Melahirkan Dimana?

Buatku trimester ketiga, trimester penuh emosi, tubuh membawa beban lebih besar,, hormon meningskat tajam mermbuat mata mudah basah.  Pinggang juga seakan setuju memperlambat langkah. Kalau jalan-jalan sudah tak lagi bisa berbohong, banyak yang julukin “BUMIL’.  Trimester ini juga trimester final, kegundahan ditambah karena bayi dengan tendangan bagai pesepak bola, membuat tubuh kurang tidur, tanda juga hari H semakin dekat, hari H saya akan ketemu my blind date. Some one I truly love, who give me guidance, membuat saya kepikiran sepanjang waktu, my baby.

The most challenging last 3 months, but the most awaited time. Rasanya saya pingin cerita semuanya. Mau cerita, saya bahagia dan super nervous, mau cerita kehamilan saya tidak melulu lancar. Sampai titik ini, walau saya seorang doula, saya terus belajar mengenali diri saya dan bayi. Terus mencari tahu bagaimana bisa hamil yang nyaman dan damai, terus cari tahu cara melepas dan meredam . Kali ini saya mau update lagi, klau blog post 2 minggu lulu saya semakin jelas ata clear dengan apa yang bayi inginkan. Blog  Kali ini saya belajar acceptance dan menurunkan desire atau keinginan. I can not control everything…. Heres my update.

Menemani Persalinan saat 32 minggu

Waktu menunjukan pukul 04.00 WIB , Saat paling empuk  serta  damai untuk kontraksi datang. Belum saatnya buat kontraksikku, tapi untuk klien. Saya langsung datang, sampai di rumah sakit pukul  07.00 pagi , si Ibu ada dibukaan 2, pukul 16.00 bukaan 7, sampai jam 22.00  masih bukaan 7. Badan dan bayi butuh beristirahat. Akhirnya saya gantian tengan doula yang lain. The mother was beautiful and happy, but some birth and baby needs time. Finally I’m home at 23.00 .

Ngedoula saat hamil besar, banyak mengerjakan banyak pekerjaan, membuat saya  bertanya kapan  waktu buat anakku si jabang bayi? Tinggal sedikit lagi.  Kami perlu waktu bersama untuk saling mengenal lebih baik lagi. I need my nesting time.

Saya melahirkan dimana ?

Dibaca: Kamu mau melahirkan dimana nak?

Saya mungkin memiliki waktu lagi untuk melahirkan anak . Walau untuk saat ini belum merencanakan memiliki banyak anak. Tapi anak ini hanya punya satu kali dilahirkan ke dunia ini. Semua manusia hanya memiliki kesempatan satu kali. Maka saya perlu mendengarkan apa yang i bayi ini inginkan. Walau rasanya sulit, saat badan mulai semakin hamil, bernafas juga rasanya perlu melambat. Tapi saya yakin, seperti kamu, kita punya feeling dan insting yang kuat untuk tubuh dan anak kita. Rasa ingin pipis, rasa tak ingin pergi, rasa enggak enak dihati, rasa ingin bercinta, our body always give signals all our life.

Pada kehamilan ini, aku merasa getaran yang kuat ke dekat lautan, pantai. I wanted to go to Bali, even only for the weekend. Suami saya sibuknya minta ampun! His supportive, tapi Ray memiliki kerjaan di iklan yang rasanya tak persah berhenti. Tapi saya ingin perginya bertiga. Keinginan berada sekitar lautan tak bisa dibendung.

Saat dua minggu lalu, sangat clear bertemu anakku saat di hypnobirthing. I know everything going to be ok. Tapi kok tanda-tandanya bukan melahirkan di rumah yah. Tapi dekat dengan lautan..Semakin aku bingung…

Mahija Cacar dan Postpartum Doula Workshop

Minngu, 22 April 2018, Mahija tetiba badannya hangat sekali. Lalu muncul banyak bercak merah di wajah dan sekujur tubuh mahija. Ini masih pukul 07.00, lulu pukul 09.30, merah semakin jelas dengan ada air ditengah merah-merah. Wah saya curiga ini cacar. Karena ini hari minggu, tak ada dokter spesialis yang buka. Yang ada kami tanya orangtua serta google. Yang membuat saya panik, saya sedang hamil, tak mungkin saya berpisah dengan Mahija , I’m her only main caregiver. Ibu saya juga belum tents bisa mejaga Mahija.

Kepanikan makin menyeruak saat Mahija makin hangat, panas capai 39,9 derajat. Ray harus berangkat kerja. Adik dan Ibu saya datang untuk menemani, tapi tak cukup membuat saya tenang, Saya WhatsApp dokter Ridwan seta Ibu Robin Lim, keduanya meyakinkan tidak apa-apa karens suddar 34 minggu, dikarenakan saya memiliki kondisi yang prima, serta saya pernah cacar cukup banyak saat kecil. Sistem imun saya baik. Dengan tidak cerita siapapun, kepada teman maupun social media, saya ingin menghadapi ini tanpa bingung. Mahija susat tidur, setiap 15 menit nangis dan meminta saya, padahal saya ada disebelahnya. “Mammi, mammi…..sini…..huhuhuhu Mahija mau mammi, tolong mammi”, rengek Mahija setiap 15- 30 menit. Sungguh rasanya  enggak enak sekali melihat anak seperti ini. Saya sampai nangis. Kami diffuse essential oil, purification dan thieves, mengoleskan aloe vera serta essential oil haloibu yang Rejuvenate. Gatal berkurang, tapi panas belum. Mahija menolak menonton tv serta main games. Ini menandakan Mahija is very sick. Badan saya encok, pegal dan hati sedih. Kami sampat memberikan tempra saat panas capai 40 derajat pada pukul 14.00 WIB. Panas menurun tapi situasi masih sama.

Lulu pukul 17.00, Ibu saya berucap, “ Kayaknya Mahija sakit karena takut ditinggal kamu kak”, kata Ibu saya khawatir kepada saya. Mungkin benar. Lalu saya bilang sama Mahija, “ Kak, udah kakak Mahija ikut ajah, enggak usah takut, ikut mammi ke Bali yah, enggak mammi Ibu tinggal”, ujar saya.

Away tahun ini saya apply untuk mengikuti postpartum doula di Bali, beberapa bulan lalu saya mendapatkannya. Wah saya senang sekali! Tapi karna pernah membawa Mahija tahun lalu, Mahija kasihan sekali bila harus bolos sekolah sampai 2 minggu. Maka saya berecana meninggalkan Mahija selama lima hari, lalu Mahija menyusul. Tapi kami sudah membicarakan ini satu bulan sebelumnya. Mahija tidak apa-apa, dan menerima kenyataan ini.  “Iyah engal apa-apa mammi Ibu, Mahija nanti sama Oma”, jawab Mahija saat ditanya kesediannya ditinggal. Tapi ternyata alam bawah sadarnya tidak  setuju.

Satu jam dari pukul 17.00, sehabis Maghrib, Mahija panasnya turun hingga  37 derajat. Mahija mulai mau menonton dan mau makan banyak. Wah ternyata ini dia, saya selalu berandai ingin nesting time dengan Mahija, quality time, peluk-pelukan. Karena bila Mahija sekolah, Saat proses antar jemput tidur siang, seakan waktu begitu cepat habis dan kami berdua sibuk.

Jadi saya akan berangkat dengan Mahija pada besok 30 April 2018, workshop dari 30 April -9 May 2018. Kami berencana pulang tanggal 11 Mei 2018. Mahija bersekolah dua minggu, dan kami mungkin akan melahirkan di Jakarta. Atau di bali, intinya masih banyak waktu memutuskan. Wah Mahija lama sekali bolosnya hingga 3 minggu, padahal akan ada kenaikan kelas. Its such a little time to say goodbye to her classmates. Lalu bertambah bingung…..

Senin pagi, kami ke dokter Waldi, yang saat melihat Mahija santai-santai saja. Saat melihat saya hamil juga tenang. Padahal Mahija jelas-jelas banyak sekali bintik-bintik di tubuhnya. Tapi memang sudah tidak panas, dan Mahija tidak lemas hanya memang gatal-gatal. Sebelum kesini, saya mandikan air dingin. Setiap 3-4 jam hari itu saya mandikan Mahija dengan air dingin , benar-benar membantu mengurangi gatal. Dokter Waldi bIlang butuh 2 minggu untuk recovery, dan sekarang dikasih pereda gatal saja, mau pakai aloe vera  gel seperti yang kami lakukan atau bedak pereda gatal boleh. Dokter Waldi juga bilang tidak apa-apa, kalau saya hamil, tidak akan terjadi apa-apa bila saya pernah kena. Jadi memang Mahija harus bolos 3 minggu.

 

 

34 Minggu, Naik Pesawat?

Postpartum Doula Workshop

Hari Jumat lalu, senang sekali, saya bisa berbagi cerita tentang doula serta haloibu.id  dengan Kis fm di morning show bersama Anka dan Auggie dengan tema Kartini Masa Kini. Its a pleasure to have  people listening to my story. Hope you enjoyed it!

Hoiya mau tambahan cerita sedikit Saya juga berkesempatan menyumbang tulisan untuk Buku Anti Panik kehamilan dengan @tigagenerasi. Semoga kalian suka yah!

Sesudah dari  Kis FM, saya langsung ke KMC untuk check up degan dokter Ridwan karena sudah masuk bulan ke delapan. Banyak kekhawatiran, takut kurang air ketuban, takut berat bayi tidak sesuai, takut kurang zat besi dan kalsium, tapi puji tuhan alhamduliah semua balk dan Sehat.  Saya periksa sendirian karena Ray di rumah menjaga Mahija yang belum bisa keluar rumah. Lumayan menunggu sedari jam 11.00-13.30, karena dokter Ridwan cukup sibuk. Selain periksa, saya juga mau meminta surat rekomendasi izin terbang dengan pesawat untuk airline. Saat berbincang dokter bilang batas maksimum berangkat yah 34 minggu, saat kandungan 36 Minggu tidak ada airline yang akan mau memberangkatkan Ibu hamil. Sungguh membuat hati bingung dan cenat cenut. Jadi saya akan melahirkan dimana?

Kalimat dokter Ridwan saat tahu saya akan pulang pada usia 36 minggu, “ Yaudah berarti kamu enggak balik lagi, melahirkan di Bali dengan Bu robin”, candanya,

My First Birth

It was home, I feel like a goddess , everyone was having their attention on me. I was at my safest place, where I sleep, where I made love. After all, giving birth is like having sex, we need a warm, safe and loving environment to make our body, our sensitive parts,  miss V relax.

Karena saya seorang Doula, saya sudah pernah menemani lahiran di rumah sakit, ruang operasi, rumah sakit rasa rumah, hingga melahirkan di rumah. Karena pengalaman pertama saya melahirkan di rumah, thats the only way I know. Thats the only way I want. Jadi buat saya melahirkan di tempat lain membuat saya merinding. Ah, apa bisa?  Aduh….duh, saya takut tidak bebas melakukan banyak hal….. Karena bila melahirkan di Bali, dekat dengan laut keinginan si Bayi, berarti melahikrna di klinik Bumi Sehat. Di sebuah klinik, bukan rumah sendiri.

Buat saya seorang doula, melahirkan dengan nyaman tak perlu jauh-jauh, tak perlu cellar kota, tak perlu dengan dokter paling mahal, di rumah sakit paling bagus, bisa dimana saja. So the idea, I have to travel far, having Mahija skip school, and have now Ray for awhile before birth, terrified me.

Ray Sibuk banget!

Sibuk sekali. Bahkan di akhir pekan. Pada kehamilan ini, kami lebih sering bertemu di kasur mengobrol, lalu besoknya paginya Ray sudah sibuk lagi. Jadi banyak keputusan yang saya harus ambil sendiri, karena kerjaan Ray yang sungguh menyita waktu. Kalau dipikir-pikir, saya kesal, ke dokter berduaan saja dengan anak sakit lalu saya masih menyetir, padalha hamil 8 bulan. Belanja bulanan berduaan saja degan Mahija. Tapi Bila dipikirkan ters, saya tambah tambah kesal, pasti saya jadi marah,  saya tidak akan bahagia.

“ Kadang-kadang, pilihan terbaik adalah menerima.” – Dee Lestari

Baby Ocean Shower / SIGN OF ACCEPTANCE

I can not control everything. Ini kata yang paling  sulit saya terima karena saat pertama kali berumah tangga dan menjadi Ibu. Ego begitu besar, banyak kemarahan. Memiliki  keinginan untuk memiliki anak kedua menjadi titik balik saat saya benar-benar menerima saya bertransisi. Butuh banyak Yoga, Lingkaran Ibu, meditasi dan tangisan sampai saya benar-benar ingin hamil dan bersiap melewati masa postpartum lagi.

Kunci utama dari semua itu, menerima. Self Acceptance. Menerima semua perubahan, dan melepaskan satu persatu ego. Dimulai dengan masalah kecil seperti tak bisa mengeluh saat macet sekali di jalan, menerima saat tak bisa tidur yang lama dan panjang lagi saat punya anak, menerima saya ini istri orang yang apa-apa memang perlu diskusi degan suami. Bukan berarti saya bukan entitas yang penting, tapi karena saya penting, saya mencoba berdamai dengan semua gelombang perubahan. Karena sesungguhnya gelombang bila dilawa akan sakit, Seperti surfing, just try to find ways to ride the waves.

This leads me having new mother friends who just love to share their laugh and love. This pregnancy I don’t only have so much friends, I receive so much love, and not 1 baby shower but 2. Padahal saya tidak meminta. I always say, when you give yourself enough love, you radiate love, everyone around you will feel the love, with no expectation that will suffer you, you will receive much love from people surround you.

This is my 2 Ocean Baby Shower. Thank you for all of my mother friend who made it happen! I feel so blessed!

ALL THE SIGN

Pada Jum’at 27 April lalu, sehabis baby shower, saya semakin bingung,sudah mau berangkat ke Bali, pada 30 April, saya belum juga ambil keputusan.

Opsi 1

Saya berangkat 30 April -11 May 2018, Mahija sudah bolos 3 minggu, kembali lagi ke Jakarta pada 36 minggu, sambal mencari dokter yang mau kasih rekomedasi pulang ke jakarta dari Bali, Karena surat ini harus berumur maksimal 3 hari. Jadi saya masih bisa punya waktu untuk memikirkan, apa akan melahirkan di Bali atau Jakarta. Kembali lagi saat usia 38 minggu, yang mana, banyak airline yang menolak untuk menerbangkan Ibu hamil dengan kandungan diatas 36 minggu. Pilihan ini dipertimbangkan karena Mahija masih bisa sekoah, dan Ray masih belum bisa berangkat ke Bali dan kami masih bisa punya pilihan lahiran di Bali atau Jakarta. Tapi dapat dikatakan pilihan ini 100 persen gambling. hehehe.

Opsi Kedua

Saya berangkat 30 April 2018. Tidak kembali lagi ke Jakarta. Mahija bolos 9 Minggu, langsung naik kelas, tanpa pamit dengan teman-temannya. Ray menyusul saat sudah tidak bekerja. Saya dan Mahija berdua saja di Bali menunggu Bayi dan Ray. Dipastikan akan melahirkan di Bali. Sungguh pilihan lugas, tapi paling menantang. Apa saya siap?

Saat sesudah baby shower, saya menunggu mobil jemputan dengan mba Imu, atau doula Imu. Kami ngobrol, dan saya berkeluh kesah. Mba Imu, bilang buat kamu yang penting kayaknya masa postpartum . Karena dulu itu challengemu. Coba kamu melihat kedalam, kamu ada dimana saat masa ini. Lalu saya nangis dan menjawab di BALI dipantai. Kami berdua merinding, dan saat mba imu, pegang perutku, bayi menendang sampai menonjol. Ini dia semua tanda kesana….tapi saya suka berujar ah sudahlah…

Setelah saya urut….

Saya diberikan kesempatan oleh bayi untuk mengikuti doula postpartum workshop untuk menyiapkan diri saat masa postpartum. Disaat usia kehamilan 34 minggu, dan berkakhir di 36 minggu, menjadikan saya tidak boleh pulang dan perlu nesting di bali. In my favorite place. Saya dula percha kerja di bali.

Mahija sakit cacar, saya tidak bisa tinggal dan harus membawa Mahija, kami harus di Bali bersama.

This baby love the ocean. She/he choose the name that represent it. Ofcourse, bayi mau dilahirkan di dekat laut.

Lalu mba Imu, Ray dan semua temanku berucap sama . Tapi omongan dari mba Imu yang melekat, “ Ashtra, bayi ini hanya punya kesempatan dilahikan satu kali ke dunia ini, adek lahir sekali seumur hidup, sekarang saatnya waktu untuk adek, Mungkin ada sedikit ketidak idealan dalam keseharian mereka. Tapi Mahija dan Ray pasti mengerti. “

Dan Mahija juga masih TK kecil, nanti akan ada waktunya lagi Mahija naik kelas, lalu walau tidak akan bertemu dengan Ray hampir sebulan, inilah pilihan yang terabit buat anak kedua kami. Sometime, you just have make the hardest decision, but it suits your heart best.

WELL, Tidak melulu mulus!

Aku kurang zat besi, mahija cacar, mertua yang kurang mendukung, ada pressure gender, Ray yang sangat-sangat sibuk, Ibuku yang tak melulu bisa diandalkan, kaki pegal dan jalanan Jakarta yang bikin nangis. Ah, banyak sekali!

Kalau tidak bisa menikmati momen atau tantangan, jangan menyalahkan diri sendiri. Memang ini proses yang perlu dijalani, berafirmasi kepada tubuh memang butuh waktu, mari nikmati prosesnya.  Atau bila tidak nikmat, paling tidak berujar ke diri Saya bisa melaluinya. Semua akan baik-baik saja. Go for it Ibu! You can do it!

Thats my update!

Love

Ashtra

3 Comments

  1. Another kind reminder about acceptance – you are an amazing woman, Shtra. A goddess for sure. My prayers are with you.

  2. semangat mammi ibu, semoga lancar dan dimudahkan persalinannya. amiin

  3. Semangat terus mami ibu,ga terasa waktunya sudah dekat and after long process of acceptance this is the time you’ve been waiting for, a lovely pospartum time.. All my prayers are with you.. ❤️

Leave A Reply

Navigate