36-37 Weeks Pregnant : Receiving and Surrender

Saya ingin sekali posting atau cerita apa yang saya lalui di Ubud, tapi saya bingung mau mulai darimana, terlalu banyak cerita, terlalu banyak stimulan bila harus di post di instagram post dalam 100 kata. Ah, betapa beruntungnya  saya bisa mengalami semua ini. Saya bisa berada di tengah perempuan-perempuan dari pelbagai belahan dunia yang mendedikasikan waktu dan hatinya untuk perempuan-perempuan lain yang sedang hamil ataupun dalam masa transisi, postpartum. Bisa berada dekat dengan alam, dengan mother earth, serta dekat dengan kesadaran dalam diri. Kok, bisa yah saya mengalami ini semua? mungkin jawabannya…….Surrender.

Postpartum the transition

Buat saya melahirkan merupakan proses yang sangat indah, deg-degan, ditunggu-tunggu, dan ingin saya nikmati. Maka jadilah saya seorang birth doula. Bercita-cita menemani perempuan, dan memastikan perempuan bisa merasakan kekuatan yang Ia miliki saat melahirkan. It’s the most beautiful thing, if we are allowing our body, our baby, to connect and receive. Dan tak lupa upaya pemberdayaan diri yang banyak dan tepat!

But, when we talk about days after giving birth, postpartum, It gives me chill. I’m scared. Saya takut kehilangan diri saya lagi, takut akan sebal dan benci dengan semua yang terjadi. Takut tidak mendapatkan dukungan yang saya harapkan. Ah semuanya deh!

Saat mendapatkan kesempatan mengikuti workshop Postpartum Doula dengan Ibu Robin Lim, dan Debra Pascali-Bonaro, saat sedang hamil, ahhh ini dia yang saya butuhkan! Belajar untuk bisa mengerti dan memahami apa yang akan saya lalui dan apa yang bisa dilakukan.

This course taught me that:

Where ever you are in this world, your religious believe, your nation, your political believe, when you’re in your postpartum days, you experience grieve. Tak hanya kebahagiaan yang tiada tara, tapi ada kesedihan dan proses adaptasi yang signifikan.

Perempuan butuh beradaptasi untuk mengurus bayi yang dikandungnya.

Perempuan harus mengalami proses penyembuhan diri pasca melahirkan.

Perempuan perlu belajar menyusui.

Perempuan belajar mengenal dirinya lagi.

Perempuan dan pasangannya akan melalui proses pengenalan diri, serta perlu proses pengenalan tubuh masing-masing. A different sex life.

Perempuan mengalami kesedihan karena tak lagi hamil. Ada sesuatu di tubuhnya yang tak lagi di sana.

Perempuan akan mengalami gejolak emosi karena hormon.

Perempuan khawatir tubuhnya tidak akan kembali seperti dulu lagi.

Ini adalah proses healing yang besar yang akan di alami seorang perempuan. This is just a small list. Some of us experience one or two, some of  us experience more. Berada di tempat yang hanya mendiskusikan postpartum, saya jadi tahu, kita tidak gila. Most of women in this world, admit they experience this.

How to handle it?

Ask for help, when you need it. Talk about it. Tak hanya dengan suami tapi dengan perempuan lain yang sudah atau sedang mengalaminya. Siapkan masa postpartummu. Walau kadang rasanya sudah mempersiapkan semuanya, tapi kok masih merasakan kesedihan. Be gentle to yourself, its a process, your trying little by little to adapt. Its ok!

Everyday woman circle in our class

Choices After birth

Co-sleeping, baby wearing, breastfeeding, bottle fed, baby led weaning, dan lain-lainnya….banyak sekali pilihannya! Dan kita butuh waktu untuk memilih dan beradaptasi.

Receiving

One major thing that strikes me in this course, some woman have problem on receiving love. Di sini saya tak hanya belajar untuk memberi tapi juga menerima cinta dan pujian. Kami saling memuji, memeluk, dan mendengarkan. Saya menerima begitu banyak dukungan, sampai-sampai jiwa saya penuh sekali. Sentuhan dan pujian dari sesama perempuan sungguh yang kita butuhkan. Perempuan pada hakikatnya saling mendukung, bukan menyindir, bersaing, membenci, atau iri. Bila ini terjadi mungkin perlu ada space untuk membersihkan diri dan saling memberikan cinta. Who can hold this space? Sometimes, You don’t need a doula, clean your heart and you can do it.

Terimalah cinta dan pujian, tidak selalu perlu memuji balik. Ucapkan terimakasih dan akhiri dengan pelukan. Every woman needed hugs once in a while. Return it with one!

Disini saya menerima banyak sekali dukungan, dan saya rasa semua perempuan harusnya merasakan ini! Receiving so much love they needed! And yes you can!

So much love!

My Card

Ocean Baby. Saat mengocok kartu untuk Ibu hamil, tiba-tiba kartu ini keluar. Hahaha pas sekali yah. I’m carrying ocean baby, and I need to relax . Tidak ada kebetulan di dunia ini. This card is my babies voice!

My Mother, My Sister, My doulas (Oops, No Ray yet!)

Tidak mungkin saya bisa ikut kelas, dan menikmati belajar bila tidak ada dukungan. Dulu, saat kehamilan pertama (link), saya tak mendapatkan dukungan ini. Sekarang alam semesta memberikan kepercayaan dan dukungan. Memang ada waktunya. Bila tidak mendapatkan sekarang, mungkin nanti.  Dan buat saya bukan pada kehamilan pertama, tapi kehamilan kedua.

