5 CARA UNTUK COMPASSIONATE PARENTING

Pekerjaan apa yang paling sulit tapi paling berharga? Menjadi orangtua. Tidak pernah diberikan pensiun oleh pemerintah, negara maupun tuhan. Dari Senin sampai Senin, 24 jam, 365 hari. Ironman, you got to rest,but we have children to raise.

Saat dulu tahu kami akan menjadi orangtua, Saya dan suami merasa beruntung sekali diberikan tugas mulia oleh alam semesta. Lalu besoknya, Saya langsung mikir, ‘Ini gimana yah? Ngurus diri sendiri saja belum mumpuni, apa Saya mampu mengurus satu mahluk yang 100 persen harus mengandalkan Saya pada tahun-tahun pertama hidupnya?’. Maka Saya pun menarik kembali aplikasi saya jadi orangtua hari itu. Hehe. Kalau secara ekonomi,, ini sangat beresiko, saya tidak pernah punya pendidikan orangtua, tidak pernah dikasih tutorial oleh orang tua, tidak pernah punya pengalaman menjadi orangtua, jadi kenapa Saya harus ambil?

I blame hormones and love. Unprepared but so much love.

3 September 2013, Mahija lahir ke dunia ini secara spontan gentlebirth. Hampir 3 tahun kemudian, Saya telah menjadi orangtua. Bila Saya boleh mendiskripsikan bagaimana menjadi orangtua Saya akan menggambar 1 dufan.

            Emosi. Mengontrol emosi dan cara menjadi orangtua tetap menjadi tanda Tanya untuk Saya. I read parenting books, I know the do and donts , yet I still unconsciously do the don’t.

            “Orangtua perlu duduk hening, dan membenahi trauma-trauma dalam dirinya, dan welas kasih akan terjadi”, ujar Gobind Vashdev , penulis buku Happiness Inside. Hari Sabtu, 23 Juli 2016 kemarin , saya bertemu dengan Gobind di kelas Compassionate Parenting atau kelas Orang Tua Welas Kasih. Bagaimanakah cara membenahi diri dan menjadi lebih welas kasih?

  1. Duduk Hening

Terkadang menjadi manusia, kita lupa untuk berada dengan diri kita sendiri tanpa gangguan orang lain, pekerjaan, social media, dan lainnya. “Yang bisa menyembuhkan trauma di dalam diri, bukan orang lain, tapi diri kita sendiri”, kata Gobind. Sebagai entitas, kita perlu mempertanyakan kejadian-kejadian yang mebuat semangat, sedih, bahagia, dan marah. Saya suka melakukan meditasi di pagi hari, 5-10 menit hanya duduk dan menutup mata mengosongkan pikiran dan mencoba memencet tombol refresh. Setelah mengikuti kelas Gobind, pada malam hari sebelum tidur Saya diam, bergejolak di dalam pikiran. Tidak menyalahkan kesalahan-kesalahan Saya di masa lalu atau masa depan. Saya menyadari Ekspektasi-ekspektasi diri sendiri dan orang lain yang ditanamkan ke diri Saya menjadi luka . Ketika anak Saya tidak mau makan, ketika Saya tidak masak untuk anak, ketika teman Saya tidak lagi mau berteman dengan Saya, ketika mimpi-mimpi Saya belum tercapai, ketika orangtua Saya kecewa saat Saya berhenti kerja dan seterusnya. Saya jadi lebih sadar kenapa yah Saya selalu mencoba menghukum diri Saya sendiri? Lonjakan kemarahan dan ketidakpuasan membuat saya tidak bahagia.

“ Menerima ketidakmampuan diri, tidak berkaca dengan masa lalu dan masa depan, selalu diingat yang penting itu masa sekarang”, Gobind menjelaskan. Malam itu, I accept that I’m broken, I’m human. Theres good day, theres bad day, and its ok.

I’m enough.

  1. Ajarkan Cinta, bukan ketakutan.

“ Mahija , enggak mau gosok gigi? Nanti ada kumannya loh”,

“Aduh, awas, takut jatuh nanti dari bangku!”

Enggak mau makan, nanti sakit nak.”

“Wah, kalau enggak mandi, nanti bau, nanti enggak punya teman.”

“Jangan digigit dong nak puting Ibu, nanti berdarah tau.”

Siapa yang suka seperti ini? Saya…Tanpa disadari proses mendisiplinkan anak menjadi proses menakuti anak.

“ Kita lupa mengajarkan cinta kepada anak, Saya saat ini tidak menggunakan sabun berbahan kimia, bukan karena Saya takut pada bahan kimia, Saya ini tinggal dekat sawah, di belakang rumah Saya, bagaimana bisa Saya meracuni sawah ini, yang memberikan Saya makan? Saya melakukan ini karena Saya mencintai mother earth, ibu Saya.”, ujar Gobind.

Gobin juga mengingatkan ketika kita mulai membandingkan anak dengan orang lain, anak akan merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Memang sangat mudah membandingkan anak, anak akan merasa adanya kompetisi dan mulai menjadi lebih baik versi Ibunya. Tanamkan cinta salah satunya dengan berujar ,” I love you the way you are”.

Sekarang saat mengajarkan Mahija 2 tahun 9 bulan yang tidak hobi mandi, Saya akan berkata , ‘’ Mahija , tuhan kasih kita tubuh, badan untuk kita jaga dan sayangi, yuk coba kita sayang-sayangi dan bersihkan”. Apa langsung berhasil ? Tentu tidak. Tapi mari terus latihan.

 

  1. Beri Pujian Pada Kebiasaan Anak yang Baik

“Kita tidak pernah lupa memberikan pujian kepada anak bila anak berhasil menggambar, berjalan, atau makan banyak. Tapi kita terkadang lupa memberikan pujian pada kebiasaan baik anak saat berbagi dengan orang lain, berjalan sendiri tanpa digendong, ramah terhadap orang lain, dan lainnya”, tegas Gobind.

Hari itu juga, selesai dari kelas, Saya dan Mahija bermain di playground, Mahija yang masih dalam fase kepemilikan masih belajar untuk berbagi. Tapi hari itu Mahija berkali-kali menanyakan kepada anak yang sedang bermain ayunan “ Permisi, boleh pinjam”. Mereka saling bergantian. Setelah selesai bermain, Saya mengucapkan terimakasih kepada Mahija yang mau berbagi dan bertanya saat ingin meminjam.

“ Perlu diingat apabila anak belum mau berbagi, biarkanlah, apa Anda mau meminjamkan mobil Anda kepada orang lain yang Anda tidak kenal? Jangan rusak hubungan Anda dengan Anak . Ini juga berlaku bila anak tidak mau salam dengan keluarga atau kerabat. Biarkanlah anak memilih waktunya sendiri untuk mengenal orang”, Gobind menerangkan.

  1. Jadilah tempat belajar bukan berlindung

Di tengah-tengah kelas, kami menonton Ibu bebek dengan lebih dari 5 anaknya yang sedang berjalan menaiki trotoar jalan. Ibu bebek naik duluan, lalu anak-anak bebek satu persatu naik. 2 anak bebek tertinggal. Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya memperhatikan dari dekat di atas trotoar. Satu persatu anak bebek ini naik , walau 1 anak terakhir butuh waktu, Ibu bebek tidak membantu, tapi hanya dia memperhatikan dari dekat.

“Anak bukan butuh pelindung, tapi tempat untuk belajar. Bila anak jatuh, ingatkan kepada anak, bila ada kebahagiaan , maka ada kesedihan. Bila ada enak, ada tidak enak. Kamu sudah merasakan kebahagiaan, mari kita juga peluk kesedihan”, Gobind menjelaskan. Anak punya kemampuan luar biasa dalam beradaptasi, let them adapt whith not only the goods of the world but also the bad. Biarkan mereka bersedih bila tidak mendapatkan mainan yang mereka inginkan.

Mahija sangat suka yoghurt, saat ke supermarket, pasti meminta yoghurt. Kami, saya dan Ray suami saya , percaya sesuatu yang terus menerus sangat tidak baik. Jadi saat pertama kali menolak membelikan yoghurt , Mahija kecewa, menangis teriak-teriak. Kami hanya diam, dan tidak memberikannya. Kami meyakini, M tidak bisa selalu mendapatkan apa yang Ia mau, biarkan Ia belajar mengenali kesedihan dan mengatasinya.

“ Anak tantrum, karena ini adalah satu-satunya cara yang Ia tahu untuk berkomunikasi. Saat anak Saya Rigpa tantrum, saya hanya akan bermeditasi disebelahnya dengan mata terbuka. Saya mebiarkan Rigpa mengeluarkan emosinya. Bila kita mengalihkan emosinya dengan memberikan manisan, video games atau lainnya, kita mengajarkan anak untuk tidak menyelsaikan masalahnya, tidak mengeluarkan kemarahannya.”, Ujar Gobind.

“Rigpa bisa lebih dari satu jam menangis, maka saya hanya akan diam disebelahnya. Bila di tempat ramai, pulanglah atau ketampat yang lebih sepi. Memberitahu anak saat Ia sedang marah atau sedih tidak akan berhasil. Saat anak sudah selesai meluapkan emosi, berilah rangkulan”.

  1. Latihan…Latihan.

Tidak ada resep yang pas untuk pareting, tiap Ibu dan Ayah punya caranya sendiri-sendiri. Bagaiamana cara berhasil compassionate Parenting? “Latihan, latihan dan latihan itu saja”, tutup Gobind.

IMG_5613

Leave A Reply

Navigate