MENONTON BIOSKOP DENGAN BAYI

Seminggu yang lalu kami menonton bioskop, pasti kami memilih menonton film anak-anak bila membawa Mahija. Bila tidak? Kami akan memilih jam menonton yang paling malam, jadi Mahija bisa tidur, orangtuanya asyik menonton. Hehe. Oh iya, kemarin ada satu pasangan membawa bayi kurang dari satu tahun tapi sudah melewati fase newborn. Ini kira-kira percakapan mereka:
“Yes kita berhasil yah Pah!”, ujar Ibu bersemangat syang sedang mencoba menggendong anak dengan Baby carrier di dadanya.
“Yes! “, kata ayah senyum-senyum centil sambil membantu Ibu memasangkan Baby Carrier.
Saya dan Ray yang mencuri percakapan dari sebrang bangku, mesem-mesem sendiri. Hehe. Pasangan muda tadi, kami juga masih muda kok hanya anaknya lebih tua hehe, melirik ke kami dan memberi kode “we just did it” , aksi pamer ke orangtua lain.
It Made my day. 
Saya jadi Ingat pertama kali membawa Mahija ke bioskop. Pada saat Mahija Newborn , saya tidak banyak keluar rumah, Mahija yang masih baru di dunia ini tidak bisa dibawa kemana-mana terlalu sering. Sampai umur 6 bulan, bosan juga hanya jalan-jalan saja, sebagai warga Jakarta tulen saya merasa kurang hiburan. Biasa berada di hiruk pikuk metropolitan, lama di rumah, membuat saya jenuh. Saya juga kangen dengan hobby menonton bioskop. Wangi popcorn dengan mentega lumer, bunyi ting nong ting nong Mba-mba informasi, anak muda pacaran, dan fokus hanya menonton selama 2 jam, tidak memikirkan hal lain. I miss my old boyfie the red seat. Waktu masih lajang, Saya bisa hanya menonton sendirian, menikmati momen, pikiran saya, cerita film dan aktor bercinta bersama.
Maka untuk melawan post-patrum depresion ini, saya dan Ray memutuskan untuk membawa menonton film di bioskop. Dengan Mahija. Karena ketidakadaan suster, mertua, maupun ibu sendiri yang dapat dititipkan Mahija, mereka semua menolak lantaran Mahija masih ASI.
Kami sadar betul bioskop itu dingin, suaranya keras, banyak kuman, banyak orang, belum lagi omongan orang di dunia nyata dan maya. But, heck, lets do this, for the sake of happyness. Ini jurus kami melawan hal-hal diatas.
” Bioskop Itu dingin banget loh, kasian Bayi.”
Selimut dan jaket diciptakan untuk menghangatkan tubuh, maka pakaikanlah. Kami tidak lupa membawa baju hangat untuk Bayi Mahija, Serta kaos kaki dan topi.
“Suaranya Keras sekali Di Bioskop, kasian Bayi”
Benar,  Kami takut dan nervous sekali dengan kenyataan ini, Alih-alih mau menidurkan Mahija, malah nanti Dia teriak nangis saat film diputar. Maka sebelum aksi menonton, kami memastikan Mahija dapat tidur lingkungan yang ramai atau berisik. Bagaimana mungkin? Mungkin sekali, awalnya susah tapi anak bayi begitu cerdasnya, beritahu perlahan ‘nak, tidur yah, Ibu mau menonton dulu’, saya akan menyalakan tv atau mencoba menidurkan Ia dikala kami sedang jalan-jalan. Saat hari H pun, kami tadinya ingin menyiapkan earphone untuk bayi tapi karena satu dan lain hal tidak jadi, kami akhirnya menutup kuping Mahija dengan topi beanie yang agak tebal. Perlu saya ingatkan lagi,pilihlah jam menonton saat jam tidur anak, jadi anak tidak bosan dan berkesempatan menangis . Hehe. Tapi bila membuat Ibu nyaman dan percaya diri, boleh gunakan earphone. Hoiya jangan lupa susui bayi bila Ia panik atau tidak tidur. Membawa makanan dan snack kesukaan balita agar  membuatnya lebih tenang,
“Bayi itu sensitif terhadap kuman, terhadap banyak orang”.
And this Is totally true. Bayi sensitif terhadap dunia ini, Ia mahluk baru yang mencoba beradaptasi . Maka si Ibulah yang menjadi tameng pertama akan dunia . Kuman itu buruk, tapi sistem tubuh bayi itu baik, apalagi bila Ia masih ASI, imun bayi akan membiasakan diri dengan kuman-kuman tersebut. She will endure. Saya yakin anak saya sehat dan kuat, terbukti sesudah pulang dari bioskop Mahija tidak sakit. Saya sangat bersyukur.  Lalu untuk Orang lain, saya tidak suka bila anak saya dipegang oleh oranglain, Aduh tangannya tidak tahu asalnya darimana saja, bisa saja dari toilet dan lainnya. Saya sedikit galak bila ada yang memegang Mahija sampai Ia berumur 18 bulan. Saya biasanya menegur ‘jangan dipegang mba atau mas’ . Bila orang-orang ini keburu pegang, langsung saya elap tangan Atau pipi Mahija dengan wipes atau cuci dengan air. Bila kita orang dewasa dicubit pipinya, dipegang-pegang oleh orang lain, dicium, apakah merasa nyaman? Ini juga yang dirasakan anak.
Anak Menangis
Saat anak menangis di dalam biokop bisa dajak keluar dan ditenangkan. Waktu Mahija belajar jalan, M senang sekali lari-lari jalan-jalan ditangga, yasudah, saya dan suami bergantian menemani sambil curi-curi menonton. Lagi-lagi coba pilih menonton di jam tidur anak.
Sekarang Saya dan Ray memilih yang kami tonton. Bila film dewasa, kami akan membawa busy bag, playdoh, dan banyak mainan. Bila sudah mepet sekali, saya akan berikan games di handphone. Kenapa enggak menonton ajah di rumah? We loved too. Tapi kadang banyak film baru yang belum bisa di unduh. Saya dan Ray juga tidak punya nanny untuk menitipkan Mahija, kadang orangtua kami sibuk. Jadilah demi bisa nonton kami membawa Mahija. Its not ideal, but we just go for it. As long it made us feel good about ourselve and we have a good time. And if M is not happy, we just go out and leave the movie.
“Gila , masa bawa bayi menonton sih“.
Yang ngomong apa sudah punya anak? Yang ngomong apa tahu ini jam tidur anak? Yang omong apa tahu Ibu juga butuh hiburan? Ingat kembali, ini adalah misi menyenangkan diri sendiri agar menjadi amunisi untuk bahagia saat mengurus anak di rumah nanti . A Happy mom makes  happy kid. Go for it , Ibu :). Let me know how it goes yah…..

Leave A Reply

Navigate