Apa Saya Terkena Postpartum Depression ?

Menurut saya, melahirkan anak dan mengalami post- partum depression itu layaknya bermain Russian Roulette. Kita tidak tahu siapa yang akan kebagian selongsong berpeluru. Karena, tak peduli betapapun kita sudah menyiapkan mental dan merapikan birth plan serta check list, post- partum depression tetap saja bisa menyerang.

Saya mengalami post- partum depression setelah melahirkan putri saya. Sayangnya, saya tidak menyadarinya sampai setidaknya setahun setelah itu terjadi.

Kenapa? Karena saya tidak melihat diri saya sebagai target empuk post-partum depression. Terbiasa mengerjakan proyek-proyek dalam skala cukup besar, saya selalu mempersiapkan semua hal secara detail dan sejak jauh hari sebelumnya. Saya membuat check-list dalam bentuk excel untuk keperluan bayi, dan semuanya sudah terbeli 2 bulan sebelum HPL. Saya juga rutin menemui konsultan laktasi dan rajin ikut senam hamil. Saya tidak mudah panik, tidak hobi memperkarakan masalah kecil, dan saya akan menghabiskan masa post-partum di rumah orang tua saya, tempat dimana saya tumbuh dewasa. Saya pikir, saya akan aman.

Ternyata tidak Ibu- Ibu! 😀

Saya yakin jika Ibu google search, akan mudah menemukan serangkaian gejala post- partum depression. Tapi, kali ini saya akan membahas satu per satu gejala nyata yang saya alami. Heads up, Ibu. Jika mengalaminya, jangan menunda untuk mencari bantuan;

  1. Tidak Bisa Tidur

Segera setelah putri saya ditempatkan rooming-in dengan saya di rumah sakit, saya tidak bisa tidur lebih dari setengah jam. Saya luar biasa lelah, luka caesar saya belum pulih, tapi saya hampir tidak bisa tidur sama sekali. Pikiran saya selalu penuh dan sibuk, dan tubuh saya tidak bisa merasa santai.

2. Gelisah & Berhalusinasi

Berhubungan dengan gejala pertama, saya merasa akan terjadi sesuatu yang buruk dengan putri saya jika saya tidak menungguinya 24/7. Saya harus mengecek apakah ia masih bernafas, apakah suhu tubuhnya normal, dan apakah buang airnya baik puluhan kali dalam sehari. Seringkali, saya berlari ke kamar atau bangun dengan panik karena mendengar ia menangis, padahal tidak.

3. Merasa Kehilangan Diri Sendiri

Saya merasa jelek, lusuh, dan gendut. Saya juga merasa tak becus menjadi ibu. Saya sering menangis tanpa alasan jelas dan saya merasa akan jauh lebih baik bagi putri saya jika saya tidak ada di dekatnya.

Post- partum depression saya berbuntut panjang dan pada akhirnya saya harus dirawat di rumah sakit karena suatu hal. Peristiwa ini juga membuat saya melewatkan momen- momen pertama yang indah bersama putri saya. Memori saya tentang 2 minggu pertama kehidupan putri saya adalah malam- malam tanpa tidur, penuh teror, dan banjir air mata. Saya kehilangan 7 kg berat badan saya dalam periode 1 bulan.

Tapi, selain kemunculannya yang tanpa terduga, saya merasa sebenarnya ada beberapa faktor yang membantu memperparah post-partum depression saya. Saya pikir, sangat penting untuk mengenali faktor- faktor ini supaya Ibu lebih waspada;

4.Ekspektasi yang Tidak Sesuai

“Kekecewaan” saya dimulai ketika saya gagal melahirkan secara normal. Putri saya adalah silent baby dan tidak bisa turun ke jalur lahir, sehingga prosedur caesar harus dilakukan. Kemudian, saya kecewa karena tidak bisa memproduksi foto-foto gemas ala Instagram dan Pinterest di rumah orang tua saya (ini cemen sih). Lalu, banyak lagi hal kecil kurang penting lainnya.

Sekarang, saya sadar bahwa motherhood berarti berdamai dengan ekspektasi kita. Tidak semua hal harus sesuai rencana dan yang dapat kita lakukan hanyalah berbesar hati, berdamai dengan kenyataan, dan berusaha sebaik yang kita bisa.   

5.Kurangnya Zona Nyaman

Seringnya, kita terlalu fokus untuk memberikan yang terbaik bagi si baby tapi melupakan hal yang membuat kita nyaman. Ada bagusnya untuk juga mempersiapkan mommy checklist setelah melahirkan; makanan yang Ibu suka, kontak tukang pijit andalan, salon yang bisa dipanggil ke rumah untuk creambath atau blow, buku dan komik, film yang ingin kita tonton, online shop langganan, apapun yang membuat Ibu nyaman, lakukan! You just gave birth to a human. You deserve all the pampering that you can get! Ini termasuk, menolak kunjungan teman dan kerabat jika Ibu merasa sedang ingin punya quality time dengan baby.

6. Terlalu Banyak Referensi

Dulu saya pikir, semakin banyak bertanya dan curhat pada setiap kerabat dan teman yang datang menengok akan memberi saya lebih banyak ilmu. Ternyata, ini tidak sepenuhnya benar. Setiap orang punya caranya sendiri yang belum tentu cocok dengan kita. Pun, tak semua dari mereka punya cara komunikasi yang baik dan membuat kita nyaman. Salah- salah, kita merasa terintimidasi atau tersinggung. Pilihlah seorang yang cocok dengan Ibu, yang Ibu tahu tidak akan menghakimi Ibu di masa yang sangat sensitif ini.

7.Sok Independen 😀

Dulu, saya merasa payah ketika perlu bantuan untuk mengurus putri saya. Tapi, ini bukan waktunya untuk sok jadi wonder woman, Ibu! Jika merasa perlu bantuan, jangan ragu untuk mulai menginterview baby sitter sejak hamil. Jika mulai merasakan gejala baby blues atau post- partum depression, jangan ragu untuk menghubungi psikolog, doula, atau ikut kelas Lingkaran Ibu! Pastikan Ibu berada dalam sebuah support group yang aman, tidak menghakimi, dan memberikan Ibu energi positif yang sangat dibutuhkan untuk menjalani peran baru Ibu.

Akhir kata, ketahuilah bahwa mengalami post-partum depression tidak membuat Ibu menjadi ibu yang buruk. Tak berarti pula, Ibu kurang bersyukur akan kehadiran si baby atau Ibu lemah iman. Konon, 15% ibu mengalami post-partum depression. Jadi, Ibu tidak sendiri!

Intinya, kenalilah gejalanya. Jangan abaikan perasaan tidak nyaman, sekecil apapun itu. Jangan pula ragu untuk meminta bantuan, sesegera mungkin.

That doesn’t make you less of a mother. That makes you a stronger mother. That makes you into #ibuberdaya.

  

1 Comment

  1. nia imaniar Reply

    wah iya yaaa ternyata saya terkena postpartum depression tanpa saya sadari. terutama karena saya tidak bisa melahirkan secara normal karena indikasi medis. dan yang saya harus lakukan saat ini sesuai dengan kata mbak mutia adalah berdamai.

Leave A Reply

Navigate