Aku Si Manusia Egois

Dear Ibu,

1 tahun 3 bulan tepatnya aku menunggu kedatangan makhluk mungil ini di perutku. Makhluk mungil yang ada di dalam perut sungguh merubah semuanya. Aku ingat berapa banyak khayalku tentang bagaimana aku akan menjadi gurunya, mengajarinya beribu hal yang ada di dunia. Bagaimana caranya duduk, bagaimana caranya makan, bagaimana caranya mengikat tali sepatu, sampai bagaimana caranya untuk mendapatkan gadis yang mungkin suatu hari nanti akan dia tanyakan kepadaku. Mungkin.

Aku, si manusia egois ini mulai memperhatikan gizi makananku. Tidak hanya asal kenyang dan enak. Karena sekarang sudah ada makhluk kecil yang bergantung padaku. Aku si manusia egois ini mulai tidur tepat waktu. Karena sekarang ada makhluk kecil menendang-nendang seperti tidak senang ketika aku nonton tv terlalu larut. Aku si manusia egois ini mencari bagaimana cara tidur paling nyaman pada saat-saat yang paling tidak nyaman. Karena sekarang ada makhluk kecil yang mengganjal di perutku.

Sampai pada akhirnya si makhluk kecil ini bertemu denganku di dunia. Aku si manusia egois ini baru tahu bahwa pada hari itu justru aku yang akan berguru dan belajar kepadanya tentang bagaimana caranya jadi Ibu.

Minggu pertama kami, aku belajar proses menyusui. Aku si inferted nipple ini, tidak mempunyai kepercayaan diri, sehingga sering putus asa saat latch on yang lebih sering gagal. Aku sering putus asa ketika banyak orang yang mengejek si inferted nipple dengan keras dan berkali-kali. Aku sering putus asa ketika tenaga medis di tempatku melahirkan pun menyangsikan aku si inferted nipple. Aku sering putus asa ketika puting ini berubah menjadi seperti kawah gunung berapi dan berakibat si makhluk kecil semakin susah untuk latch on. Aku sering putus asa, bahkan oleh Ibuku sendiri yang lebih sering teriak panik daripada elusan menenangkan.

Minggu kedua ternyata lebih menarik lagi. Aku si manusia egois ini mulai kelelahan karena hampir tak punya waktu tidur. Sebentar-sebentar ganti popok, sebentar-sebentar nenen, sebentar-sebentar gumoh. Sampai pada akhirnya sempat suatu malam diisi dengan tangisan si makhluk kecil yang ada dipelukan, dan juga tangisanku manusia egois ini. Aku menolak untuk menyusuinya dikarenakan akumulasi kelelahan, Kelelahan yang teramat-sangat. Namun pelan-pelan aku belajar menerima keadaan, berperang melawan diri sendiri serta beribu rasa putus asa dan mencoba berdamai dengan kelelahan.

Minggu-minggu selanjutnya lebih indah. Ketika si makhluk kecil itu mulai bisa kupahami gerak tubuh, tangisan, dan kebiasaannya. Ketika tidak ada lagi gugup ketika menidurkannya, ketika sudah menemukan posisi yang pas ketika menggendongnya, ketika sudah lebih santai sewaktu mendengar tangisannya. Mungkin aku murid yang pandai atau guru mungilku ini yang begitu baik padaku.

Ternyata selama ini makhluk kecil ini guru sebenarnya dan akulah sang muridnya. Guru mungilku ini mengajarkanku kerjasama dalam tim yang sebelumnya tidak bisa dipahami oleh manusia egois sepertiku. Guru mungilku ini mengajarkanku bagaimana mengasah insting seorang ibu. Guru mungilku ini mengajarkanku untuk tetap berkepala dingin ketika sedang dibawah tekanan. Guru mungilku ini mengajarkanku bagaimana berpikiran jernih ketika sedang kelelahan.

Hai makhluk kecilku. Maafkan jika masih kurang sabar, kurang tanggap, dan kurang cermat ketika menjagamu.

Hai makhluk kecilku. Kuberi kau nama Maliq Omar Akbar. Agar kelak kau menjadi orang besar yang bisa membawa keberkahan bagi orang banyak.

Hai makhluk kecilku. Bersamamu, aku berjanji untuk akan selalu belajar. Belajar memahamimu dan belajar menjadi Ibu yang baik untukmu.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate