MONTESSORI DI RUMAH SEMUDAH MENUANGKAN AIR

Montessori itu semudah melibatkan anak untuk membersihkan meja di rumah dan memanfaatkan bahan makanan di dapur. Tidak percaya?

Metode Montessori berawal dari pengalaman seorang dokter yang beralih menjadi pendidik, Dr. Maria Montessori. Ia melakukan pendekatan kepada 50-60 anak usia 3-6 tahun di Casa dei Bambino, Italia. Kebanyakan anak-anak tersebut kekurangan gizi dan lambat berkembang. Montessori melakukan observasi cara menangani anak-anak tersebut. Kini, metodenya banyak diadopsi di seluruh dunia.

Seperti yang diungkap dalam buku Montessori di Rumah yang ditulis Elvina Lim Kusumo, pendiri IndonesiaMontessori.com, ide utama Montessori adalah memperlakukan anak dengan respek/hormat, mempersiapkan lingkungan yang mendukung kegiatan anak dan sesuai dengan kebutuhan anak, menyiapkan materi dan membebaskan anak mengerjakan kegiatan yang mereka inginkan, melatih anak untuk mengoreksi kelalaian atau kesalahan yang mereka buat sendiri, memberi kesempatan anak untuk bekerja sesuai ritme mereka sendiri dan mengobservasi kesiapan anak untuk mempelajari hal baru.

IMG_1602
Launching Buku Montessori Di Rumah. Foto : Lutfi Anandika

Pendekatan Montessori dibagi menjadi dua bagian. Pertama, work, kegiatan yang dilakukan untuk tujuan tertentu dan membutuhkan konsentrasi. Waktu ‘work’ yang direkomendasikan untuk anak usia dini adalah 2-3 jam penuh untuk satu siklus Montessori Work. 

Kedua adalah play, yaitu kegiatan apa saja yang menarik dan menyenangkan untuk dilakukan anak dan bersifat rekreasional. Dr. Montessori percaya bahwa bermain adalah pekerjaan penting untuk anak usia dini. Maka sangat disarankan untuk melakukan aktivitas fisik di luar ruangan dan eksplorasi bebas selama 1 jam sehari untuk membuat anak lebih tenang dan siap berkonsentrasi untuk mengerjakan Montessori work.

Ditemui saat peluncuran bukunya tersebut, dalam sebuah talk show yang dimoderatori oleh haloibu.id , Elvina mengungkapkan dalam bukunya bahwa Montessori merupakan sebuah gaya hidup, di mana anak diberi kesempatan berkembang dan mengeksplorasi setiap sudut rumah dengan aman (child-friendly). Montessori juga dasar yang kuat untuk memperkenalkan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari kelak, yang lebih baik diperkenalkan dengan cara yang riil, konkret, melalui pengalaman langsung dan harus terkesan menyenangkan.

Elvina menambahkan, yang paling penting dalam metode Montessori adalah mengasah keterampilan hidup sang anak. “Practical life skills is the art of Montessori. Ini yang pertama dan terutama sebelum mempelajari mata pelajaran lain. Kalau keterampilan hidupnya sudah dimulai lebih dulu, pelajaran yang lain akan dengan mudah mengalir (dipelajari),” katanya. Jadi meskipun anak Anda sudah bersekolah, tidak ada salahnya bahkan sejuta manfaatnya, jika Anda tetap menerapkan metode Montessori di rumah.

Lalu bagaimana menerapkannya di rumah?

Tidak seribet yang Ibu bayangkan. Sesuaikan saja dengan ketertarikan anak. Untuk mengasah keterampilan hidupnya, Ibu bisa melibatkan anak dalam kegiatan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, mengepel, melipat baju, menuang air, berkebun, memasak, belajar memindahkan barang, menyiapkan meja, memakai baju sendiri, mencuci tangan dan mencuci muka, membuka dan menutup pintu dengan tepat hingga beretika yang baik. Tujuannya adalah memberi anak kesempatan melakukan kegiatan yang dilakukan orang tua, mengasah motorik dan menambah kepercayaan diri anak.

Yang harus kita sebagai orang tua perhatikan adalah memastikan lingkungan rumah yang kondusif, aman dan memungkinkan anak melakukan semua hal di atas tanpa membahayakan dirinya. Penting diingat pula, dengan mengerjakan pekerjaan rumah di atas, bukan berarti anak diminta untuk mengerjakan sepenuhnya hingga selesai.

Tujuannya adalah menimbulkan rasa bangga (sense of pride) dan merasa dihargai. Karena pada dasarnya, anak mengalami dorongan untuk terlibat dalam kegiatan lingkungannya dan mengimitasi apa yang dilakukan orang dewasa. Dengan melibatkan dan mengijinkan mereka ikut dalam pekerjaan yang kita lakukan, anak akan merasa diperhitungkan . Ini akan menambah rasa percaya dirinya.

“Oleh karena itu, Maria Montessori mengatakan bahwa tidak ada bedanya bermain (play) dan bekerja (work) karena hal ini sama menariknya bagi anak-anak, bahkan lebih menarik dan lebih memberikan kepuasan batin,” tulis Elvina dalam bukunya.

Selain itu, idealnya dalam metode Montessori memang dibutuhkan beberapa aparatus Montessori atau material yang mendukung anak dalam belajar seperti pink tower, golden beads, number roads, knobbed cylinders, moveable alphabet, dll. Namun, jangan keburu ciut jika anda belum memiliki aparatus tersebut. Ibu bisa membuatnya sendiri sebagai perwakilan dari aparatus Montessori yang sesungguhnya. Dan ini disebut sebagai Montessori inspired DIY.

Intinya adalah Ibu membuatkan materi yang dapat mempermudah anak menangkap konsep secara konkret dan lebih mudah dipahami. Misalnya untuk berhitung, Ibu bisa menggunakan berbagai kacang-kacangan. Ibu juga bisa berkreasi dengan beras, air, tray, aneka mangkuk berukuran kecil, pasta, sumpit dan masih banyak lagi. Semuanya ada di dapur Ibu! Sambil bermain, Ibu bisa mengasah kelima pancaindera anak: penglihatan, pendengaran, penciuman, indera pengecap dan peraba.

Misalnya saat bermain dengan biji-bijian, Ibu bisa menjelaskan apa rasanya saat digenggam di tangan, bagaimana aromanya, warnanya, bentuknya, bunyinya saat digoyangkan di dalam mangkuk atau tray, dan sebagainya. Dalam satu kali permainan, Ibu menambahkan banyak sekali pengetahuan dan perbendaharaan kata anak . Belum lagi motorik dan daya konsentrasinya terasah sekaligus. Menyenangkan, bukan!

Karena dari ibu yang kreatif, akan lahir anak-anak cemerlang. Selamat berkreasi ya, Ibu!

IMG_1790
Setelah 1 tahun lalu membuat indonesiamontessori.com, Elvina Lim Kusumo menulis buku Montessori Di Rumah. Foto : Lutfi Anandika
IMG_1737
Elvina Lim Kusumo dan anaknya Caleb. Foto : Lutfi Anandika

IMG_1869
Elvina Lim Kusumo dan Dr. Andy Kusumo , serta anak mereka Caleb . Foto : Lutfi Anandika

FOTO OLEH : LUFTI ANANDIKA

Leave A Reply

Navigate