Menghadapi Anak Tantrum?

Mungkin pernah mendengar quotes “Mother’s love to her kids is unconditional, but her temper is another subject.”  Sepertinya quote itu benar ya, apalagi ketika anak sedang tidak bisa diajak bekerjasama, misalnya saat sedang tantrum. Bisa-bisa orang tuanya juga ikut tantrum.. hehe..

Tantrum merupakan perilaku agresif yang tidak terkendali seperti menangis, menjerit, memukul, menendang, atau berguling-guling. Tantrum biasanya muncul pada anak usia 0 sampai 3 tahun ketika Ia mengalami situasi yang mengecewakan atau tidak menyenangkan. Misalnya, saat ia tidak berhasil melakukan sesuatu atau saat permintaannya tidak dipenuhi oleh orang tua. Sayangnya kemampuan verbal yang dimiliki oleh anak seusia ini masih terbatas, sehingga emosi negatif yang Ia rasakan ditunjukkan melalui perilaku tantrum. Perilaku tantrum menjadi berbahaya apabila yang dilakukan anak dapat menyakiti dirinya sendiri dan orang lain atau menimbulkan kerusakan terhadap benda di sekitarnya.

Seingat saya, saat usia 0-3 tahun, Raka tidak pernah tantrum hingga berguling-guling atau menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Jika tidak bisa memenuhi keinginannya, Saya dan atau suami akan memberikan alasan yang jelas. Kalau dia kesal karena gagal melakukan sesuatu, Saya dan atau suami akan meminta dia untuk tenang terlebih dahulu, lalu kami dampingi untuk mencari solusinya. Raka anaknya cukup mudah diberi pengertian walaupun tidak jarang ketika Ia sudah paham tetap saja menangisnya masih dilanjutkan. Kadang ketika ngambek Ia akan bicara keras “Ibu ih!” lalu pergi atau menangis. Kalau sudah begitu seringnya kami biarkan saja.. toh ujung-ujungnya dia menghampiri lagi dan minta peluk. Rayi yang saat ini berusia 2 tahun pun seingat saya baru pernah satu kali menunjukkan perilaku tantrum sampai berguling-guling di lantai ketika keinginannya tidak dipenuhi. Sekarang kalau dilarang dia hanya manyun lalu menghampiri minta peluk. Setelah melalui serangkaian trial eror dalam menghadapi emosi Raka dan Rayi, saya dan suami sudah paham bahwa menunjukkan dan melepaskan emosi negatif itu perlu. Dalam keluarga kami pelukan adalah senjata ampuh untuk menenangkan hati yang gundah atau marah.

Emosi negatif, seperti rasa kecewa dan marah adalah suatu hal yang wajar muncul pada diri manusia, tidak hanya pada orang dewasa tapi sudah ada sejak kecil. Anak usia 0 sampai 3 tahun baru belajar untuk menghadapi rasa kecewa. Ketika orang tua meminta anak untuk berhenti menangis atau justru menghibur anak dengan memenuhi apa yang ia inginkan justru dapat menyumbat emosinya. Orang tua wajib memberikan pemahaman yang baik kepada anak mengenai apa yang ia rasakan dan bagaimana cara menghadapinya, agar di lain waktu anak tidak menjadikan tantrum sebagai senjata agar apa yang diinginkan selalu dipenuhi oleh lingkungannya.

Pernah suatu saat Raka ngambek di mall sampai nangis. Sayangnya Saya lupa apa penyebabnya ketika itu. Walaupun Raka hanya menangis biasa dan tidak sampai marah berlebihan, tapi Saya segera menggendong Raka dan mencari tempat sepi di dekat toilet. Kami butuh privasi, agar Raka bisa bebas mengeluarkan uneg-unegnya dan saya bisa berpikir jernih berusaha memberikan pengertian tanpa merasa terintimidasi oleh tatapan orang-orang di sekitar yang berlalu lalang. Kami membuat kesepakatan bahwa kami baru akan kembali ke dalam mall setelah Raka tenang. Komunikasi yang kondusif sangat penting agar apa yang kita sampaikan dipahami betul oleh anak.

Jadi, ketika anak sedang tantrum, biarkan saja selama tidak berbahaya dan bukan di tempat umum. Berikan Ia waktu untuk melepaskan emosi negatif dan kesempatan untuk belajar meredam emosinya sendiri. Biasanya anak akan letih dan berangsur tenang dalam waktu 15-20 menit. Jadi sabar-sabarlah menunggu.. hehe.. Jangan sekali-kali mengajak anak bicara saat Ia sedang menangis atau tantrum dan saat kita juga sedang emosi. Kadang malah saya yang bilang ke Raka “Mas, ibu lagi marah, ibu mau duduk dulu di kamar sebentar ya.” Saat mengajak anak bicara, pastikan posisi mata kita sejajar dengan matanya. Sampaikan apa yang kita ingin anak pahami dengan bahasa yang jelas, tidak bertele-tele, juga intonasi yang tegas, bukan galak dan marah-marah ya.. Jangan lupa berikan juga kesempatan kepada anak untuk menyampaikan apa yang ia rasakan dan pikirkan.

Jika orangtua terbiasa tegas dan konsisten dengan apa yang Ia ucapkan maka kemungkinan anak tantrum ketika keinginannya tidak dipenuhi menjadi sangat kecil. Satu hal yang pasti, jangan terpancing emosi saat anak sedang emosi.. Hmm susah ya? Sayapun juga masih belajar untuk hal yang satu ini.. Hehe.. Karena bagaimana mereka mau belajar untuk mengendalikan emosi saat di hadapannya ada orang dewasa yang juga belum bisa mengendalikan emosi. Ups!

Leave A Reply

Navigate