Why Self Love ?

Halo ibu!

Rasanya nggak habis-habis, ya jika membahas “self love”. Saya pernah baca tulisan Deborah Khoshaba Psy.D.  di sebuah web psychology today, bahwa “Self Love” adalah penghargaan kepada diri sendiri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis dan spiritual. Self love bersifat dinamis dan tumbuh dari tindakan dan pemikiran yang matang. Semua itu sangat berperan untuk menuju kehidupan yang lebih baik .  How you cope with the problems in your life.

Minggu, 26 Februari 2017 lalu, Lingkaran Ibu Volume 3 yang diadakan di Nujuh bulan Studio Bintaro, dihadiri 12 peserta yang bersedia duduk melingkar, termasuk Tia Pratignyo dan Irma Syahrifat owner Nujuh Bulan Studio ada di dalam lingkaran.

Semua peserta tanpa sungkan sharing mengenai tantangan dalam perjalanan menjadi seorang ibu yang ternyata kerap lupa untuk mencintai diri sendiri. Ketika ditanya kapan waktu untuk diri sendiri  kebanyakan peserta malah tertawa. Kenapa? Karena hampir tidak ada celah untuk self love. Me time itu ketika mandi, tidur malam atau mengajar yoga. Segenap waktu, pikiran dan tenaga sepanjang hari rasanya sudah dicurahkan untuk suami, keluarga, dan orang lain. Ya, tanpa dilebih-lebihkan, ini adalah realita.

“Speak love to your self, listen to your self carefully, what you want and what you need” – Ashtra, Doula.

Di Lingkaran Ibu Volume 3 kali itu semua peserta belum saling kenal dan baru pertama kali ikut. Tapi mereka bilang justru ruang seperti inilah yang mereka cari, ruang yang membuat mereka mau bercerita, melepaskan kepenatan dan perasaan yang mengganjal selama ini, karena mungkin mereka tidak memiliki ruang ini dari orang-orang di sekeliling mereka. Di lingkaran, peserta merasa didengarkan, dipercaya, dirangkul dan disayang. A place to release trauma in a cirlce of women.

“Seru banget dan bermanfaat sekali, belom bisa move on kalo habis playdate bareng ibu-ibu gini, senang bisa ikut lingkaran ibu volume 3 ini, semoga punya kesempatan lagi buat bergabung lagi. Speachless.. gak bisa bilang apapun, yang jelas terimakasih untuk sharing yang sangat menyentuh hati, menyemangati, menebar cinta, inspiratif dan supportif , the power of hugs and the power of sharing saya rasakan sekali dari awal hingga akhir acara, juga sampai terbawa kerumah.., semangat membuka hari baru hari ini untuk mencintai diri saya sendiri dan menebar kasih juga semangat untuk semua terutama keluarga kecil saya. . Terimakasih @haloibu.id , terimakasih sudah menyadarkan saya bahwa seorang ibu harus mencintai diri sendiri, membuat saya berpikir tentang apa yang saya sukai, dan protect myself terhadap hal yang negatif, juga menyadarkan apa kelebihan saya, karena sangat mudah untuk menulis kekurangan dalam diri, dibandingkan kelebihan yg kita miliki. Terimakasih hari ini indah sekali, @haloibu.id “ – Wina, Bunda Prazada-

Being a Mom = Lost Your identity

Hari itu saya mendengar cerita dari ibu tiga anak yang biasa membantu proses kelahiran ibu-ibu lain, memilih untuk meletakkan pekerjaan serta cita-citanya sementara waktu, untuk fokus merawat ketiga anaknya. Ia berusaha bagaimana caranya agar tetap waras menjadi ibu dengan segala hal yang berputar di kepala dan hal ia temui setiap hari.

Ada pula mantan career woman yang biasa bekerja di kantor bertahun-tahun, memakai high heels, terbiasa dengan julukan wanita baja yang kuat. Setelah sekian tahun belum diberikan momongan, akhirnya Tuhan memberikannya anak. Demi buah hatinya, dirinya memutuskan meninggalkan karir yang selama ini membuat waktu di hidupnya kian teratur dan tertata. Ketika resign, waktu di hidupnya tidak lagi tertata, feeling guilty pun muncul entah karena apa, padahal dikaruniai anak yang sehat tapi ada saja perasaan kurang puas. Dirinya merasa kehilangan identitas.

Ibu lain merasa bahwa status full time mom kurang membanggakan jika dibanding working mom, apalagi yang yang punya jabatan. Bukannya tidak bersyukur, tapi hanya di rumah saja sambil mengurus anak cukup membuatnya bingung untuk mencapai keinginannya. Satu ibu lagi merasa pencapaian di tempat kerjanya dahulu sudah tidak bisa dilakukan setelah memutuskan resign dan menjadi full time mom. Bagi dirinya sebuah tantangan besar ketika harus meninggalkan pekerjaan demi sang buah hati.

Self love untuk keseimbangan fisik dan mental

‘Pekerjaan’ sebagai seorang ibu kedengarannya seperti kurang memiliki prestasi yang harus diapresiasi dan diakui masyarakat luas.  Cintai dirimu dengan memberikan penghargaan bagi dirimu sendiri. Status full time mom bukan sekedar kata “hanya”. Ibu mengurus segala hal di rumah, mengurus keluarga, menjadi menteri keuangan, manajer, kepala koki, kepala house keeping, dan masih banyak lagi.

