Puasa sebagai Meditasi Kehidupan

Sejak kecil saya selalu bersemangat bila bertemu dengan bulan Ramadhan. Karena sesederhana setelah berpuasa sebulan tentunya akan bertemu hari raya Idul Fitri dimana banyak makanan dan minuman lezat tersaji di setiap rumah yang merayakan. Makin bertambah usia saya pun semakin mengerti bahwa bulan Ramadhan bukanlah hanya menahan lapar dan haus hingga nantinya bertemu dengan Lebaran, namun lebih dari itu, berpuasa di bulan Ramadhan adalah tentang mengendalikan hawa nafsu.

Tentunya perkara mengandalikan hawa nafsu tidaklah sederhana. Kita semua tau bahwa di bulan Ramadhan setan dikurung oleh Allah SWT agar tidak menggoda manusia melakukan maksiat, agar kita dapat fokus menjalankan ibadah. Namun yang terkadang kita lupa adalah bahwa selama sebelas bulan lainnya setan telah menanamkan pengaruhnya dalam diri kita sendiri hingga seakan saat bulan Ramadhan tiba para setan sedang beristirahat menuai hasil kerja mereka atas kita. Tidak heran saat Ramadhan akhirnya berlalu maka kita menemukan diri kita tanpa perbaikan berarti baik dari segi ibadah maupun pengendalian diri.

Berpuasa adalah tentang pengendalian diri, tentang sabar yang tak bertepi. Puasa berpengaruh positif terhadap psikologis seseorang, seperti berpengaruh terhadap emosi, performansi, dan perilaku. Puasa juga dapat menjadi sarana untuk berlatih mengendalikan emosi negatif, melatih rasa empati, serta mengurangi sifat sombong dalam diri seseorang. Puasa juga dapat menjadi meditasi kehidupan.

Semenjak menjadi ibu, saya belajar banyak hal. Saya kembali mengenal diri saya sendiri, mendefinisikan sisi baik dan buruk yang saya miliki, serta berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Untuk saya, puasa adalah salah satu sarana pengendalian diri serta introspeksi diri yang paling efektif. Saat saya berpuasa, saya berusaha menjaga puasa saya agar bernilai maksimal dengan tidak mencederainya dengan melakukan hal-hal yang tidak penting. Selain berusaha memaksimalkan diri dalam beribadah, saya juga lebih diam dan tidak banyak mengumbar emosi. Apalagi bila berhubungan dengan interaksi saya bersama anak. Saya berusaha tidak langsung memarahi saat dia berbuat kesalahan yang pastinya tidak dia sengaja. Saya hanya diam dan memberi waktu untuk diri saya sendiri mencerna keadaan, baru saya merespon tindakannya dengan berkata-kata yang baik. Surprisingly, hal tersebut membuat saya lebih bahagia. Dan efeknya ternyata anak saya pun menjadi anak yang lebih ceria serta tidak cranky ataupun tantrum sepanjang hari tersebut. Ternyata benar apa yang biasa saya baca di artikel-artikel parenting itu, bahwa anak berlaku sebagaimana orangtuanya berlaku terhadap mereka.

Maka Ibu, bila saya boleh memberikan saran, cobalah berpuasa saat kita merasakan beban di hati sudah sedemikian berat, ataupun kepala sudah sedemikian penat. Bermeditasi sejenak dari hiruk pikuk emosi diri. Berproses menjadi lebih baik dan lebih sabar. Karena sabar merupakan ruh dari puasa itu sendiri, kalau seseorang belum bisa menahan emosinya berarti belum memaknai puasa dengan benar, sehingga puasa menjadi media latihan untuk membiasakan diri hidup dalam ketenangan jiwa dan jauh dari sifat emosional dalam menghadapi berbagai persoalan.

Ajaran yang terkandung di dalam puasa sangat sederhana untuk dipahami tetapi sangat sulit dipraktekkan, dan tentu saja sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan kita. Puasa yang benar akan membawa perubahan pola hidup kita ke arah yang lebih baik.

“Remember, Ramadhan exposes your true nature, but also remember, Ramadhan can be the time to cleanse your soul.” – unknown.

Selamat berpuasa, Ibu!

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate