Mandiri, Jauh Dari Ibu

Dear ibu,

Saya seorang ibu yang mempunyai anak perempuan yang berusia 4 tahun, saat ini kami sekeluarga tinggal di kota Melbourne, Australia. Sebelum mempunyai anak saya pernah bekerja di bagian marketing selama 8 tahun di salah satu perusahaan “outsourcing” di Melbourne, Australia. Melalui Haloibu.id saya ingin berbagi cerita tentang suka duka serta tantangan yang dihadapi selama menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anak di negara orang lain.

Pertama saya ingin berbagi cerita suka selama tinggal di kota Melbourne. Hidup di negara maju seperti Australia fasilitas yang diberikan kepada rakyat setempat juga sejalan dengan kemajuan negaranya. Kita bisa lihat dari fasilitas umum yang diberikan seperti sekolah, perpustakaan, kendaraan umum, tempat bermain anak, rumah sakit dan lain sebagainya tertata rapi dan teratur.

Untuk saya fasilitas umum yang diberikan dari pemerintah Australia sangat membantu keluarga saya. Salah satu contoh fasilitas “Maternal and Child Health Service” dimana fasilitas ini sangat membantu saya sebagai ibu muda yang pengetahuan akan mengurus anak bayi sangat minim. Melalui fasilitas ini saya mendapat informasi yang lengkap dari A to Z tentang dunia ibu dan anak seperti informasi perkembangan anak, kesehatan, nutrisi, menyusui, babyblues, aktivitas anak, imunisasi sampai dengan mempertemukan saya dengan Ibu-Ibu muda untuk bisa saling bertukar pendapat pun tersedia. Semua fasilitas dan informasi yang diberikan untuk mengurangi beban pikiran dan mempermudah kita sebagai orang tua dalam membesarkan anak. Selain itu ada juga Maternal child on call dimana kita bisa berkonsultasi via telepon tentang simptom sakit dan kiat-kiat apa yang harus dijalani ketika anak sakit sebelum pergi ke dokter dan topik anak lainnya.   Dokter umum (General Practitioner) disini sebagian besar gratis atau dikenal dengan istilah “Bulk Billing”. Penjelasan di atas hanya seperbagian dari fasilitas yang tersedia, sebenarnya masih banyak sekali fasilitas dari pemerintah Australia yang sangat menunjang kehidupan keluarga dan anak saya.

Hidup di negara orang lain selain suka tentu ada duka dan tantangan yang dihadapi.  Salah satu tantangan yang saya hadapi sebagai ibu rumah tangga adalah menjalani pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak disaat bersamaan tanpa adanya bantuan pihak ketiga seperti keluarga atau asisten rumah tangga. Masa tersulit adalah ketika anak saya masih bayi di mana saya seorang diri harus menjalani pekerjaan rumah tangga dan juga mengurus bayi karena disini suami juga sudah kembali bekerja. Terus terang saya mengalami kesulitan dalam menjalankan kedua-duanya.  Masa ini hampir tidak ada “me time” untuk saya, dimana rasa capai dan lelah terus berkelanjutan. Saya tetap menjalaninya dengan ikhlas dan berusaha menjalankan dengan baik walau masih jauh dari sempurna.

Semakin Alika besar sedikit kemudahan dalam membagi waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurus serta membuat aktivitas untuknya. Terus terang rasa lelah tetap akan selalu ada karena semua dikerjakan sendiri. Untuk “me time” sekarang jauh lebih baik dimana Alika sudah bersekolah.   Waktu luang ini saya manfaatkan untuk bersosialisasi dengan teman atau sekedar santai di rumah, walaupun kebanyakan waktu luang ini saya pakai untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan belanja kebutuhan rumah tangga.    Kenapa pekerjaan rumah tangga saya lakukan diwaktu me time saya?   Karena selain pekerjaan cepat selesai saya ingin ketika Alika pulang sekolah saya mempunyai quality time bersamanya.

Tantangan besar lainnya ketika hidup jauh dari keluarga adalah ketika saya atau suami saya mendadak sakit, apalagi sampai harus dirawat di rumah sakit. Sudah pasti si anak akan turut serta menemani ke rumah sakit yang ada si anak merasa bosan, tidak nyaman dan saya juga khawatir kalau dia menjadi sakit. Disini lah kehadiran keluarga sangat dibutuhkan untuk mengaja anak saya selama saya atau suami dirawat.   Sebenarnya kita bisa menaruh dia di tempat penitipan anak tetapi disini tidak bisa dalam keadaan mendadak selain itu mereka tidak bisa menjaga seharian penuh. Alternatif lain menggunakan jasa “nanny” yang datang ke rumah, ini pun tidak mudah dan saya pribadi orang yang selektif memilih orang untuk menjaga Alika. Karena Alika sendiri belum pernah dijaga oleh orang lain. Pada dasarnya dalam situasi ini saya lebih suka keluarga, tetapi untuk mendatangkan orang tua dari Indonesia ke Australia bukan hal yang mudah dan cepat karena ada proses ijin tinggal yang harus diurusi terlebih dahulu. Disaat seperti ini terkadang saya merasa sedih sekali dan terbesit rasa ingin tinggal di Indonesia saja. Tetapi sampai detik ini tidak pernah terjadi karena sampai saya dan suami sampai sekarang masih tinggal di Australia. Yang menguatkan kami adalah rasa bersyukur dan selalu mengambil hikmah bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, dan pengalaman ini membuat saya dan suami menjadi orang yang lebih kuat, mandiri, selalu berusaha hidup sehat dan tidak selalu tergantung dengan orang lain.

Di atas adalah salah satu tantangan yang kita hadapi selama hidup di negara orang lain, sebenarnya masih banyak tantangan yang akan kita alami sebagai orang tua, salah satu contoh membesarkan anak di dalam kehidupan sosial, budaya dan agama yang berbeda dengan yang kita terapkan. Saat ini Alika masih usia ”toddler” jadi tantangan itu belum terasa berat karena si anak masih bisa kita atur, tetapi saya yakin ketika dia sudah duduk dibangku sekolah dasar dan seterusnya tantangan ini akan menjadi berat.

Itulah sebagian cerita suka dan duka kehidupan saya sebagai ibu yang membesarkan anak di negara orang lain. Walaupun saya sadari setiap ibu akan selalu mendapat tantangan dimana pun mereka tinggal, hanya saja tantangan setiap keluarga akan berbeda tinggal kita bagaimana menyikapinya tantangan tersebut.   Apakah menjadi beban atau pelajaran hidup yang sangat berharga? Satu hal yang saya dan suami selalu tanam dalam hati bahwa anak adalah titipan dari yang kuasa dan kita harus jaga amanah-Nya dengan baik.

 

Leave A Reply

Navigate