Berkarya dengan Hati

Berkarya itu dikerjakan pakai hati, di dalamnya melibatkan improvisasi, eksplorasi, eksperimen, pendalaman, penghargaan dan rasa cinta. Bekerja itu dikerjakan sesuai aturan yang diperintahkan saja.

Agar valid, berikut saya sisipkan detail dari pengalaman saya bekerja selama 24 tahun.

 

1994 – 1999

Magang berbayar di konsultan arsitektur sebagai tukang maket (pembuat miniature rumah / bangunan)

 

1999

Lulus kuliah, merantau ke Bali jadi arsitek junior di konsultan arsitektur Imagi – Sanur

 

2000 – 2003 – Bandung

Menjadi arsitek dengan beberapa side job sebagai:

  • Menjadi wedding decorator / wedding organizer khusus kawinan jawa
  • Menjadi Event Coordinator / Project Officer di banyak event di Bandung
  • Menjadi Produser program prime time sore Radio Oz, Bandung selama 6 bulan
  • Menjadi Produser film independen (salah satu aktornya adalah Agus Rahman, yang memerankan tokoh bernama Ringgo, sampai akhirnya sekarang dia lebih dikenal dengan nama Ringgo Agus-)
  • Menjadi Produser Video klip beberapa karya teman-teman di Bandung
  • Menjadi Make-Up Artist dan fashion stylist di beberapa video klip
  • Membuat butik bernama Togs (salah satu desainernya adalah Didiet Maulana)

 

2003 – 2010

Bekerja di Radio Prambors – Radio Female – Radio Delta, Jakarta

sebagai :

  • Produser TV The Power Of Putih Abu-abu  (tayang tiap Sabtu di SCTV)
  • Event off air manager
  • Merchandise & Product manager

 

2010

  • Dipecat oleh pemilik. Lalu bersama 2 sahabat bikin brand bernama Rosaphora (@rosaphora), tapi karena tidak ada passion di dunia fashion maka di tahun ke-3 memutuskan untuk berhenti dulu.
  • Menjadi Event Coordinator/Event Consultant dan terus memproduksi banyak event.

 

2011 – sekarang

Mencoba membuat talent management, dengan talent saat itu hanya Ucita Pohan (@uchiet ). Sekarang sudah bertambah. Ada Nia Aladin (@niaaladin ), dan Angie Ang (@nonangie )

 

2015

Membuat restoran pizza dengan nama Quarter Pizzabar ( cek di @quarterpizzabar ) tutup 8 bulan kemudian.

 

Sampai dengan hari ini saya bangga menyebut diri saya seorang Event Producer dengan pekerjaan sampingan menjadi arsitek. Selain itu saya juga hobi melukis dan membuat karya seni. Saya juga menjadi investor di beberapa perusahaan skala menengah dan local start-up.

 

Walaupun tidak ada sertifikasi apapun yang mengesahkan diri sebagai Event Producer, tidak ada award atau penghargaan apapun di dunia event, kadang pun tidak selalu profit, bahkan pernah merugi ratusan juta dan walaupun tidak ada jaminan untuk terkenal seantero nusantara, tapi saya akan tetap berkembang dan tidak akan berhenti di dunia event yang sudah memberikan saya banyak hal dalam kehidupan. Di dunia event saya merasa hidup dan bisa bebas berkarya. Cita-cita saya saat ini, ingin memiliki gedung pertunjukkan dimana banyak orang bisa membuat event di tempat ini dengan harga yang terjangkau. Ya semoga semesta mendengar harapan saya ini.

Di bawah ini saya akan sedikit sharing bagaimana sih menemukan passion untuk karir dan berkehidupan di rumah tangga berdasarkan pengalaman saya.

 

  1. Jangan pernah berhenti mencoba, Ibu.

 Kegagalan itu tidak ada, yang ada hanyalah proses belajarnya yang belum selesai.

Buat saya yang abadi adalah perubahan. Maka peka dan tanggap menjadi hal yang penting untuk dimiliki oleh ibu bekerja. Kebetulan sikap-sikap seperti itu saya dapatkan dari seringnya mencoba hal-hal baru. Saya pun tidak membiarkan diri saya terjebak dalam comfort zone pekerjaan. Karena menurut saya  comfort zone itu bisa buat kita jadi terlena dengan segalanya sampai lupa kalau kita tidak boleh berhenti belajar dan meng-upgrade diri.

Jadi, meski ruang lingkup pekerjaan saya di dunia event sejak tahun 2000, tapi saya terus menantang diri untuk mencoba hal baru lainnya, baik yang terkait dengan event ataupun di luar event. Bukan sesuatu yang multitasking sih, karena tidak perlu dilakukan semuanya bersamaan yang penting tetap fokus selesai dalam mengerjakannya (istilah kerennya, Cognitive Intelligence, bukan BM-alias Banyak Mau yaa, apalagi serabutan). Yang paling penting ibu, jika kita gagal, ingatlah kalau selalu ada kesempatan untuk mencoba dan mencoba lagi. Pastinya dengan persiapan yang lebih baik.

