Kenapa #ibuberdaya?

Berawal dari pilkada DKI yang secara massif mudah ditemukan banyak pengguna socmed menjadi korban dari bisnis ujaran kebencian hasil karya sekelompok orang yang sudah dipesan oleh pelaku politik di negeri ini. Hasilnya kita semua tahu sungguh sukses dan fantastis bisnis kebencian ini dilakukan oleh anak-anak kecil, remaja, bapak-bapak, dan ( yang paling menyedihkan buat gue ) ibu-ibu!

Banyak ditemukan postingan nyinyir, sinis, marah, umpatan enggak pantas yang ditemui di akun-akun social media ibu-ibu. Seolah enggak mau kalah berlomba-lomba sama kaum muda dan para bapak untuk serta terdepan menjauhi sopan santun, tutur kata baik, menghormati, menghargai orang lain, bertoleransi dan juga menjauhi empati.

Puncak keresahan adalah ketika menemukan postingan seorang ibu yang sungguh manis dan religius, berkata sangat kasar ( menurut gue sih kasar ya ) dan tidak pantas kepada ibu lain yang sedang kena musibah dan sedang amat sangat kesusahan. Wow. Percayalah,  jika kejadian itu berbalik menimpa si ibu nyinyir, sudah pasti dia pun gak mau dihujat, dihina atau  diintimidasi. Sudah pasti umumnya manusia jika sedang susah maunya juga disupport, disayang, dikelilingi oleh orang yang perhatian, yang berempati.

Sayangnya gue dulu kayak gitu. Gue dulu si ibu nyinyir itu. Beberapa temen gue pasti tau dan paham, betapa gue mudah banget nyindir orang, selepet sana sini, maki-maki anak orang seenaknya, nyela-nyela dengan culas pedas dan sumpah serapah yang lancar banget keluar dari mulut comberan gue. Itu sudah gue lakukan jauh sebelum era socmed dimulai. Gue sudah lihai melakukannya di depan muka orang yang ingin gue protes. Enggak perlu deh pake-pake ngumpet nulis di socmed. Samperin aja dan langsung semprot. Mirip lah efek menyebalkannya seperti si ibu nyinyir diatas tadi. Kadang lebih dasyat malah.

Sampai akhirnya anak saya meninggal.

Tepat ketika saya sedang sukses menjadi ibu nyinyir.

Lalu semua selesai. Lalu semua gelap. Lalu saya ingin dimaafkan. Lalu saya ingin diampuni. Lalu saya ingin disayang.  Lalu saya ingin semua orang bersimpati sama saya. Kemudian banyak terdiam, merenung, refleksi diri, mencari, bertanya tiada henti, berdoa tak putus. Saya tidak menyalahkan diri sendiri atas meninggalnya anak saya. Tapi buat saya ini adalah teguran spiritual dari semesta. Dibuat mingkem mulut saya. Dibuat sunyi kuping saya. Dibuat hening hati saya. Hancur.

Dan sayapun pelan-pelan bangun. Ingin cepat-cepat perbaiki diri. Buru-buru ingin jadi ibu baik. Dalam konteks dunia orang tua, dunia peribu-ibuan, saya segera sadar, engggak ada satu ibu pun di dunia ini yang berhak dihina, dinyinyirin, disinisin, diintimidasi, di-bully. Masing-masing ibu memiliki latar belakang sendiri-sendiri, memiliki momen sendiri-sendiri, memiliki perjuangan hebat sendiri-sendiri. Dan tak satu pun dari mereka berhak dinilai apalagi di-judge. Oleh ibu lain. Oleh orang lain.

Kita bukan Tuhan. Kita manusia. Kita sesama ibu-ibu. Sama- sama pembuat pondasi keluarga agar selalu kuat, santun, harmonis, tabah, menjaga, menghormati dan menghargai. Kalau ibu sibuk nyinyir, lalu gimana kelangsungan hidup generasi berikutnya?

Atas dasar keresahan itulah gerakan ini dimulai. Ingin mengingatkan ibu lain untuk selalu santun dan ikhlas menghormati perbedaan. Ingin mengajak ibu lain untuk menjadi andalan untuk ibu lainnya. Caranya ? Tidak muluk-muluk. Gak harus punya followers banyak dulu.  Enggak perlu harus terkenal duul. Yang dibutuhkan hanyalah menyayangi ibu lain. Paling tidak menghargai ibu lain. Kalaupun sulit, cukup mendengarkan, syukur-syukur mendekapnya meringankannya. Kalaupun masih berat, cukup diam saja.

Dalam waktu sehari 24 jam, bisa jadi ada ibu yang bisa memanfaatkan waktu dengan maksimal, tapi ada ibu yang kesulitan mengerjakan rutinitasnya. Ada ibu yang puas berjam-jam nungguin anak bermain, tapi ada ibu yang itungan banget sama “me time”. Ada ibu yang sangat mandiri tanpa merasa perlu melibatkan suami, tapi ada ibu yang amat sangat tidak percaya diri dan selalu tergantung suami. Ada ibu yang sadar total mengasuh anak, tapi ada ibu yang ketakutan atas penilaian orang lain dalam mengasuh anak. Ada ibu yang tekun menyiapkan moral anak, tapi ada ibu yang santai membiarkan anak terlibat hal radikal.

Buat saya sekarang itu semua sah saja.

 

Perbedaan-perbedaan yang terjadi, sejatinya menjadi ladang untuk berlomba berbuat kebaikan, saling mengenal, saling membantu, saling mengingatkan, saling memahami, saling mendukung, saling melindungi. Perbedaan adalah anugrah terindah yang pernah kita miliki dari Yang Maha.

Maka melalui gerakan #IbuBerdaya ini diharapkan para ibu bisa sedikit saling berkontribusi baik untuk ibu lain, saling berlomba membuat perubahan yang lebih baik dari seorang ibu ke ibu lainnya.

Dimana sejatinya semua ibu adalah ibu berdaya. Dan akan lebih menenangkan jika ibu saling  berbagi waktu, cerita, pengalaman, cinta dan inspirasi ke ibu lain. Dengan demikian diharapkan bisa menciptakan kebiasaan baik agar #ibusayangibu lain, dan sama-sama tahu di dunia ibu ini mereka tidak sendirian.

 

 

Untuk ibu-ibu yang sudah merasa berdaya,

Untuk ibu-ibu berdaya yang belum merasa,

Aku mendoakanmu.

 

 

 

Love & Respect,

Sessa Xuanthi

– ibu 3 anak

@sessaxuanthi #ibuberdaya.

Mega Novelia #ibuberdaya.

 

photo series #ibuberdaya by Sigit Pratama

 

Leave A Reply

Navigate