Our Thoughts with Evy: Fighting Postpartum Depression

Malam itu, Evy mengajak ketiga anaknya yang masih kecil ke kamar mandi rumahnya sambil membawa sebotol racun serangga. Tujuannya cuma satu, mengakhiri hidup mereka bersama-sama. Ketiga buah hatinya meninggalkannya selamanya, tapi Evy bangun keesokan paginya. Sendirian, menghadapi penyesalan dan penghakiman yang tidak terkira pedihnya.

Tak akan ada yang tahu sepenuhnya apa yang ada di benak Evy malam itu. Mungkin, ia muak menunggu suami yang tidak pernah lagi mengunjunginya, apalagi menafkahinya dengan layak. Mungkin, ia terguncang menerima kabar rencana suaminya untuk menikah lagi. Mungkin, ia kesepian tanpa seorangpun yang bisa diajak bicara tentang masalahnya. Mungkin, ia putus asa akan masa depan anak-anaknya yang gelap tanpa selembarpun dokumen resmi, akibat status pernikahannya yang tidak sah di mata hukum.
Sebagai sesama ibu, kita pasti bisa langsung melihat bahwa Evy menderita postpartum depression. Sayangnya, tidak semua orang memahaminya sehingga gejala- gejala awal yang dialami Evy tidak ditangani dengan serius.
Di Indonesia sendiri, kasus postpartum depression ditemukan pada setidaknya 2 juta orang perempuan setiap tahunnya. Bahkan setelah banyak riset dilakukan tentang postpartum depression, belum ditemukan penyebab khusus dari kasus yang menyerang 1 dari 8 perempuan ini.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir risiko postpartum depression? Persiapan sebaik mungkin dan kerja sama dengan orang-orang terdekat adalah kuncinya. Ada beberapa hal yang bisa kita coba;

1. Ajak suami mengenal postpartum depression sejak masa kehamilan. Baca buku dan artikel bersama-sama serta diskusikan dengan dokter. Katakan pada suami untuk mempersiapkan diri dan membantu jika Ibu mulai terlihat mengalami gejala postpartum depression.

2. Pelajari sebanyak mungkin hal yang ibu perlu tahu pasca-melahirkan. Teknik menyusui, manajemen ASI, memandikan dan menggendong bayi. Jika perlu bantuan pengasuh, mulai cari dari sekarang. Semakin ibu merasa siap, semakin ibu merasa percaya diri.

3. Persiapkan proses kelahiran dengan baik supaya ibu merasa bugar dan senang ketika melaluinya. Ikut prenatal yoga, kelas meditasi, dan lain sebagainya untuk mempersiapkan fisik dan mental.

4. Bangun jaringan postpartum communal days. Buat perjanjian dengan teman dan keluarga mengenai kapan Ibu siap ditemui dan untuk berapa lama setiap harinya. Boleh juga minta mereka membawakan makanan yang Ibu suka.

5. Usahakan beristirahat yang cukup. Jangan ragu minta bantuan jika memang sudah kewalahan. Jangan sampai karena fokus pada bayi, Ibu menelantarkan diri sendiri.

6. Ikut support group. Postpartum depression lebih mudah dihadapi ketika kita tahu ada ibu lain yang pernah mengalami hal yang sama dan berhasil melaluinya. Ibu bisa mengikuti Lingkaran Ibu dan mendapatkan dukungan yang ibu perlukan.

Saya berdoa agar ada keadilan bagi Evy. Di kesempatan kedua hidupnya ini, semoga ia mendapatkan pendampingan dan pengampunan yang sebelumnya tidak bisa ia dapatkan.

Saya juga berdoa untuk seluruh ibu di dunia. Semoga kita selalu diberi kekuatan, diberkahi dengan lingkungan yang penuh kasih dan pemahaman. Supaya, tidak akan pernah lagi ada Evy- Evy yang lain.
#sadarpostpartumdepression
#ppdawareness
#ibuhadapippd
#kamibersamaibu

Leave A Reply

Navigate