Menjadi Ibu di perantauan

 

Halo ibu!

Saya Gita, Ibu dari Gladys dan Gwenaëlle. Kali ini saya mau cerita sedikit awal perjalanan saya menjadi Ibu di Prancis. Sebuah negara di Benua Eropa yang tergolong unik budayanya dan sangat indah.

Perjalanan saya menjadi Ibu dimulai di kota kecil bernama Bourges. Tahun 2013 sampai awal 2016 mungkin hanya saya satu-satunya orang Indonesia. Rasanya asing sekali saat itu, semuanya terasa aneh. Menjadi Ibu di negri yang belum saya kenal sepenuhnya. Ibu saya datang untuk menjenguk dan menemani selama sebulan. Tapi, ketika beliau pulang ke Indonesia, perasaan asing dan kosong itu kembali hadir.

Menjadi Ibu, Jauh dan Sendiri.

Seperti umumnya ibu di sini yang mengerjakan semua sendiri, saya pun mencobanya. Mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi. Saya yang terbiasa dengan kehidupan ala Asia dengan bala bantuan dari keluarga merasa terseok-seok dengan kebiasaan baru yang mengharuskan saya dan suami gotong royong mengerjakannya.

Tapi yang paling menyiksa adalah perasaan sepi karena budaya di tempat yang saya tinggali sekarang jauh berbeda dengan kampung halaman. Tidak ada warung yang selalu buka setiap saat. Tidak bisa asal cari ART (Asisten rumah tangga), karena bayarnya per jam. Tidak ada abang makanan di pinggir jalan. Tidak ada ojek supaya cepat sampai ke tujuan kalau terlambat. Menitipkan anak di daycare lazimnya didaftarkan sejak masih hamil. Karena kami baru tahu belakangan tentang aturan ini, Gladys kami urus penuh waktu sampai akhirnya dapat pengasuh di saat Gladys umur 9-10 bulan.

Kehidupan terasa cepat dan dinamis di luar sana sedangkan hari-hari saya berjalan lambat sekali. Menjadi Ibu di negri asing juga melatih saya mengasah intuisi sesering mungkin. Tidak ada keluarga dekat yang dapat dimintai saran karena nggak bisa melihat langsung kesulitan kami, terutama dalam mengurus Gladys atau ketika dia sakit. Saya dan suami benar-benar bahu membahu. Kalau Gladys sakit, dia lah yang jadi andalan saya, apalagi kalau malamnya saya nggak tidur. Saya pun jadi andalan dia, karena di pelukan saya saja Gladys bisa tenang.

Ada keuntungan sendiri sebenarnya hidup jauh dari keluarga. Kami berdua menjadi lebih mandiri dan di umur Gladys yang hampir empat tahun ini, kami bisa menerapkan aturan yang sesuai dengan visi kami sebagai orangtua kepada Gladys. Perbedaan budaya yang besar antara keluarga saya dan suami juga saya anggap sebagai keuntungan karena mertua saya enggan dititipkan Gladys lebih dari seminggu, selain karena rumah yang jauh juga karena mereka di usianya yang lanjut mereka punya kesibukan sendiri. (kecuali tentunya pada kasus darurat, seperti waktu saya melahirkan anak kedua). Hampir tidak pernah keluarga suami saya turut campur dalam mengurusi Gladys.

Beradaptasi dengan Budaya.

Saya belajar dari ibu-ibu disini yang budayanya sangat berbeda sekali dengan budaya asal saya. Terutama belajar untuk lebih efektif dan menghemat waktu. Saya suka memasak, dan masakan rumah yang natural dan sederhana untuk keluarga memang menjadi prioritas saya. Walaupun saya suka sekali masakan Indonesia, tapi mengupas dan mengulek bawang perlu waktu banyak, belum lagi bumbu-bumbu lainnya yang harus dihaluskan. Seiring waktu saya temukan cara saya sendiri untuk memasak, bukan masakan Indonesia bukan juga masakan Prancis. Ini masakan saya sendiri dengan cara saya yang jauh lebih efektif dan sehat. Tak jarang menu vegetarian menjadi andalan saya, walapun kami bukan vegetarian.

