Sebuah Titik Balik di Montserrat

oleh Raden Prisya

Saat saya berlibur selama 12 hari ke Spanyol bulan Juli silam, titik balik saya terjadi di sebuah tempat. Titik balik yang akhirnya mengembalikan diri saya, yang saya tunggu sekian lama.

Tempat itu bernama Montserrat.

Sebuah pegunungan batu di pinggir kota Barcelona, yang disebut ‘Pahatan Tuhan’ karena keindahannya. Karena terbuat dari batu, memang ia tampak seperti pahatan tanpa cela. Ia tak dapat menyembunyikan keindahannya, meski panas hari itu mencapai 38 derajat. Saya turun dari bus dengan rasa tidak percaya, bahwa saya bisa melihat tempat seindah itu lagi dalam waktu secepat itu dalam hidup saya. Berjarak begitu jauh dari rumah yang berisi keluarga dan anak-anak saya.

Ada sedikit rasa bersalah yang menghantui—suami saya tengah di Jakarta menjaga anak-anak. Mungkin Atharjahja dan Bhamaskaja tengah mencari saya. Tapi saya terus mencoba menikmati apa yang saya lihat.

Di saat yang sama, telepon genggam saya berdering. Dan tampak wajah suami saya memanggil melalui video call. Pikiran saya bercabang-cabang. Saya senang, mencoba tenang, namun ada perasaan bersalah. Tak banyak, tapi ada. Berusaha saya tepis dan berlaku sewajarnya. Dan terpampanglah jelas wajah anak-anak saya memanggil Ibunya. Menyebutkan bahwa mereka rindu saya, namun mereka tidak menangis.

Mereka tertawa-tawa, dan menghentikan pembicaraan telepon dan berkata bahwa mereka ingin lanjut bermain mobil-mobilan.

montserrat

montserrat

Ada perasaan aneh yang saya rasakan. Saya tak ada, dan mereka bahkan tidak mencari saya!

Mungkinkah selama ini saya terlalu berlebihan?

Ada sesuatu yang membuka mata.

Bagi saya, menginginkan sesuatu yang semata-mata untuk kebahagiaan saya sendiri, tanpa memberikan manfaat apapun untuk anak-anak saya, rasanya salah. Tapi pembicaraan telpon tadi memberi saya sebuah visual yang sangat jelas; anak-anak saya baik-baik saja tanpa saya. Bersama Ayahnya. Sesekali pun mereka bersama Suster. Bersama Kakak Ipar. Adik Ipar. Tante dan Om. Mereka baik-baik saja. Setidaknya untuk beberapa lama. It’s totally okay.

Apabila saya tidak meninggalkan mereka berlibur, Montserrat tidak akan pernah terjadi dalam waktu dekat—tak mungkin juga saya membawa mereka kesana, kecuali sekitar 3-4 tahun lagi. Saat mereka lebih besar, mengingat betapa jauh dan berliku perjalanan yang harus ditempuh.

My kids are fine. And as a Mom, I’ve done fine. Oh wait—I have actually been doing a great job. I have given everything I could give in this world for my children. My babies. My family. Everything I could give.

baby attar

Attar tahun 2016 ini berumur 4 tahun

Saya teringat masa-masa tak lama setelah saya melahirkan Atharjahja, sewaktu masih bayi. Saat suami bekerja, saya berdua bersamanya sepanjang waktu. Menghabiskan waktu sehari-hari dengan menyusuinya, mengganti popoknya, berbicara dan bercanda dengannya, menunggunya tidur sambil membaca buku atau menonton tv,. Saya mengingat wajahnya yang bulat, pipinya yang penuh, kakinya yang montok. Dahulu, saya melihatnya dengan penuh kekaguman, namun juga rasa khawatir. Penuh rasa takut. Bagaimana saya bisa menjadi Ibu yang terbaik bagi anak ini? Saya seakan memaksa diri saya untuk menjadi Ibu yang sempurna. Untuk selalu bersama anak-anak saya. Untuk menjalani semua sesempurna mungkin. There’s no room for mistake, untuk saya. Dan setiap kali menemui ketidaksempurnaan, saya akan menambah batasan untuk diri saya dengan harapan semua bisa mencapai kata sempurna.

Saya tidak menyadari bahwa ia pun begitu bahagia memandangi saya. Ia pun ingin saya bahagia. Ia pun mencintai Ibunya. Dan saat saya bahagia, saya akan lebih mampu mencintainya. Saya penuh ketidaksempurnaan, dan itu baik-baik saja. Ia mencintai saya.

Saya berhak untuk dicintai.

Meski tidak bersama anak-anak dan suami saya sewaktu berada di Montserrat, saya bersyukur dapat menikmatinya. Rasa bersalah saya tiba-tiba saja hilang. Sebut saya egois, tapi saya ingin menikmatinya sendiri. Dan saya boleh-boleh saja menikmatinya sendiri. Setidaknya, untuk saat itu saja. Maybe, that happened simply because God thinks I deserve it.

Setelah pulang dari Monteserrat dan akhirnya ‘terbangun’, saya pun mengerti apa yang membuat saya bisa tenang.

Menjadi Ibu itu, baik Ibu Rumah Tangga maupun Ibu Bekerja, Ibu Bekerja di Rumah maupun Ibu Bekerja di Kantor, Ibu Rumah Tangga yang Mompreneur maupun Ibu Rumah Tangga yang Entrepreneur, Ibu yang Hanya Memberi ASI saja maupun Ibu yang Campur-Campur, menurut saya sama baiknya dan sama pusingnya. Tapi untuk menemukan diri kita yang terbaik saat menjadi Ibu, adalah dengan menerima kapasitas kita. Batasan kita. Kemampuan kita.

Beristirahat saat kita memerlukannya. Berkarya sesuai dengan semangat kita. Melakukan apa yang kita sukai. Terima diri kita apa adanya. Because when you force yourself, it will show.

Berhentilah mencoba menjadi Ibu yang sempurna. Jiwa dan raga ini masih milik kita. Karena saat kita bahagia, kita akan menjadi figur terbaik, yang membuat anak-anak dan keluarga kita bahagia.

***

1 Comment

  1. Terimakasih atas inspirasinya… Selama 3 bulan terakhir ini I’m just trying to do my best as a mom, tapi kadang lupa untuk membahagiakan diri sendiri. Padahal ketika kita bahagia, itu akan membuat anak2 dan keluarga lebih bahagia. So true…

Leave A Reply

Navigate