Ibu saya yang mengurus Mahija, merasakan tendangan bayi, memberikan saya ruang untuk berkembang. Kalau di Jakarta mungkin ini tidak terjadi, karena Ibu saya bukan tipe yang suka menginap di rumah anaknya. Tapi ini bisa terjadi, karena kami di bali di satu kamar.

Kemarin Ibu saya harus pergi, karena ada kerjaan di PAUD yang Ia Kepalai. Lalu adik saya yang gantikan, sampai cuti kerja. Mahija diajak ke kebun binatang. Wahh, she had the best time!

Ngapain ajah Mahija saat saya di kelas? Berenang, menggambar, berlari-lari, mengejar kucing. Kebetulan ada tetangga di villa dari Jerman yang membawa anak 3,5 tahun sera 2 tahun. Mahija asyik bermain dengan mereka. She totally forget malls!

Ray belum juga bisa meninggalkan pekerjaanya di Jakarta. Minggu depan, hopefully he can be with us. Meanwhile, as a pregnant mama, all I need is a woman experienced on pregnancy and taking care children, that’s my mom!

Ubud and Vegetarian

Kami tinggal di Nyuh Kuning, Ubud. It’s so calm, so many stars at night, everything we need is walking distance. Sangat kontras dnegan kehidupan kami di Jakarta yang penuh dengan hustle, macet dan kepadatan. Di sini, seperti kehamilan, kami berproses dan berjalan pelan-pelan. Meresap yang perlu diresap. Merasakan yang perlu dirasakan. Melepaskan yang perlu dilepaskan. Kadang kita terlalu sibuk dengan keseharian, lupa untuk mengecek ke dalam diri, apa ini yang kita butuhkan? Jika tidak mari kita belajar lepaskan pelan-pelan.

My birth and postpartum affirmation

Robin Lim

If you been following haloibu.id for a while, you know how Robin Lim affected my life. It only took one hug and it changes my whole perspective in life. Jadi bisa berada disini, belajar dengannya, sangat didukung, dan dicintai dan memiliki kemungkinan melahirkan dengan Ibu, sungguh tak percaya! But really dreams are meant to happen, when it needed to be happen!

Saat ke klinik Bumi Sehat, saya diberikan vitamin, diperiksa, dan diberikan pelukan. Bahkan diberikan ciuman. Sungguh tak percaya ini terjadi!

Walau begitu ada kekhawatiran, Ibu Robin ada di Australia saat ini sampai tanggal 19 Mei, jadi ada kekhawatiran menunggu Ibu Robin! Hehe Ibu hamil dan kekhawatiran.

Blessing way

How I can experience this. I can not bellieve, Ibu Debra Pascali-Bonaro, The doula, washing my foot and giving me massage, and kissing my feet? Saya enggak pernah bermimpi bisa merasakan ini. Blessing way adalah kebudayaan suku asli Amerika, Navajo, untuk ibu-ibu yang sedang hamil. A wise woman will give bless to the woman who is growing a human being. We are treated like a goddess. Those words oaf encouragement and love that we receive from the very wise woman who believe in of the power of feminine energy. Ini gila sih, bisa dikasih blessing way oleh 3 perempuan luar biasa, Ibu Robin, Ibu Debra dan Bidan Mala dari Hawaii. Ngebayangin ajah enggak pernah, tapi hari itu, alam semesta seakan mengamini, sesungguhnya perempuan hamil adalah perempuan yang istimewa, sesungguhnya bila semua harus terjadi maka terjadilah.

I’m lost out of word

Saya benar-benar speechless, Every woman should feel this much love, this much support. I receive so many, and I owe it to you, to all the mothers out there. After my postpartum times, I wish mother earth could give me support to bring this wisdom and knowledge to woman in my community back home. Saya juga berdoa semoga ibu bisa merasakan hal serupa, dan saya bisa bantu lebih banyak perempuan lagi. Amin.

Checking my self, is this all real, am I dreaming?

I’m not. Universe is kind. Surrender, That’s the word. Surrender to divine energy, to her of his plan, to pain that we should experience and prepare yourself to receive.

I feel like, if you accept and surrender, content with yourself, having peace with negativity, connect with your divine feminime. While helping other female, through birth of her baby, birth of herself, listening and comfort crying mothers, mother earth is healed, and you got  mama earth energy returned to you! Not now, not constant, but like a plant, gradually. Accept yourself, surrender to universe or gods plant, and prepare to receive. Like what Ellen Degeneres always said , “Be Kind to one and another”.

Melahirkan

Seperti yang kalian tahu pada blogpost sebelum ini , saya bingung mau melahirkan di mana. Tapi semua jelas bayi memilih opsi melahirkan dekat dengan laut, di Bali. Saya mendapatkan kesempatan ikut worskhop menjadi postpartum doula saat 34 minggu, course selesai saat saya 36 minggu, saya tidak menemukan airline yang mau mengangkut Ibu Hamil usia ini. Jadi kami mengembalikan tiket pesawat, dan menyetujui niat bayi.

Bila ini yang kamu mau nak, mari kita saling bekerjasama. Ibu percaya padamu nak.

 

 

Love you!

Ocean mama

Belajar Bekung untuk masa postpartum!
Few of my doula sisters!

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate