Stretch Mark itu Bukan Takdir

Tapi harus berusaha!

Disclaimer:                                                                                                                                        

Ini bukanlah persetujuan terhadap standar kecantikan tertentu yang menyatakan perempuan cantik adalah yang berkulit porselen atau tidak memiliki stretchmark. Artikel ini ditulis untuk memberi insight bahwa mitos dan hal yang biasa terjadi saat hamil memiliki penjelasan dan bisa dipelajari.

Stretch mark adalah salah satu hal yang bikin saya  (dulu) males/takut hamil. Belum hamil saja aku sudah punya banyak stretch mark putih di paha dan betis hasil peregangan kulit semasa remaja. Gimana nanti kalau hamil? Cupu, ya. Masa takut hamil gara-gata stretch mark hehe tapi sungguh, masalah stretch mark ini sempat bikin nggak bisa tidur! Setiap hari aku bertanya-tanya, apakah stretch mark itu takdir?

Stretch mark yang muncul di masa remaja memang bikin saya agak nggak pede tadinya. Bertahun-tahun (di tengah gempuran majalah remaja yang menampilkan cewek-cewek ‘cantik’ mulus nan halus), saya berjuang melawan citra diri, berjuang menerima diri sendiri dan mengakui dengan lapang dada kalau iya, saya punya kulit yang gampang melar. It was a hard time! butuh waktu lama untuk berdamai dengan hadirnya stretch mark, butuh perjuangan untuk menerima diri sendiri.

Walau sekarang sudah bisa embracing stretch mark with love, aku nggak mau kehamilan membuat stretch markku bertambah. Tuhan, tolong, hindari aku dari stretch mark kehamilan!

Nggak lebay, tetapi itu salah satu doa yang aku panjatkan ke Tuhan selama hamil. Semoga kehamilanku bebas stretch mark. Doaku diaminkan semesta. Tetapi bukan tanpa usaha.

~

Klise. Saking takutnya garis merah itu muncul di perut, aku membeli berbagai macam krim antistretch mark yang ada di pasaran. Merknya beli yang rekomendasi teman atau rekomendasi forum ibu-ibu. Ada satu pertanyaan yang mengguncang jiwa; kenapa sudah pakai krim stretch marknya masih muncul? Jangan-jangan benar, stretch mark kehamilan itu takdir?

Jadilah aku melakukan riset kecil-kecilan untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Aku menganalisa merk dan cara pakai krim ke beberapa teman yang katanya ‘sudah memakai krim’ tetapi masih muncul stretchy. Surprisingly, ada satu jawaban yang dijawab sama, yakni:

Me           : Kamu pakainya rutin?

Friend    : Nggak sih, paling habis mandi atau kalau ingat aja

Ketemu jawabannya. Pantas saja masih muncul stretchy karena pakai krimnya nggak rutin. Pakai krim anti-stretch mark ‘kalau ingat aja’ atau ‘palingan abis mandi aja’ will not save your skin from stretchy. Hasil riset kecil-kecilan ini diperkuat dengan pernyataan yang kudapat dari buku The Complete Book of Essential Oils & Aromatherapy karya Valerie Ann Worwood. Dalam buku itu, Valerie menyatakan bahwa kulit manusia beregenerasi selama (paling tidak) 30 hari – jadi diharapkan kita sabar menunggu atau rutin mengaplikasikan skin care ke kulit. Setelah 30 hari, hasilnya baru akan kelihatan dan membaik seiring perawatan yang terus rutin dilakukan.

Jadi, percayalah, jika ingin kulit bebas stretchy saat hamil, harus rutin mengoleskan skincare ke sekujur tubuh. Kulit yang kering akan membuat kulit tidak elastis. Saat kulit keelastisannya berkurang dan kulit meregang, maka stretch mark pun datang.

Sepertinya, mitos yang mengatakan bahwa menggaruk perut hamil akan menimbulkan stretchy harus dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Perut gatal saat hamil bisa disebabkan oleh kulit perut yang terlampau kering karena peregangan. Nah, kulit keringlah yang menyebabkan stretch mark hadir. Jangan salahkan menggaruk karena menggaruk hanyalah reaksi alami tubuh merespon rasa gatal. Menggaruk perut yang gatal selama hamil? Silahkan saja. Tapi jangan lupa untuk membuat perut selalu lembab dengan rajin mengoles krim/minyak kesukaan.

Stretchmark kehamilan boleh dibenci, tapi jangan dimusuhi. Jadikan hamil sebagai momen merawat tubuh dengan penuh dedikasi demi kepentingan sendiri. Jika stretchmark sudah terlanjur muncul, gimana dong? Saran saya , embrace it with love. Memang tidak mudah menerima tubuh sendiri, but in the end, siapa pun yang berhasil menerima dan menjadi diri sendiri di zaman ini, adalah para pemberani.

Leave A Reply

Navigate