TAMAN HATI

Dear Ibu,

Memiliki anak batita atau balita, sudah pasti jadi kesenangan sekaligus tantangan tersendiri untuk Ibu. Perkembangan mereka yang pesat setiap hari, tingkah lucunya hingga kata-kata baru yang keluar dari bibir kecil mereka bisa jadi semangat tersendiri untuk kita. Namun tak bisa dipungkiri, sering kali keterbatasan kita sebagai seorang ibu adakalanya diuji. Ketika anak mulai rewel dan bersamaan Ibu sedang menghadapi banyak pekerjaan dan sejumlah aktivitas, kadang kala kita gemas dan terlontarlah begitu saja kata-kata yang seharusnya tidak kita ucapkan kepada anak.

“Kamu nakal sekali, sih!”

“Kamu tidak nurut ya sama Mama. Nanti Mama hukum!”

“Jangan cengeng dong, Nak, masa begitu saja kamu nangis!”

            Saya mengerti, bahwa Ibu pasti tahu bahwa contoh kata-kata di atas bila diucapkan terus menerus, bisa menjadi stigma yang melekat seumur hidup pada diri anak. Mereka akan berpikir: Oh, saya anak nakal karena tidak nurut sama Mama atau saya anak cengeng jadi wajar saja saya menangis terus. Sedih ya, kalau tanpa disadari kita sebagai ibunya sudah menoreh luka pada hati para malaikat kecil, hanya karena kita tidak mengerem perkataan kita.

            Sekali waktu, saat anak saya, