Trimester Pertama : Stop and Listen

Buat saya kehamilan adalah sesuatu yang luar biasa, saya jatuh cinta dengan semua apa yang tubuh saya lakukan. For me, being pregnant is a miracle, menumbuhkan satu makhluk hidup dalam perut, ah rasanya tidak mungkin, saya yang sembrono, kadang  meledak-ledak bisa diberikan Tuhan Alam Semesta, kehidupan lain di perut saya.

Bahkan semua keajaiban di hidup saya terjadi karena kehamilan. Tapi keajaiban tidak melulu dimulai dengan indah dong. Kalau kamu sudah lama mengikuti blog @haloibu.id, pasti tahu bahwa dulu saya hamil saat baru berkenalan dengan Ray selama 3 bulan, kami menikah saat saya mengandung Mahija 3 bulan, dan melahirkan saat menikah 6 bulan. Everything was fast, I cant event digest. Memulai kehamilan bukan momen terfavorit dalam hidup saya. Memberitahukan semua orang tentang saya akan menikah dan hamil apalagi. Lima tahun lalu rasanya saya tidak suka dengan topik kehamilan. I hated it.

Tapi saat hamil saya bisa berdamai, bertemu Robin Lim, Lanny Kuswandi, Reza Gunawan – Dewi Lestari membuat saya mengerti akan kehamilan. Bidan Erie Marjoko yang dipilih Mahija untuk menemani kelahiran di rumah, Ray yang ikut menangkap Mahija saat lahir. Everything fell into places simply because I try to accept everything what has happen and also listening to my body. My body give signals, my baby is smart, and mother earth takes care of me.

So, this time of pregnancy should started with a bang right?

Well….yes and No.

Agustus 2017

Saat menjadi Doula saya berjanji untuk menjaga rahim dan diri saya sendiri. Saya memutuskan untuk mencabut IUD Spiral. Hari itu saya yakin ini keputusan terbaik. Saya ingin kembali menghargai rahim saya. Ray juga mendukung, karena siap bila alam semesta percayakan kami dengan satu anak lagi. Setelah melalui sejumlah #lingkaranibu , release yang cukup banyak, berkontemplasi, saya siap menjadi Ibu kembali. Universe, bring it on!

Saat memulai menstruasi terakhir di  28 Agustus 2017, saya pergi ke dokter dan mencabut IUD.

September  2017

I feel pregnant. I do. Sepertinya saya sudah hamil. Pastinya saya dan Ray berhubungan, tidak terjadi begitu saja bak film-film alien hehe.  Minggu pertama September, saya merasa ada yang berubah pada tubuh saya. Terutama Payudara saya jadi lebih lembek, saya lebih sensitif. Memang belum waktunya menstruasi, jadi saya tidak tahu saya hamil atau belum. Saya mulai memegang perut dan berseru dengan anak yang berada di dalam perut. Ah kalau pun belum ada, saya ingin sekali bila memang ada. Jadi hitung-hitung berdoa. “Baby, if your in there, I’m ready for you”, kira-kira itu kalimat saya.

28 September 2017, kok saya belum menstruasi yah.  Coba beli testpack. Coba di tes. Dan… 2 strip. Saya hamil! Rasanya mau jumpalitan teriak depan jendela. Hehe. Beda sekali dengan kehamilan pertama, saya tak sebahagia ini melihat 2 strip. I was right, my body was right, I am pregnant. Saat memberitahukan kepada Ray, Ray menangis di telepon. We are so happy and bless. Really. But am I ready to announce it to the world? No.

Oktober 2017

Saya menikmati kehamilan dengan tidak memberitahukan kepada semua orang. In my mind if I tell everybody, they wouldn’t be as happy as I am like what was happen on my first pregnancy. Jadi lebih baik saya simpan dulu.

Tapi kok rasanya beda yah? Dulu perasaan kuat-kuat ajah, bahkan enggak mual-mual. Berasa jagoan deh. Pada kehamilan kedua ini saya merasa sangat mual. Mencium bau masakan, ah mau muntah. Mencium bau badan suami rasanya mau kabur. Mencium bau Mahija, kok jadi asem yah ini anak? My body was tired most of the time juga.

Tapi…

Ray yang juga beristri doula, juga pernah ikut kelas persalinan, sudah sering saya ceritakan tentang kehamilan, bahkan ikut wawancara Ibu Robin, masih belum paham betul. Saat dulu kehamilan pertama pada trimester pertama, kami belum menikah, jadi Ray tidak banyak melihat perkembangan kehamilan saya. Walau kita sering bertemu, tapi yah gitu deh kurang perhatian.

Nah, saat kehamilan ini Ray pernah bilang, ah lebay nih mual-mual, bernafas ajah. Rasanya kesal sekali. Kenapa ya mual? Karena peredaran hormon di tubuh meningkat tajam untuk pertumbuhan bayi, Ibu jadi beradaptasi dengan hormon-hormon ini. Salah satunya lidah jadi terasa seperti besi, tidak enak, ini kadang yang membuat jadi mual.  Saya sempat berantem dengan Ray. Akhirnya saya belikan dia buku tentang kehamilan bergambar untuk anak, ada bagian Ibu akan mual saat hamil. Ray baru mengerti. Fiuh……

November 2017

Saya siap memberitahukan orang-orang terdekat, saya hamil .

Mulai dari teman-teman terdekat. Saat saya memberi tahu mereka semua memeluk saya dan bahagia, bahkan ada yang nangis. Saya juga tak bisa berhenti menangis, bahagia sekali. Rasanya kok banyak cinta yah pada kehamilan ini.

Saya masih menemani kelahiran bulan ini, partner doula saya Mba Imu, belum tahu saya hamil. Jadi saat mual saya membawa permen, dan mengatur pernafasan sambil berafirmasi dengan anak di dalam perut, Nak kita kuat yah menemani temanmu. Saat ngedoula saat perlu  makan saya akan makan. So everything went well.

Saat saya memberitahu teman-teman doula, semua menangis dan memeluk bahagia. Semua tulus  dalam hati mereka, mengetahui saya hamil. Langsung saya mewek. Ah, benar-benar saya beruntung.

Desember 2017

Saat #festivalahir saya masih membawakan acara dari pukul 06.00, pulang pukul 19.00. Sempat capek, tapi rasanya bahagia bisa ikutan di acara yang keren banget. Saya tidak mual sama sekali. Lalu kami sekeluarga sempat traveling ke Jepang selama 15 hari, saya juga merasa sehat dan bahagia. Walau tidak ambisisus pergi ke semua tempat. We rest when we need it-lah traveling kali ini.

Tapi bulan ini energi seperti turun dan rasanya malas menghadapi dunia. Saya sebal dengan pekerjaan dan hanya ingin berada di gua saja. Tiduran di rumah. Sebenarnya, ini masuk akal.

There is a the disruption of linear thinking due to hormones that begins in the first few months and carries well into breastfeeding. I believe our hormones slow down and make us forgetful during pregnancy is to encourage the cultivation of ‘mother-mind’, an highly intuitive and relaxed way of thinking and being.  Mother minds tunes us into the body, so we may have optimal health when labor begins, ready to surrender to challenges of giving birth and the task of caring for a newborn without lasting stress of fear”, Orgasmic Birth -Elizabeth Davis and Debra Pascali-Bonaro.

Januari 2017

Sebenarnya melambat baik, tapi tidak masuk ke gua. Saya kehilangan beberapa teman karena ingin merasa nyaman. Reminder to me to be better next time.

Memasuki trimester kedua, Saya masih menemani lahiran hingga 12 jam . Saya sudah tidak banyak mual, tapi masih  butuh waktu untuk bergerak. Ah saya pikir kehamilan selalu harus terus melihat kedalam dan melambat, saya lupa saat membantu perempuan lain saya mendapatkan pengalaman keajaiban yang mengajarkan saya menerima diri saya sendiri lagi, melihat betapa tubuh kita sangat kuat dan bisa melakukan apa saja.

Jadi Ibu, setiap kehamilan itu berbeda, merefleksikan kehidupan perempuan itu sendiri. Every pregnancy will teach us something.

Bagaimana cara untuk mendengarkan tubuh sendiri? Cobalah untuk duduk hening dan mengikuti nafas. Konsentrasikan di pernafasan, 5-10 menit setiap hari. Atau cobalah menari mengikuti irama lagu dan dengarkan saja lagunya dan biarkan tubuh ikut. Makanlah jika ingin makan, minum jika ingin minum, berjalan jika butuh bergerak, berhenti jika ingin berhenti.

Stop, and listen to your body, compliment her, clean your mind and let your body lead you.

Leave A Reply

Navigate