Disini, jalan-jalan di hutan ataupun gunung dengan anak-anak adalah hal yang lumrah. Anak-anak terbiasa membaca peta dan berkegiatan di alam sejak masih kecil. Maka dari itu mengajak Gladys dan Gwen camping sejak mereka masih 9 bulan bukanlah suatu kesulitan untuk kami. Akhir pekan biasanya saya tidak memasak. Kami gunakan kesempatan ini untuk makan di restoran atau berada di luar menikmati matahari, terutama mulai bulan Mei sampai September, saat cuaca sudah mulai hangat. Biasanya kami pergi ke pasar tradisional, bersepeda keliling hutan, sepanjang sungai, mengitari danau, lalu piknik di taman. Kalau sedang musim dingin, biasanya kami akan pergi ke perpustakaan atau ke playground indoor yang merupakan fasilitas dari walikota. Di Prancis, setiap hari Rabu, perempuan memiliki hak cuti setengah hari tidak dibayar. Waktu ini banyak dimanfaatkan oleh ibu untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak. Oleh karena itu hari bersekolah disini adalah 4,5 hari.

Mulai Punya Teman.

Tahun pertama saya tinggal di sini, saya ikut kursus Bahasa Prancis yang dibuka gratis untuk umum. Dari situ saya mulai punya teman, yang kebetulan mix couple seperti kami. Jadilah pertemanan itu berlanjut di kehidupan sehari-hari. Bertukar budaya dan kuliner melalui pot luck sering sekali kami lakukan. Rasanya hangat, punya teman-teman yang banyak kesamaan dengan kami dan dapat bertukar cerita. Ini yang saya rindukan selama ini.

Datang ke pertemuan Ibu 3L (la Lèche League) setiap bulan juga membantu saya menemukan lingkaran saya; lingkaran Ibu menyusui. Saya mendapat teman dan dukungan ditambah konselor yang sempat membantu saya dan Gladys saat beratnya stuck di bulan keempat.

Pindah ke Versailles

Tahun 2016 menjadi penutup cerita kami di Bourges. Saya kembali mulai dari 0 setelah tiga tahun susah payah menemukan diri yang baru. Rasanya sulit diungkapkan. Sepertinya baru kemarin saya susah payah menemukan teman dan aktivitas yang seru, eh sudah harus pindah lagi. Padahal bisa dibilang, saya baru saja ajeg dengan kehidupan di Bourges. Ada rasa sedikit patah hati ketika harus pindah. Meninggalkan teman-teman adalah yang terberat. Membayangkan saya akan nggak punya teman lagi di tempat baru untuk beberapa waktu rasanya menakutkan. Tapi di sisi lain, Versailles menawarkan banyak kesempatan. Kota yang lebih besar, lebih dekat ke Paris. Pastinya akan ada lebih banyak orang Indonesia yang tinggal di sana. Atau lebih banyak komunitas feminis yang aktif atau pelatihan yoga yang variati, dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang mengasyikan.

Menjadi Ibu untuk Kedua Kalinya

Kota kecil di lembah bièvre, berjarak 2km dari Versailles itu bernama Buc. Tidak seperti Bourges, disini beberapa langkah dari rumah sudah hutan. Rumah kami begitu dekat dengan alam. Menghabiskan akhir pekan tanpa harus ke shopping mall terlampau mudah disini. Kehamilan dan kelahiran Gwen kami lewatkan disini. Semua terasa labih mudah dijalani sekarang, karena saya tak lagi membandingkan dunia luar yang cepat dengan kehidupan sebagai Ibu (baru melahirkan) yang pelan. Kami pun akhirnya menemukan tetangga orang Indonesia. Beliau yang banyak membantu kami selama kehamilan dan masa 40 hari setelah melahirkan dan sampai saat ini bisa dibilang beliau sudah seperti keluarga kami. Entah gimana jadinya kalau nggak ketemu dia.

Bersama suami dan anak-anak

Kadang dalam hidup, kita perlu ‘mengiyakan’ semua rencana semesta tanpa mempertanyakannya, menjalaninya tanpa tahu apa yang ada di depan sana. Diving into the unknown.

Kehidupan Sehari-hari Saya Sekarang

Di umur Gwen yang 9 bulan, saya mulai kembali ke ritme saya. Pagi mengantar Gladys ke sekolah. Biasanya ini rutinitas suami saya tapi belakangan ada banyak kendala dengan transportasi umum yang mengharuskan dia berangkat jauh lebih pagi. Setelah mengantar Gladys ke sekolah saya  belanja sayur dan roti sedikit di toko kecil dekat rumah. Lalu pulang dengan keranjang stroller penuh barang, digantung di sana sini. Kemana-mana saya jalan kaki atau naik sepeda karena memang saya belum punya sim. Naik sepeda disini cukup aman dan umum. Kalau saya naik sepeda Gwen saya bonceng di belakang, dengan siege velo atau remorque à velo. Atau kalau musim dingin, saya lebih memilih naik bis dan Gwen di stroller. Setiap hari saya hanya punya waktu kurang lebih satu jam di pagi hari untuk memasak makan siang dan satu jam di sore hari untuk masak makan malam, itupun sambil mengasuh Gwen.