  1. Kerja yang smart, bukan kerja keras.

Sejak bekerja di rumah dan menjadi ibu, saya baru paham sebenarnya jika kita fokus dalam mengerjakan pekerjaan, kita hanya butuh beberapa jam saja untuk menyelesaikannya. Kebetulan saya selalu mendisiplinkan diri untuk bekerja hanya 2-3 jam sehari. Saya tidak membutuhkan waktu seharian penuh untuk bekerja seperti waktu saya masih bekerja di kantor.

Dulu saya sering lembur di kantor sampai larut malam, dengan alasan pekerjaan belum selesai. Padahal, nyatanya pekerjaan itu tidak akan pernah selesai kok. Pekerjaan itu adalah sebuah karya. Karya itu tidak boleh berhenti. Maka pengaturan waktu yang baik buat saya lebih berfaedah daripada kita fokus berkutat menyelesaikan 1 pekerjaan tanpa henti sampai lupa waktu dan lupa bersosialisasi.

 

  1. Kreatif

Salah satu syarat mutlak dalam berkarir dan berumah tangga pastinya adalah berpikir dan bertindak kreatif. Selain kreatif mengatur strategi, jadwal, biaya dan semua hal-hal yang teknis, sudah pasti kita juga kreatif mengatur mimpi, pola pikir, rasa, ekspektasi, proses belajar juga respon dari orang lain.

Jangan pernah merasa sedih dan kecewa ibu jika kita merasa karya kita “dicuri” orang lain. Percayalah, there is nothing new under the sun. Semua hal adalah pengulangan dengan sedikit inovasi, improvisasi dengan referensi dan cita rasa yang personal.

Bagi saya juga tidak akan ada tempat bagi mereka yang menyukai jalan pintas. Sabar selalu, dan menunggu waktu yang tepat akan jauh membuat hidup kita lebih bermakna dan mudah diteladani oleh anak-anak kita dibandingkan mengambil jalan instan dan terburu-buru hanya karena kita suka membandingkan diri kita dengan orang lain, apalagi sampai memiliki perasaan bahwa diri ini tidak berguna dan tidak berdaya. Jujur, perasaan ini juga saya alami juga ketika menjadi ibu baru. That’s normal.

 

  1. Tekun, konsisten dan teruslah berlatih, ibu.

Banyak hal yang membuat kita kadang bosan, jenuh, capek, penat, bahkan stress saat kita mulai berkarya. Tapi saya juga menemukan banyak kejutan-kejutan manis dan  hebat dari detail pekerjaan yang saya kerjakan.

Tekun dan sabar adalah komitmen yang harus ada di dalam diri.

Konsisten adalah sikap yang menghasilkan pola baik dan teratur. Ketika kita mendapat penghargaan atau bonus materi, itu adalah konsekuensi dari buah tekun dan konsisten.

Layaknya seorang atlit, latihan dan jam terbang adalah proses yang harus dijalani untuk menjadi yang terbaik di bidangnya. Baik menjadi pekerja maupun menjadi ibu dan istri.

 

  1. Respek terhadap talenta

Apapun yang sedang kita kerjakan, itu adalah cara kerja talenta yang kita punya sejak lahir. Talenta tidak pernah bohong. Dialah yang membuat kita menjadi diri sendiri, membawa kita ke banyak pengalaman dan kegilaan dalam berkarya. Saya beruntung pernah mencoba banyak pekerjaan dan mengeksplorasi talenta di dalam diri saya (meskipun butuh waktu sangat lama). Bersyukur jika kita sudah tau apa talenta, percayalah itu yang akan membawa kita ke tempat yang seharusnya. Jangan berhenti mendengarkan diri sendiri, just be yourself. Don’t be normal, Ibu.

 

  1. Perbanyak membaca, bersosialisasi dan berdiskusi

Dunia pekerjaan apapun selalu melibatkan orang. Meskipun revolusi industri 4.0 sudah di depan mata, di mana online dan digital (bahkan juga kecerdasan buatan) adalah masa depan, saya masih percaya pekerjaan apapun tetap akan melibatkan orang. Saya percaya tidak ada seorang yang bekerja sendirian meskipun dia seorang penyanyi solo atau atlet tunggal.

Banyak membaca buku dan dekat dengan literasi adalah salah satu modal kita bergaul, berjejaring, berbagi, menyerap informasi, mendapatkan kesempatan atau bahkan wisdom dari orang lain.

Berdiskusi dengan orang lain pun sangatlah penting karna kita bukanlah Yang Maha Benar. Maka bertukar pandangan, berkonflik, mencari solusi dengan pemikiran dan hati yang terbuka tanpa paksaan adalah pemberdayaan diri menjadi pekerja dan ibu yang mumpuni.

 

  1. Berkolaborasi

Saya penganut konsep “One man show is a big no no”. Maka sepanjang karir, saya selalu melibatkan orang untuk bekerja sama, berproses bersama, belajar bersama demi menuju satu tujuan yang disepakati bersama. Apalagi setelah menjadi seorang ibu. Saya selalu mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan berkolaborasi daripada bekerja sendirian. Saya selalu membangun tim dan merawatnya agar terus berkembang bersama-sama.

Berkolaborasi dengan orang lain juga amatlah penting. Pembauran dengan banyak orang, lintas generasi, gender, umur, latar belakang, keahlian dan lintas pekerjaan, semuanya sanggup membuat otak kita menyerap hal yang lebih kompleks, memicu bekerja lebih keras, mengasah rasa, melatih kita untuk menghargai perbedaan dan meningkatkan kemampuan menjadi pribadi yang lebih matang, perilaku lebih efisien juga menghasilkan buah pikir yang baik. Hal-hal seperti ini yang saya rasa akan semakin dibutuhkan anak-anak kita di masa mendatang.

 

  1. Memiliki komunitas

Saat ini saya memiliki lebih dari 3 komunitas yang sudah berjalan lebih dari 3 tahun. Buat saya yang menjadi ibu rumah tangga dan ibu bekerja, segalanya terasa saling terkait, dan saat ini banyak terbantu karena adanya komunitas. Selain mendapat keuntungan berjejaring, memiliki kelompok dengan minat yang sama mempermudah kita untuk terus belajar dan berkarya secara bebas. Merawat pertemanan dan pekerjaan di dalam berkomunitas menjadikan investasi penting untuk anak-anak kita di kehidupan mereka kelak. Mereka akan ikut belajar dengan mudah dan nyaman dari orang-orang yang sudah kompeten dan dipercaya  oleh orang tuanya.

 

  1. Merawat diri

Berikut ini hal-hal yang menurut saya penting dilakukan demi me-recharge otak, jiwa dan raga :

  • Mengikuti kelas, kursus, seminar, diskusi dll, dari mulai materi yang erat hubungan dengan event sampai kelas lainnya, misal kelas public speaking, kelas finance, kelas menulis, kelas parenting, kelas melukis, dll.
  • Travelling terjadwal rutin dilakukan bersama keluarga. Dalam negeri maupun luar negeri. Pengalaman ruang, tempat, waktu yang baru selalu menambah kaya jiwa kita.
  • Me time rutin dilakukan seminggu sekali. Baik yang dilakukan untuk diri sendiri (misalnya spa, olahraga, masak, dll)  atau bersama orang lain (misalnya kencan dengan pasangan, kencan dengan anak, pergi dengan teman, berkumpul dengan keluarga)
  • Membaca minimal 1 buku dalam sebulan. Ini selain untuk diri sendiri juga memberi contoh kepada anak-anak, di era serba digital ini perlu menjaga agar anak juga melek literasi yang manfaatnya terbukti sangat banyak di masa mendatang.

 

  1. Cintailah pekerjaan

Klise? Sudah pasti. Karena cinta memiliki daya magis untuk apapun di seluruh lini kehidupan. Teguh dan bersikukuh pada jalur karir yang sudah kita pilih sendiri, akan lebih mudah dikerjakan tanpa keluhan berarti, daripada kita mengerjakan sesuatu yang mengikuti trend atau hanya berdasarkan perintah. Bersyukurlah kepada mereka yang sudah menemukan cinta saat berkarya dan bekerja. Cinta bisa mewujudkan mimpi dan mencapai tempat-tempat mustahil di pekerjaan dan di kehidupan. Buat saya, love always wins.

 

  1. Bersyukur, ikhlas dan berbagi

Semuanya sangat mendukung kita untuk berkarya dan bekerja. Ada nilai yang tidak terukur didalamnya, karena semuanya hanya bisa dirasakan. Ilmu dan pengalaman amat perlu dibagi, disebarluaskan untuk kepentingan yang lebih baik dan lebih banyak. Tidak ada pekerjaan yang lebih baik atau lebih buruk, lebih mulia atau lebih hina (kecuali korupsi). Semuanya memiliki nasib dan takdir masing-masing.

Meskipun sebenarnya saya pun memerlukan waktu lama untuk tidak membanding-bandingkan pekerjaan saya dengan orang lain. Beruntung sekarang saya menjadi ibu, jadi lebih fokus untuk meninggalkan teladan dalam karya dan pekerjaan kepada anak-anak untuk mereka pelajari kelak.

 

Demikianlah ibu beberapa tips dari saya selama menjadi perempuan dan ibu bekerja/ibu rumah tangga yang bekerja dari rumah. Jika semua point dikerjakan dengan hasrat dan kesetiaan, maka rejeki akan mengikuti. Mendapatkan pengakuan, penghargaan atau award, hanyalah konsekuensi dan resiko dari karya yang dikerjakan dengan hati.

 

Teruslah berkarya dengan sepenuh hati, Ibu.

 

 

 

Leave A Reply

Navigate