Dari buku yang pernah saya baca, kita bisa tanya ke diri kita, seberapa banyak kita fokus ke kualitas-kualitas diri yang positif? Berapa banyak kita fokus pada kesalahan-kesalahan? Kapan terakhir kali kita memuji prestasi sebagai ibu yang sibuk di rumah? Bagaimana cara kita merayakan pencapaian prestasi sebagai ibu?

The more we cherish and celebrate life, the more we can celebrate in life, – Oprah Winfrey

Saya pernah menulis ini sebelumnya untuk video “how to be stay at home mom”. Ibu bisa lihat di channel youtube haloibu https://www.youtube.com/watch?v=nmtGvFoc-Q0 . Semua itu berhubungan dengan bagaimana cara mencintai diri sendiri. Ibu bisa memilih salah satu dari cara sederhana yang dipaparkan di video, atau mungkin ibu punya cara sendiri yang lebih sesuai dengan kondisi di rumah saat ini. Silahkan saja, asal hal itu membahagiakan dan bisa memenuhi kebutuhan jiwa ibu.  Jangan lupa untuk selalu bersyukur dan memuji dirimu sendiri. Kasih selamat ke diri kita sendiri dan anak kita ketika  berhasil melewati proses, contohnya  menyapih atau toilet training. You’re great and strong team!

“Tidak ada cara yang lebih baik untuk menyegarkan tubuh, pikiran, dan semangat selain merawat diri kita sendiri” –Stephanie Tourles-

Kurang support, sulit memaafkan diri dan melupakan masa lalu

Cerita lain datang dari ibu muda yang merasa bahwa ibu lain jauh lebih beruntung, karena di tengah kebingungan dan kejenuhan, masih ada suami sebagai support. Namun ia merasa bahwa pasangannya kurang supportif. Dirinya tidak boleh mengeluh, bahkan tidak boleh menceritakan masalah yang dihadapinya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Ada pula ibu yang berprofesi sebagai konselor. Dirinya merasa konselor hanyalah manusia yang dirinya juga perlu dibantu. Perlu mencurahkan masalahnya di ruang yang aman dan dapat membuatnya nyaman, tanpa ada penghakiman dari siapapun. Dirinya merasa sulit untuk memaafkan kesalahannya di masa lalu dan terkadang masih ada rasa sesal kenapa pernah melakukan hal tersebut.

Lain lagi cerita ibu muda yang sulit move on dari cerita pilu masa lalunya. Kisah itu membuat ia sulit menghargai dirinya sendiri. Membuat dirinya merasa tidak bernilai dan tidak pantas menerima penghargaan. Saya sampai meneteskan air mata mendengar ceritanya saat itu.

Self love untuk keseimbangan emosi dan spiritual

“Forgive your self with what you doing in the past. Protect your self from what you see, from what you hear, from the toxic person in your life” – Ashtra, Doula, founder haloibu

Cintai diri sendiri sebagai gambaran rasa syukur ibu pada Pada Sang Pencipta. Kesalahan dan kegagalan dimasa lalu adalah hal yang sudah berlalu. Yuk maafkan diri sendiri, ambil hikmah dan mintalah pada Tuhan untuk membantu lupakan kesedihan ibu. Pergilah bersama teman, jalan-jalan bersama anak ke taman, atau bicara di depan kaca bahwa ibu adalah hebat, lihatlah bahwa ibu dikaruniai fisik luar biasa yang dipercaya Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan manusia baru. Memang mengatakan dan menulis ini semua rasanya lebih mudah jika dibanding apa yang ibu alami sendiri, tapi semoga Lingkaran ibu dan tulisan ini bisa sedikit membantu mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Berawal dari mencintai diri sendiri dengan baik, membuat kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati dalam menilai orang lain. Jika setiap orang mampu menghargai kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri dengan baik, ia akan mudah untuk menghargai  kekurangan dan kelebihan orang lain. Dengan demikian, bukankah dunia akan lebih menyenangkan? – Margaret Paul, Ph.D, Koes Ayunda-

Lingkaran ibu volume 3 membuat saya  jadi lebih bersyukur dan menjauhkan diri dari pikiran negatif tentang diri sendiri. Semakin banyak mendengarkan, semakin terbuka pikiran, semakin lembut hati dan semakin saling berempati. Saya berusaha untuk tidak lagi merasa diri ini serba kekurangan dan mau belajar bagaimana mencintai diri sendiri sebelum menebarkan cinta untuk keluarga. Nah, Ibu sendiri bagaimana? Tertarik untuk ikutan “Lingkaran ibu volume 4” pada 23 April 2017 mendatang?

Kalau mau ikutan Lingkaran Ibu Volume 4 di bulan April ini, jangan lupa mendaftar ke email halo@haloibu.id, dengan subject SIGN LINGKARAN IBU ,kirim nama, nomor telepon, id social media dan mengisi google form yang dikirim melalui email. Were waiting for your SIGN IN, Moms!

PS:

Thank you for our sponsor!

Leave A Reply

Navigate