Di Buc saya dibantu oleh art yang datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah selama tiga jam. Kami merasa terbantu oleh adanya dia yang bekerja sejak Gwen lahir.

Me Time

Sejak Gwen umur 7 bulan, saya dan suami sepakat agar saya memiliki waktu untuk saya sendiri. Biasanya dua-tiga kali dalam sebulan saat akhir pekan saya pergi sendiri, tanpa anak-anak. Me time seringkali saya gunakan untuk ikut workshop Kundalini Yoga, konsultasi dengan psikolog atau sekedar jalan-jalan ke Paris, lihat pameran, museum, taman bunga, atau sekedar ngopi. Kadang sendirian saja, kadang sama teman-teman Indonesia yang tinggal di Paris. Rasanya? Wah..mewah sekali. Saya pulang ke rumah dengan hati yang penuh. Betapa berharganya waktu-waktu saya sendiri tanpa anak-anak juga saat dengan anak-anak.

Mencari Lingkaran

Berada di lingkarang ibu akhir tahun 2016 di Jakarta memotivasi saya untuk menemukan lingkaran saya di sini. Dulu, saya pikir perempuan Perancis itu tipe yang tangguh dan kuat, tak pernah mengalami kesulitan menjadi ibu, kalaupun mengalami, semua dilalui dengan mulus karena mereka terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Setelah berada di lingkaran yoga-doula dan asosiasi postnatal support, saya tahu saya telah salah menilai. Perempuan, tetaplah perempuan. Mereka butuh ruang untuk membuka kerapuhan mereka supaya mereka sadar bahwa mereka kuat. Selain kedua lingkaran tersebut saya juga menemukan asosiasi tente rouge dan sempat ikut lingkaran mereka, dari situ saya mengenal asosiasi lain bernama maman bleus dan sempat ikut berbagi cerita di lingkaran mereka di Paris. Lingkaran-lingkaran seperti ini bukan hanya menguatkan saya sekarang tetapi juga membantu saya menerima diri saya sendiri. Mereka adalah ressource yang juga menginspirasi saya. Bahwa, perempuan dimanapun, apapun kebangsaannya adalah tribe, guru, dan akar saya. Kami butuh bergandengan tanpa mencibir dan membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta sekaligus perbedaan.

Tiap dua minggu sekali, setelah mengantar Gladys sekolah, saya sempatkan bertemu teman saya yang berkebangsaan amerika sambil ngopi, sambil menidurkan Gwen di strollernya, kami berbagi cerita tentang apa saja, tentang mimpi-mimpi kami yang tertunda, tentang perasaan kami saat itu, tentang rindu kampung halaman dan orangtua, kami sama sekali ngga membicarakan anak kalau memang tidak perlu. Ini membuat saya waras dan lega setelah berkutat di rumah bersama anak-anak dan melakukan rutinitas yang sama setiap harinya.

Ternyata, tidak terlalu banyak ya bedanya menjadi Ibu di Indonesia ataupun di Prancis. Keduanya perlu hati yang kuat untuk menjalani amanah ini. Perlu lingkaran perempuan yang energinya bisa mengisi kehausan kita tentang perempuan dan divine feminine supaya kita merasa cukup. Perlu me time dan menerima diri sendiri. Saya juga mengalami  fase nggak tidur karena menyusui newborn, anak sakit, rewel. Ada fase masak terbirit-birit karena sambil menggendong anak, mengawasi anak yang lagi eksplorasi. Mungkin ada tambahan sedikit yaitu cuaca dan budaya. Musim dingin dapat terasa berat dijalani untuk orang tropis seperti saya. Winter blues menjadi tantangan untuk saya setiap tahunnya. Begitu juga dengan bahasa prancis yang saya masih terus belajar setiap harinya.

Hidup di luar negeri, jauh dari keluarga, ditambah menjadi Ibu adalah faktor yang membuat saya akhirnya keluar dari zona nyaman yang dulu untuk mencari zona nyaman yang baru. Perubahan memang terasa sulit sekali dijalani apabila kita belum menerimanya. Kadangkala kita juga takut akan perubahan karena kita sudah nyaman, sudah merasa tahu semua, padahal yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Sekarang, walaupun saya baru merasa nyaman dengan dua anak dan tinggal di sini, layaknya orang yang nomaden, saya tahu suatu hari nanti kami akan pindah lagi, tidak tahu kemana, but we would say yes to what life offer to us.

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate