Ibu and Self Actualization

Saya percaya bahwa kita tidak akan mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan orang lain jika kebutuhan diri kita sendiri pun belum terpenuhi. Bukannya mau egois, tapi, bahkan dalam panduan keselamatan di pesawat kita dianjurkan untuk lebih dulu mengenakan masker oksigen sebelum membantu orang lain kan? 😊

Sementara itu, menjadi seorang ibu berarti menerima kenyataan bahwa ada mahluk kecil yang sepenuhnya bergantung pada kita dan support system kita untuk tetap hidup. Tak perlulah kita bahas soal jam tidur yang memendek, jadwal salon yang berantakan, atau acara jalan- jalan dan ngopi bersama girl gang yang jauh berkurang – saya rasa kita sudah sama-sama ikhlas. Mari bicara soal kebutuhan yang lebih kompleks dan sering kita tidak sadari, yaitu self actualization atau aktualisasi diri.

Menurut Abraham Maslow, bapak Psikologi modern, kebutuhan manusia dapat dikelompokkan secara berurutan sebagai berikut;

  1. Kebutuhan fisiologis; sandang, pangan dan papan
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan akan kasih sayang (affection)
  4. Kebutuhan akan penghargaan
  5. Kebutuhan akan aktualisasi diri

Pernahkah Ibu merasa jenuh berkepanjangan? Seperti ada lubang dalam hati yang ingin ditambal, atau perasaan sejenis, “masa sih saya gini-gini doang?” Nah, bisa jadi ada kebutuhan akan aktualisasi diri yang perlu Ibu penuhi. Jangan biarkan perasaan ini berlarut- larut ya Bu, karena berpotensi berkembang menjadi frustasi dan stress.

Mengaktualisasi diri kita tak selalu harus dengan meneruskan Pendidikan S2 atau S3 dan kembali bekerja. Jika ada kesempatan dan kondisi memungkinkan, go get it, Ibu! Tapi jika belum, tak perlu sedih ya Bu, aktualisasi diri bisa dilakukan hampir dalam kondisi apapun.

Kuncinya adalah mengenali diri kita sendiri dan hal- hal apa yang membuat kita tertarik. Banyak dari kita yang bahkan tidak tahu passion kita. Segera temukan ya Bu, dan mulailah aktualisasi diri Ibu dari sana.

Beberapa langkah mudah yang saya sarankan untuk ini adalah;

  1. Get Inspired

Feed your mind. Baca buku- buku self-help, update berita terbaru dalam dan luar negeri, tonton TED Talks, browsing pinterest, cek tutorial make up atau video memasak serta art & craft. Intinya, temukan aktivitas baru atau ide segar yang membuat Ibu tertarik untuk belajar setiap harinya. Buka pikiran, kosongkan gelas, you are ready to go!

  1. Get Involved

Setelah menemukan banyak referensi, turn your thoughts into action, Ibu. Eksperimen gaya make up atau gerakan yoga baru. Ikut kelas membuat pottery atau menjahit. Praktek memanggang pizza dan brownies. Ikut workshop menulis dan memotret. Belakangan banyak sekali dibuat kelas- kelas ad hoc berskala kecil sampai medium untuk membantu kita menyalurkan passion. Ayo proaktif mencari, dan temukan yang diadakan di kota Ibu.

  1. Get It Done

Let’s push yourself further. Selesaikan sebuah proyek, dan cari tahu apakah Ibu dapat mewujudkannya menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Buat kue untuk dibawa ke arisan RT kemudian buka pesanan. Buat website lalu maintain dengan konsisten. Beberapa bulan lalu saya menyelesaikan sebuah novel dalam kurun waktu 30 hari, lalu mengirimkannya ke salah satu penerbit. Puji syukur, belum ada tanggapan. Tapi, saya jadi tahu bahwa saya bisa melakukannya, dan saya pasti akan mencobanya lagi lain waktu.

Banyak teman saya yang berhasil membuka berbagai usaha dari catering, café, hingga perpustakaan anak sebagai aktualisasi diri mereka. Tapi ya, mereka memulainya dari skala kecil dulu.

Intinya, jangan takut mencoba ya Bu. Get out of your comfort zone and enjoy yourself. Jangan ragu juga untuk melibatkan suami dan anak dalam aktivitas baru Ibu supaya mereka juga mampu memahami hal- hal yang Ibu sukai.

Good Luck Ibu!

Leave A Reply

Navigate