Ibu Juga Manusia

 

 

“Don’t judge a situation that you’ve never been in” sepertinya adalah kalimat yang tepat mewakili apa yang saya simpulkan setelah duduk bersama dalam lingkaran cinta ibu-ibu Surabaya pada hari Minggu, 14 Mei yang lalu. Betapa kita tidak punya hak sedikit pun untuk memberikan penilaian terhadap apa yang dialami dan dilakukan orang lain, dalam hal ini ibu lain, karena kita tidak ada di posisi mereka. Kalaupun ada kemiripan cerita, tetap saja situasi, kondisi, ‘pemeran pendukung’ dalam kisah hidup masing-masing sama sekali berbeda, dan yang terpenting adalah karena kita tidak merasakan yang mereka rasakan, we don’t feel what they feel.

 

Sebuah kemewahan bagi saya yang seorang Psikolog bisa mencurahkan isi hati dan kekhawatiran sebagai ibu selama ini kepada ibu-ibu lain yang belum terlalu saya kenal baik. Selama ini saya terbiasa mendengarkan kisah orang lain dan berusaha membantu orang lain, termasuk para ibu, untuk menemukan solusi terbaik bagi permasalahannya masing-masing. Mungkin selama ini orang berpikir betapa beruntungnya bila seorang ibu sudah memahami dan ahli dalam ilmu psikologi karena menjadi mudah untuk menjalani kehidupan sehari-hari sebagai orang tua. Kenyataannya psikolog (baca: saya) juga manusia yang punya emosi, dimana bila emosi sudah muncul, maka kemampuan otak untuk berpikir jernih pun dapat terhambat. Boro-boro memikirkan teori untuk menemukan solusi hehe.. Kalau sudah begitu yang dibutuhkan tentu mencurahkan isi hati alias ‘curhat’ kepada orang lain yang tidak harus mengerti, tapi mau menyediakan waktu dan hati. Seringkali di saat wanita menceritakan permasalahannya, yang kami butuhkan adalah kesediaan untuk mendengar, kalimat dukungan, dan sesekali pelukan.

 

Dalam Lingkaran Ibu Volume 5 yang diadakan di Libreria Eatery Cafe, saya menceritakan suka duka saya sebagai ibu sejak hamil sampai melahirkan yang, menurut saya, penuh tantangan. Lagi-lagi mungkin saja tantangan saya ini dianggap mudah oleh orang lain dan sebaliknya, tapi kami saat itu dibimbing oleh Ashtra, Doula kami dalam Lingkaran Ibu, untuk mendengarkan kisah ibu lain tanpa men-judge. Sehingga kamipun merasa aman dan nyaman untuk bercerita apa adanya saat itu. Saya hamil dan melahirkan Raka di saat sedang menempuh pendidikan Magister Profesi di Jogja, sendirian, jauh dari suami dan keluarga besar. Secinta apapun saya dengan dunia anak-anak dan sesiap apapun saya sebelumnya untuk menikah dan menjadi ibu, ternyata perubahan pola hidup dengan hadirnya Raka (anak pertama saya) tetap membuat saya merasakan yang namanya baby blues.

 

Ibu-ibu lain bercerita bagaimana tantangan mereka mengasuh anak saat harus berbeda pendapat dengan anggota keluarga terdekat seperti orang tua dan mertua. Sebagian Ibu menceritakan ketegarannya saat harus tetap berusaha memberikan cinta kepada buah hati tanpa dukungan maksimal dari pasangan. Ada pula yang sudah berusaha sekuat tenaga menjaga kehamilan tapi ternyata tetap mengalami hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti halangan untuk melahirkan secara normal, kondisi bayi yang berbeda dari bayi lain pada umumnya, hingga masalah dalam pemberian ASI. Bagi saya menarik ketika mendengarkan dua orang ibu yang memiliki anak kembar bercerita saat mereka sebenarnya tidak menghendaki kehamilan anak kembar pada awalnya karena satu dan lain hal. Selama ini kita sering mendengar orang pada umumnya menganggap seru dan menyenangkan memiliki anak kembar. Ternyata tidak semua beranggapan seperti itu. Di saat itulah saya benar-benar semakin memahami bahwa kita tidak berhak memberikan penilaian baik buruk sedikitpun terhadap kondisi dan situasi orang lain.

 

Seringkali tekanan yang hadir bukan karena kita sebagai ibu tidak mampu menjalankan peran kita dengan maksimal, tapi penilaian dari lingkungan sekitar yang menganggap usaha kita belum maksimal. Setiap perempuan membutuhkan dukungan perempuan lain, setiap ibu membutuhkan dukungan ibu lain. Ashtra mengajak kami diajak untuk melepaskan beban pikiran yang dialami selama ini agar dapat menemukan hal-hal baik yang sudah ada dalam diri kami dan mengenalkan pada kami pentingnya memberikan cinta pada diri sendiri. Bila selama ini mungkin kita merasa khawatir akan penilaian ibu-ibu lain dan enggan dibanding-bandingkan kemampuan mengasuhnya dengan ibu-ibu lain, dalam Lingkaran Ibu kami justru merasa dicintai dan mendapat dukungan sepenuhnya dari ibu lain. Senang sekali. Pulang dari Lingkaran Ibu rasanya saya semakin mencintai diri sendiri dan siap kembali berbagi cinta dengan keluarga dan orang di sekitar.

 

It’s not what you are that is holding you back. It’s what you think you are not. So stop trying to be a perfect mother, give much love to yourself and find an unjudgemental place to share, your lovely support system that will give you their 200% support and heart.

 

With love,

 

Iburakarayi

 

Leave A Reply

Navigate