Berbisnis dengan Cinta dari Rumah

Sejak kecil saya menyukai dunia anak beserta hal-hal kecilnya, karena itu saya memilih untuk berkarir di sebuah sekolah yang juga memiliki tempat bermain. Saya semakin jatuh cinta dengan dunia anak-anak sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja di saat mengandung Dimitri, anak pertama saya. Sejak memutuskan resign saya hanya fokus mengurus Dimitri dirumah. Karena kebetulan background pendidikan saya design graphics, sesekali saya menerima job lepasan untuk mendesign.

Saat Dimitri mulai memasuki usia 1 tahun, saya mulai sering membuat aktivitas untuknya di rumah dengan menggunakan barang-barang seadanya. Tujuan utama saya sih sebenarnya bukan untuk membuat dia pintar, bukan untuk membuat dia terstimulasi dengan cepat.

Tujuan utamanya adalah agar Dimitri happy dan ternyata saya sangat menikmati prosesnya. Proses menyiapkan segala perintilan art & craft, dll. Karena itu tadi saya mencintai dunia itu.

 

ILOKIDS lahir.

Berawal dari saat saya, suami dan Dimitri harus berangkat keluar kota, saat itu Dimitri berusia 2 tahun, usia di mana anak sedang aktif-aktifnya tapi juga usia di mana anak belum terlalu mengerti saat kita beritahu. Di tambah saya itu parnoan kalau naik pesawat, ya walaupun jarak terbang hanya 1.5 jam, tapi saya mulai berpikir bagaimana ya caranya supaya Dimitri bisa duduk anteng selama di dalam pesawat. Apalagi penerbangan kita tidak ada fasilitas tv.

Akhirnya saya mulai mencari beberapa ide di internet. Nggak nyangka ternyata di internet banyak sekali pilihan aktivitas untuk anak. Dari situlah awal mula saya mengenal yang namanya BUSY BOOK, semuanya terbuat dari kain dan rata-rata proses pembuatannya dijahit. Dalam hati berpikir, wah saya tidak bisa jahit nih. Dan keterbatasan itu pun muncul.

Tapi saya selalu percaya bahwa kreatifitas itu biasanya keluar di tengah keterbatasan kita.

Saya berpikir kalau saya bisa mendesign dan akhirnya muncul motivasi dalam diri untuk cobacoba membuat Busy Book sendiri. Akhirnya saya membuat busy book ala Cita yang pertama kalinya. Seperti ini penampakannya.

Waktu itu saya coba design halaman per halaman dengan tema- tema yang sedang disukai Dimitri saat itu. Seperti gambar mobil- mobilan, piano, pesawat, dan juga foto keluarga kami. Sebagai variasi tekstur saya pakai barang-barang seadanya dirumah seperti kancing, kain flanel sisa activity, kain sisa, karton-karton bekas, dsb.

Setelah proses pembuatan selesai, hasil karya itu saya upload di Instagram pribadi saya dan ternyata mendapatkan respon yang sangat positif dari banyak orang. Akhirnya saya mulai mengajak sahabat SMA saya Nia, untuk mencoba serius membuat produk buku yang bisa dijual, nah pas banget Nia ini jago menjahit jadi produk busy book kita mix dari bahan flannel & bahan printing lalu coba kita jual di Instagram pada tahun 2015 dengan nama ILOKIDS.

Awal mulai membuat ILOKIDS, kami (Saya dan Nia) sama sekali tidak membuat visi misi secara resmi dan baku, mungkin karena kami juga awalnya tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi, kami hanya menjalaninya sesuai hati & kondisi, dan tentunya sesuai dengan kemampuan pribadi kami.

Tujuan kami membuat ILOKIDS ini awalnya bukan untuk keuntungan semata, kami ingin ILOKIDS bisa memberikan kontribusi dalam pendidikan anak usia dini di Indonesia, menjadi salah satu media untuk anak belajar sambil bermain melalui aktifitas yang menyenangkan. Kami akan terus berkarya melalui kemampuan kita, membuat media belajar anak yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan umurnya, memang dunia digital sedang berkembang sangat pesat tapi kami mengerti bahwa buku memiliki peran penting dalam perkembangan anak usia dini.

 

Tantangan dan hambatan

Pastinya, dalam proses berkembangnya ILOKIDS, banyak sekali kendala yang kami hadapi di mana kami harus membagi waktu membuat buku, menerima pesanan dan mengurus anak- anak. Pada awalnya kami kerjakan semua berdua, saat pesanan mulai membludak, kami mulai mengalami kesulitan karena kelelahan, saya pun sempat lupa bahwa saya mengawali ini semua karena rasa cinta, karena it’s fun! kami terus dikejar dengan deadline kerjaan, menghadapi pembeli yang kadang susah juga untuk ditangani.

Karena saya mengurus anak dan rumah sendiri, kadang membuat saya sempat depresi dan merasa tidak happy lagi ,dan ternyata itu dirasakan juga oleh partner saya yang merasakan hal yang sama. Belum lagi kami harus memikirkan aktivitas setiap halaman satu persatu, memikirkan bahan, tempat percetakan, alat perekat, dsb. Walaupun begitu banyak contoh dan bentuk activity busy book di internet, tapi kami tetap memodifikasinya sesuai dengan yang kami mau.

Tidak terhitung beberapa kali cara yang kami pakai itu gagal dan kami tetap harus terus mencari tau kesana-kesini, mengubah ini itu untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mempekerjakan beberapa staff yang membantu untuk proses pembuatan buku. Proses pemilihan staff pun harus melewati beberapa drama hingga akhirnya saat ini ILOKIDS sudah memiliki staff yang solid dan sangat membantu.

 

Tips membangun bisnis di rumah.

Saya bukan seorang ibu yang mengerti bisnis, tapi saya mendapatkan banyak pelajaran dalam menjalankan bisnis ILOKIDS ini. Mungkin beberapa hal di bawah ini bisa membantu ibu di rumah yang sudah mulai atau masih bingung ingin memulai bisnis dari rumah.

1. Anak bukanlah penghalang, ibu. anak itu penyemangat kita.

Banyak ibu termasuk saya dulu suka berpikir “ tapi nanti yang ngurus anak siapa” “ tapi sekarang udah ada anak sih jadinya susah”. Yes! Susah sekali.

Memang susah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, anak tetap menjadi prioritas utama tapi bukan berarti kita tidak bisa berkarya, semua jerih payah kita , perjuangan kita bisa jadi pembelajaran & teladan untuk anak- anak kita dimasa mendatang. Ciptakan kondisi yang paling nyaman untuk ibu & anak agar bisa menjalankan bisnis dengan happy.

2. Pilihlah dunia yang kita cintai

Sebagai ibu dengan segala tugas nya setiap hari mengikuti dunia anak, jadikan bisnis ini dunia kita. Tempat kita menjadi sosok pribadi kita. Buat saya itu artinya saya berkarya & bergerak di dunia yang kita cintai, apapun itu. Saya juga percaya sesuatu yang dilakukan dengan hati pasti akan membawa kita terus maju melewati segala rintangan yang ada.

3. Belajar, belajar, dan belajar

Buat saya menjadi ibu tidak membuat kita berhenti belajar, teruslah belajar mengedukasi diri kita, terus belajar melawan kekurangan kita. Karena dalam memulai bisnis di rumah pasti banyak adaptasi yang harus kita hadapai, bukan cuman kita tapi anak-anak kita. Kita belajar untuk mengatur waktu, kita belajar untuk mengatur prioritas, belajar mempelajari kebutuhan konsumen kita, belajar untuk mengikuti perkembangan dunia yang kita geluti, berkonsultasi dan banyak ngobrol dengan orang lain. Tentunya Semua memang butuh proses, tidak penting cepat atau lambat proses itu yang penting kita terus bergerak maju.

4. Cari ciri khas kita

Memang penting untuk mengikuti pergerakan jaman, mengikuti apa yang sedang dicari oleh masyarakat. Tapi jangan semata-mata mengikuti arus, carilah jati diri kita. Cari ciri khas karakter kita yang nantinya akan terlihat di karya kita. Cobalah berinovasi , dan menjadi jawaban untuk kebutuhan banyak orang.

5. Belajar bisnis

Untuk ibu yang backgroundnya tidak di dunia bisnis seperti saya, tidak ada salahnya untuk mulai belajar bisnis. Business Management, finance adalah dunia yang tidak pernah saya mengerti, saya hanya bekerja menggunakan hati, passion. Tapi saya sadar agar bisnis ini bisa bertahan lama, saya harus memiliki pengetahuan dan juga keuangan yang sehat. Saya harus bisa mendapatkan keuntungan sebagai motor untuk bisnis ini bisa bertahan, bahkan bisa bergerak maju lebih besar lagi.

6. Berani untuk memulai

Di antara semua hal di atas, yang paling penting adalah keberanian untuk memulai. Di luar segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, beranilah untuk mencoba mengambil resiko itu. Setiap kita sudah punya potensi besar dari sang pencipta kita.

Jika memulai bisnis bisa menjadi jawaban untuk kebahagiaan dan kebutuhanmu, teruslah maju dan jangan menyerah, Ibu. Tetaplah berani bermimpi, kita pasti bisa meraihnya asal kita mau melangkah dan siap untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Selamat menikmati keseruan di duniamu sendiri, Ibu.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate