalami situasi yang mengecewakan atau tidak menyenangkan. Misalnya, saat ia tidak berhasil melakukan sesuatu atau saat permintaannya tidak dipenuhi oleh orang tua. Sayangnya kemampuan verbal yang dimiliki oleh anak seusia ini masih terbatas, sehingga emosi negatif yang Ia rasakan ditunjukkan melalui perilaku tantrum. Perilaku tantrum menjadi berbahaya apabila yang dilakukan anak dapat menyakiti dirinya sendiri dan orang lain atau menimbulkan kerusakan terhadap benda di sekitarnya. Seingat saya, saat usia 0-3 tahun, Raka tidak pernah tantrum hingga berguling-guling atau menyakiti dirinya sendiri dan orang…

JANGAN BILANG ‘JANGAN’

Dear Ibu, Pasti sudah sering dengar kalau orang tua dilarang bilang ‘jangan’ ke anaknya. Tapi sama seperti anak, makin dilarang, kok makin sering keluar kata ‘jangan’ ya dari mulut kita hehe.. Bedanya, cara berpikir dan kemampuan orang tua dalam mengatur emosi tentu sudah lebih baik dan matang daripada anak-anak. Karena itu orang tua bisa melatih kemampuannya dalam berkomunikasi positif, termasuk mengurangi penggunaan kata ‘jangan’. Jadi mengurangi saja? Bukan meniadakan? Tentu bukan dong. Kata ‘jangan’ boleh dan kadang perlu diucapkan kok untuk situasi dan kondisi tertentu, seperti ketika anak berlarian di jalan raya, mau memegang api, atau melakukan hal lain yang bersifat darurat atau bahaya. Perlu diingat bahwa setiap memberikan larangan kepada anak, wajib disertai dengan alasan atau alternatif kegiatan lain. Misalnya, “Jangan pegang api, karena api panas dan tanganmu bisa terbakar” atau “Jangan mainan pintu, nanti tanganmu terjepit. Kalau kamu sedang bosan, kita baca buku saja, yuk!” Berdasarkan pengalaman saya…

Navigate