Depresi: Sebuah Pengakuan Yang Tertunda

“Keadaan/ masalah pada psikis seseorang yang bisa disebabkan dari berbagai hal baik faktor luar atau dari diri sendiri yang kemudian bisa mengakibatkan masalah juga untuk fisik orang tersebut” – F

“Depresi itu orang yang punya banyak pikiran, masalah tapi ga mau atau ga bisa untuk sharing jadinya semua numpuk sendiri, outcomenya (yang dilihat oleh orang lain) orang lain jadi kayak orang tertekan, stress diam-diam,” – I

“Depresi itu ketidakmampuan menghadapi tekanan,” – A

“Depresi ituuu, waktu ada tekanan batin yang mendalam sampai ke pembuluh-pembuluh hati..” – N

Halo Ibu,

Itulah jawaban teman-teman ketika saya tanya apa sih arti depresi menurut mereka. Ada tiga hal yang dapat saya jadikan benang merah pengertian depresi yaitu masalah (baik dari luar atau dalam diri kita sendiri) yang tidak sesuai ekspetasi mengakibatkan stress, dan tidak bisa diceritakan.

Depresi jadi momok yang dihindari orang, tak hanya istilahnya tetapi juga penderitanya. Penderita depresi dijauhi, dikucilkan bahkan mendapatkan cap negatif. Berbagai penilaian masyarakat pun muncul seperti tidak bisa menghadapi masalah, kurang bersyukur, ratu drama, dsb. Padahal setiap orang bisa saja depresi, disadari atau tidak karena ciri-ciri depresi dimulai dari hal kecil seperti:

  • Makan berlebih
  • Atau sebaliknya tidak bisa makan apapun
  • Tidur lama
  • Atau malah tidak bisa tidur sama sekali
  • Tidak ada hasrat atau keinginan untuk berkegiatan atau bersosialisasi
  • Menangis tiba-tiba

Ibu, pernahkah mengalaminya?

Saya pernah, rasanya tidak enak, bingung kenapa saya bisa begini, muram sepanjang waktu, menangis tiba-tiba padahal sebelumnya habis tertawa. Saya bisa makan tanpa berpikir, terus menjejali makanan ke mulut tanpa tahu manfaatnya apa untuk tubuh saya. Saya pernah membenci orang-orang di sekitar saya, termasuk keluarga sendiri. Tak jarang saya menyalahkan mereka, karena menurut saya merekalah yang membuat saya jadi begini. I’m all on negative side.

Padahal harusnya saya bahagia, punya suami disaat banyak orang mencari jodoh. Harusnya saya bersyukur punya anak dengan cepat di saat di luar sana berjuta pasangan menempuh segala macam cara demi hamil. Semestinya saya berterima kasih pada suami yang menanggung hidup kami tanpa harus saya bekerja siang-malam meninggalkan rumah.

Lalu salahkah saya tak melihat semua itu? Salahkah bila saya masih depresi atas segala yang sudah saya miliki? Bila pertanyaannya seperti itu jelas jawabannya SAYA SALAH. Disitulah semua cap buruk seolah saya beri ijin untuk melekat pada saya. Ibu yang tak bersyukur, istri durhaka, dsb. Tapi saya terlalu takut untuk diberi cap, sehingga saya memilih diam, memendam semuanya sendiri. Saya terlalu takut untuk mengakui saya depresi.

Saya memilih pasrahkan diri pada tetesan air mata, saya menangis luruh dalam setiap doa, mempertanyakan pada Tuhan kenapa saya begini?

Kenapa saya tidak bersyukur?

Kenapa saya malah rapuh di saat usia saya menua?

Bukankah harusnya saya semakin dewasa sehingga semakin matang menyikapi masalah?

Kenapa saya membiarkan diri saya sedih? Padahal menjadi bahagia lebih menyenangkan.

Tetapi kenapa saya tidak bisa bahagia untuk jangka waktu yang lama? Hati saya terasa hampa meskipun wajah tersenyum lebar.

Sampai kapan saya mau seperti ini terus?

Pertanyaan demi pertanyaan terus meluncur sampai tak bisa dibendung lagi. Tumpahlah itu semua dengan segala emosinya kepada suami, sebagai orang yang ada di dekat saya. Sebuah diskusi panjang di akhir malam hingga matahari terbit yang membuat mata sembab karena banjir air mata, membuat suara serak akibat teriakan dan isak tangis saya. Seorang wanita bingung yang hanya bisa menumpahkan isi kepalanya dengan tak beraturan, diiringi tangisan kadang amarah tak jarang lunglai. Saya tidak baik-baik saja, saya depresi dan saya mengakuinya. Setelah itu kehidupan terasa lebih berwarna bagi saya.

Ibu,

Tak bisa dipungkiri dalam kehidupan senang dan sedih datang silih berganti seperti siang dan malam. Ada kalanya kita senang, tak heran juga sewaktu-waktu kita sedih. Tapi seringnya kita ingin selalu senang, sampai menjauhi sedih dan menganggap sedih itu hal yang buruk dan negatif. Konten di media sosial mengenai kebahagiaan akan anak, harta benda, pengalaman akan jauh lebih disukai ketimbang seseorang yang jujur mengenai kesedihannya. Hal ini yang kemudian membuat orang-orang sungkan bercerita kesedihan mereka.

Padahal menjadi depresi itu lumrah terjadi karena kehidupan tak selalu indah seperti impian. Bahkan putri di dalam dongeng pun menghadapi masalah sebelum mereka bahagia, bukan?

Ungkapkan kesedihanmu Ibu, ceritakan pada Tuhan dan mereka yang dekat denganmu atau pada orang asing sekalipun apa masalahmu. Tak apa gunakan air matamu Ibu, karena sudah Tuhan ciptakan untukmu melepaskan sedih dan beban dalam pikiran. Akuilah depresi, itu kuncimu membuka pintu ke dunia yang lebih indah nan berwarna, Ibu.

Leave A Reply

Navigate