I’m a PPD Survivor

oleh Sukma 

diedit oleh Dian Astari

“Kebanyakan suami diluar sana lupa, bahwa kami, seorang ibu baru, tidak pernah dibekali dengan pengetahuan yang cukup untuk membesarkan dan merawat anak, tidak ada satupun kurikulum di sekolah yang mengajarkan cara merawat dan membesarkan anak, kami mempelajari semuanya dari nol saat anak kami lahir.”

Dear ibu,

Seperti kebanyakan orangtua lain diluar sana, saya dan suami menjadi orang yang paling berbahagia saat diberi tahu dokter bahwa saya sedang mengandung anak pertama kami. Terlebih lagi, pada saat itu kami hanya tinggal berdua di negara orang, tanpa ada keluarga dekat bersama kami.

Saya sangat menikmati masa kehamilan pertama saya, sampai tiba-tiba pada saat saya melakukan cek rutin pada bulan ke 4 saya dinyatakan menderita Gestational Diabetic, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan saya seperti penderita penyakit diabetes, memiiliki kadar gula darah yang tinggi, dan hal itu bisa membahayakan kondisi ibu dan bayi pada saat melahirkan, sehingga saya diharuskan untuk melakukan operasi cesar pada saatnya nanti akan melahirkan, hal itu cukup mengecewakan bagi saya dan suami yang sudah mempersiapkan diri untuk kelahiran normal. Semenjak itu, setiap hari saya diharuskan untuk melakukan tes darah manual, dengan jarum khusus di jari, dan saya pun diharuskan mengatur pola makan, dan melakukan diet makanan.

Saya melewati sisa masa kehamilan saya dengan perasaan was-was dan khawatir, hingga akhirnya tiba saat kelahiran anak pertama kami. Setelah melakukan konsultasi dan memantau kesehatan Saya, juga bayi di dalam kandungan, akhirnya tanggal untuk melahirkan pun ditetapkan, 18 Juni 2012. Dikarenakan tanggal kelahiran yang dipilih berdekatan dengan hari lebaran di Indonesia, maka keluarga kami berdua tidak ada yang bisa datang untuk mendampingi Saya melahirkan, karna mereka sudah memiliki agenda masing-masing, jadilah Saya dan suami harus melewati moment besar ini berdua.

Setelah melalui proses operasi cesar dengan lancar, Saya dipindahkan ke kamar, dan dokter menganjurkan Saya untuk rileks dan tidur, tapi sekeras apapun usaha saya untuk memejamkan mata, Saya tetap tidak bisa tertidur. Keesokan harinya barulah Saya dipertemukan dengan bayi Saya, satu hal yang selalu Saya ingat, saat itu Saya sangatlah kebingungan, mengapa ASI Saya sama sekali tidak keluar. Saya begitu ketakutan setiap kali melihat si bayi yang sangat mungil, selalu ada bayangan dia akan mati kelaparan karena Saya tidak sanggup memberinya ASI. Berulang kali Saya menekan tombol untuk memanggil perawat, Saya begitu panik dan ketakutan. Para perawat dirumah sakit berusaha menenangkan Saya, dan memberikan pengertian, mereka mencoba memberi arahan agar Saya bisa memberi laktasi dengan baik, tapi hingga hari kedua hasilnya tetap nihil, semakin Saya panik, semakin ASI Saya tidak keluar, hingga pada akhirnya puting Saya terluka dan berdarah. Setelah berkonsultasi dengan dokter anak dan ahli laktasi, mereka menyimpulkan bahwa terdapat kondisi Toung Tie pada anatomi lidah anak saya, yaitu semacam selaput yang membuat lidah anak tidak bisa bergerak leluasa untuk latch on dengan puting ibunya. Buyar sudah impian saya tentang indahnya bonding ibu dan bayi pada masa menyusui.

Setelah kami dijinkan pulang kerumah pun kondisinya tidak juga membaik, Saya selalu berusaha tegar walaupun dalam hati selalu bertanya “Mengapa semuanya tidak seindah yang orang lain bicarakan?”. Sebelum melahirkan Saya sering melihat iklan di media massa tentang indahnya masa menyusui, tapi bukan itu yang Saya rasakan pada saat itu, Saya merasa kepribadian Saya sudah dirampas.

Kondisi semakin bertambah buruk setelah anak Saya berusia 40 hari, belum juga anak Saya bisa menyusui dengan lancar, kami mendapat cobaan berikutnya, dokter mendiagnosa di dalam air susu Saya terdapat bakteri H-Pylori, yang disebut-sebut bisa menjadi cikal bakal kanker usus apabila tidak ditangani dengan serius dan segera. Kembali Saya harus berurusan dengan obat-obatan, Saya diharuskan untuk menkonsumsi antibiotic tingkat tinggi 1500 mg, dan artinya Saya harus menghentikan asupan ASI untuk anak Saya. Obat-obatan yang Saya konsumsi membuat Saya nyaris tidak bisa tidur setiap malam, akhirnya badan Saya pun menderita, selera makan Saya hilang, dan berat badan Saya menurun drastis, bahkan melebihi masa Saya sebelum hamil, dan yang paling parah adalah ketidaktauan Saya dan suami bahwa semua masalah ini membawa Saya ke jurang Post Partum Depression.

Saya dan Suami

Suami Saya adalah seseorang yang sangat penyabar dan penyayang, tapi seperti kebanyakan seorang laki-laki yang baru menjadi ayah, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu dan mendukung seorang istri yang sedang melalui masa transisi, sehingga alih-alih memberikan dukungan penuh, suami Saya hanya bisa menyalahkan dan membandingkan Saya dengan ibu yang lain. Seperti kebanyakan laki-laki di Indonesia pada umumnya, suami Saya merasa bahwa sebagai seorang ibu seharusnya Saya sudah memiliki kemampuan untuk mengurus anak begitu anak kami lahir, karena itu sudah menjadi kodrat saya sebagai seorang perempuan. Tapi kebanyakan suami diluar sana lupa, bahwa kami, seorang ibu baru, tidak pernah dibekali dengan pengetahuan yang cukup untuk membesarkan dan merawat anak, tidak ada satupun kurikulum disekolah yang mengajarkan cara merawat dan membesarkan anak, kami mempelajari semuanya dari nol saat anak kami lahir. Maka alih-alih kehadiran anak menghadirkan suka cita yang luar biasa, Saya malah menjadi ketakutan setiap mendengar suara tangisan anak Saya, hubungan Saya dan suami pun jadi memburuk, kami jadi kerapkali bertengkar.

Saya mencoba mencari pertolongan keluar, Saya berusaha bercerita dengan komunitas orang Indonesia di Negara itu, tapi yang ada Saya malah dianggap aneh dan malah dijadikan bahan omongan untuk mereka, karena mereka tidak pernah melewati apa yang Saya alami. Begitu juga saat Saya mencoba mencari pertolongan ke komunita rohani orang Indonesia disana, Saya malah disebut Demon-Possesed Woman, Saya dianggap kurang beriman, pemberontak dan berdosa kepada Tuhan. Saya merasa terkucilkan, dan sendirian. Beberapa kali saya mencoba untuk bunuh diri.

Pada akhirnya, di tengah sisa-sisa kekuatan dan insomnia yang mendera, Saya mencoba untuk browsing dan mencari tau apa yang terjadi pada diri Saya. Hingga Saya menemukan sebuah komunitas disuatu rumah sakit, Saya paksa suami untuk hadir di pertemuan dan membuka diri dan wawasan untuk mengetahui apa yang terjadi pada diri Saya. Suami Saya yang tadinya sibuk bekrja, sedikit demi sedikit membuka diri, dan mau mulai lebih banyak terlibat dalam mengurus anak. Dari komunitas itulah Saya dan suami dianjurkan untuk berkonsultasi dengan Psikiater yang lebih ahli dalam hal Post Partum Depression, dari beliaulah kami diberi pengertian bahwa Post Partum Depression bukanlah sesuatu hal yang sangat mengerikan, bahwa kondisi ini bisa terjadi pada semua perempuan di dunia, dengan latar belakang keluarga, pendidikan dan tingkat ekonomi yang berbeda. Seorang ibu hanya bisa keluar dari kondisi Post Partum Depression dengan bantuan support system yang kuat dari orang-orang disekelilingnya, khususnya pasangan, bahwa kami butuh dimengerti dan didukung melalui masa transisi menjadi seorang ibu, dan seorang suami harus paham bahwa membesarkan anak bukanlah tugas seorang ibu semata, tapi juga tugas untuk kedua belah pihak, ayah dan ibu.

Bayi yang memberi banyak pelajaran hidup untuk saya dan suami di awal usianya itu, saat ini sudah berusia 4,5 tahun, dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, lembut hati, dan disenangi oleh guru dan teman-temannya. Saat ini pun kami sudah kembali tinggal di Indonesia, dan saya sudah memiliki anak kedua berusua 22 bulan, tapi tidak sedetik pun saya melupakan masa-masa kelam dimana saya harus melalui cobaan yang begitu berat, semua itu akan menjadi pelajaran saya untuk hidup kedepannya. Saya, adalah seorang Post Partum Depression Survivor.

My beautiful Family

Leave A Reply

Navigate