Kapan Anak Siap Berbagi?

Oleh Iput

“Dek, mainan ini nanti boleh dipinjem nggak sama temennya?”

“Enggak!”

“Yang boleh dipinjem yang mana?”

“…..”

“Ini boleh ya?”

“Enggak!”

Kira-kira begitu isi percakapan saya dan Rayi, saat mau berangkat arisan dengan ibu-ibu sekolahnya Raka . Saya tentu harus membawakan beberapa mainan supaya Rayi tidak bosan saat arisan. Di saat bersamaan Saya juga tahu kalau akan ada beberapa Ibu yang membawa anaknya, jadi Saya harus mempersiapkan Rayi siapa tahu ada anak yang tertarik pada mainannya dan ingin bermain bersama. Sayangnya, anak seusia Rayi baru bisa bermain bersama-sama alias memainkan mainan yang berbeda pada waktu bersamaan, bukan berbagi mainan. Jadi Saya juga sudah menebak jawabannya pasti “Enggak!’ ketika Saya tanya mainannya boleh dipinjam atau tidak. Untungnya selama arisan anak-anak yang lain sibuk main gadget hehe.. Jadi Rayi bisa tenang memainkan mainannya sendiri.

Begitulah salah satu keseruan punya anak balita. Di satu sisi kita ikutan senang kalau anak bisa playdate dengan teman seumuran, tapi di sisi lain harus siap-siap ‘sibuk’ melerai bila mereka rebutan barang atau mainan. Wajar atau tidak sih kalau balita kita belum bisa berbagi dengan orang lain? Jawabannya adalah wajar. Bahkan sebenarnya tidak mau membagi sesuatu yang dimiliki itu merupakan bagian dari insting untuk bertahan hidup (survival insting) yang dimiliki oleh manusia. Mayoritas anak yang berusia di bawah 7 tahun masih berada dalam fase yang fokus pada dirinya sendiri, kesenangan dirinya sendiri, masih mengikuti insting yang Ia miliki. Biasanya mulai usia 4 tahun anak sudah mulai bisa diberikan pemahaman agar mau mengalah, namun karena ada faktor eksternal seperti disuruh, takut, atau ingin dipuji. Mereka belum bisa berbagi dengan tulus. Mungkin bisa sekali dua kali, tapi belum konsisten selalu begitu setiap kali terjadi konflik kepemilikan.

Sekali lagi, tidak mau berbagi itu merupakan bagian dari insting untuk mempertahankan barang milik anak dan memang anak harus belajar juga untuk bisa mempertahankan apa yang dia miliki bukan? Pasti kita juga tidak mau anak kita kelak menjadi anak yang ‘ngalahan’ sama teman atau orang lain. Jadi bagaimana caranya supaya kemampuan anak bisa seimbang antara kemampuan berjuang dan berbaginya? Bagaimana supaya anak tahu kapan Ia harus berbagi dan kapan harus mempertahankan apa yang ia mau dan ia miliki?

Pertama, kita harus memahami betul apa yang tadi sudah disampaikan bahwa wajar anak balita masih sulit untuk berbagi, sehingga kita bisa memaklumi apa yang terjadi dan tidak serta merta memaksa anak untuk membagi atau memberi apa yang ia miliki kepada orang lain. Kedua, beri kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Jika terjadi konflik, amati terlebih dahulu apakah mereka perlu untuk dibantu untuk menyelesaikan konflik atau tidak. Seringkali anak-anak punya caranya sendiri untuk menyelesaikan konflik dan seringkali pula anak-anak mudah lupa dengan konflik yang sempat dialami dan mudah untuk kembali bermain bersama dengan riang. Jadi jangan langsung melerai karena bisa-bisa mereka kehilangan kesempatan untuk belajar bernegosiasi. Kalaupun perlu dibantu, orang dewasa bisa membantu menjembatani dengan memancing anak untuk mengkomunikasikan apa yang ia pikirkan atau rasakan dan jangan lupa berusaha berempati dengan kalimat-kalimat seperti “Oh, Adek sedih ya mau pinjam nggak boleh?” atau “Oh, Kakak marah ya mainannya diambil?” Segeralah bertindak bila salah satu atau kedua anak tampak sangat sedih atau sangat marah dan bila ada tanda-tanda anak akan/sudah memukul, menendang, atau melempar.

Selanjutnya, bila kegiatan bermain bersama (playdate) sudah direncanakan sebelumnya, ajak anak untuk memilih mana mainan yang boleh dipinjam oleh teman dan mana yang tidak, dengan syarat, mainan yang tidak boleh dipinjam artinya harus disimpan. Mainan yang dikeluarkan hanya yang boleh dipinjamkan saja. Hal ini juga dapat melatih komitmen anak. Bila masih terjadi konflik, orang dewasa bisa menerapkan sistem hitungan, misalnya “Kamu main dulu sampai jarum panjangnya di angka 3 ya, setelah itu gantian mainnya” atau “Kamu boleh pegang dulu ibu hitung sampai 10 ya, setelah itu temannya boleh pegang ya.” Keempat, berilah contoh. Cara paling efektif untuk mengajarkan sesuatu kepada anak-anak adalah dengan memberikan contoh. Misalnya ibu berbagi makanan dengan ayah dan anak-anak. Terakhir, jangan lupa untuk memberikan pujian saat anak menunjukkan sikap yang baik sehingga ia akan termotivasi untuk mengulang perbuatan baiknya di lain waktu.

Semoga tulisan saya ini bisa memberi sedikit pencerahan dan ketenangan untuk para ibu yang khawatir kenapa balitanya belum mau berbagi. Same here, saya juga masih ada dua anak yang ‘rajin’ rebutan mainan di rumah.. hehe.. Mengutip dari sebuah quote At the end of the day, the most overwhelming key to a child’s success is the positive involvement of parents.” So, don’t forget to be positive and stay positive, ya Ibu, salah satunya adalah dengan mengenali dan memahami tahapan perkembangan anak kita dengan baik. Cheers!

Leave A Reply

Navigate