If I’m happy, My Baby is happy too

“Sebenarnya saya hamil di luar rencana. Sebelum menikah, saya dan suami (terutama saya) sudah sepakat untuk menunda punya anak karena saya masih ingin berkarir dan suami saya juga masih sering bekerja di luar kota tiap bulannya untuk berminggu-minggu. Jadi menurut saya saat itu kondisinya masih tidak ideal untuk kami punya anak.

Tetapi akhirnya karena alasan pribadi yang tidak bisa saya jelaskan disini, kami pun tidak berusaha untuk menunda punya anak. Ya tapi saya nggak nyangka sama sekali kalau setelah menikah saya langsung hamil. Saya ngerasa belum punya rencana  apapun pada saat itu. Jadi saat pertama tahu saya hamil, saya stres banget.

Saya nangis sejadi-jadinya, saya berharap banget hasil di testpack itu negatif. Waktu itu saya langsung menelpon suami yang sedang  di luar kota dengan suara terputus-putus karena kondisi tempat kerja suami yang susah sinyal; sambil nangis saya bilang sama dia kalo saya hamil, tapi saya juga bilang ke dia kalau saya nggak bisa ngejalanin hamil dan punya anak sendirian dengan ditinggal-tinggal kerja keluar kota” , cerita Wina, Ibu dari Aldebaran (22 bulan).

Wina dan suaminya menjalani long distance relationship dari sejak sebelum menikah. Setelah menikah pun tidak ada yang berubah, suaminya masih sering bekerja di luar kota hampir setiap bulan untuk jangka waktu beberapa minggu. Wina sendiri mengisi hari-harinya dengan sibuk berkarir di salah satu perusahaan retail di Indonesia. Kondisi ini yang menyebabkan mereka (khususnya Wina) memutuskan untuk menunda memiliki momongan. Namun pada akhirnya mereka tidak jadi melakukan usaha-usaha untuk menunda kehamilan karena alasan yang personal. Hingga akhirnya dia hamil. Di saat yang sama suaminya sedang bekerja di luar kota. Dia benar-benar merasa sendirian, sangat terkejut, dan stres mendapati kenyataan bahwa dia hamil dan tidak punya rencana apapun tentang kehamilannya.

Tiba waktunya melahirkan, Wina kembali dilanda stres berat, atau bisa disebut baby blues. Dia yang masih bingung sebagai seorang ibu baru dan belum mengerti cara menyusui, harus menghadapi bayi yang tidak mau latch on hingga pada suatu malam angka bilirubin bayinya sangat tinggi dan terpaksa harus masuk NICU. Saat itu dia shock berat mendapati kondisi bayinya dan sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya dia merasa gagal menjadi seorang Ibu. Depresi dan rasa bersalah tersebut terus menyertai perjalanannya dalam menjadi ibu.

“Awalnya saya juga bingung kenapa ya rasanya pikiran saya negatif terus, ngerasa capek banget ya fisik ya psikis. Kayaknya susah banget buat happy dan berpikiran positif.

Padahal waktu itu Baran lagi lucu-lucunya dan nggak ada masalah berat yang harus saya pikirkan, tapi entah kenapa semuanya tetap terasa salah buat saya. Apalagi setiap suami dinas keluar kota seringnya jadi lost contact karena kondisi tempat kerjanya yang susah sinyal, jadinya saya sering ngerasa sendirian dan malah selalu mengasihani diri sendiri. Kalau udah gitu saya malah jadi sering marah-marah ke suami, juga ke anak. Terus setelahnya baru nyesel banget.

Padahal saya sayang banget sama anak saya, he’s the best thing that ever happen in my life and I literally would give my life for him. Tapi entah kenapa di saat yang sama saya juga ngerasa hampa dan ngga kenal lagi sama diri saya sendiri. And it’s not anyone’s fault, not my husband’s, not even my parent’s, it’s just me against myself.

Sampai akhirnya saya ikut sesi Lingkaran Ibu, saat itu saya lega banget setelah tau bahwa banyak Ibu lain yang ngalamin hal yang sama dengan saya (post partum depression), terutama sih berasa banget bahwa ternyata semua yang saya rasain ini ngga lebay dan dibuat-buat. Seneng banget bisa sharing semuanya, cerita jujur sama ibu-ibu lain yang bahkan baru pertama kali kenal tapi nggak ada satu pun yang ngejudge, bahkan malah saling menguatkan dan menularkan energi positif.” Jelas Wina kepada tim saya.

Sekarang Wina sudah berhasil pulih dari depresi yang dirasakannya dan menjadi lebih positif dan happy dalam menjalani perannya sebagai seorang Ibu.

“Sekarang mindset saya sudah positif dan lebih baik, jadi cara saya bereaksi terhadap semua hal baik yang terduga maupun tidak terduga jadi lebih terkontrol. Namanya hidup ya, apalagi menjadi Ibu, pasti akan selalu dipenuhi kejutan di dalamnya. Tapi saya udah lebih siap aja menghadapi semuanya, pokoknya saya menganut prinsip kantung oksigen deh. Yang penting saya dulu harus happy, baru saya bisa bikin anak saya juga ikutan happy.

Selain itu saya juga jadi lebih santai ajah jadi Ibu, nggak berusaha buat jadi seperti ibu-ibu ideal di Instagram. Memilah informasi apa yang mau saya liat di sosial media juga penting sih, kayak sekarang saya milih untuk nggak ngeliat hal-hal yang bisa bikin saya jadi nggak pede sama diri sendiri, yang bisa bikin saya selalu ngerasa kurang.

Ibu, wajar saja bila terkadang kita merasakan perasaan-perasaan yang negatif. It’s okay to feel overtired, sad, and resentful, at times. Motherhood is exhausting, and there is a lot going on that causes struggle, heartbreak, and worry.  Tell yourself it’s okay to feel like that. Dealing with the negative emotions of motherhood is a great way to keep sane. It is okay. You are a good mom. Even in all those moments.

You just need to guard your mind, choose the information that goes inside it. If it makes you hate yourrself, and compare yourself to others,  You can refuse to read it, or even blocked it. Because your happyness is crucial.

Leave A Reply

Navigate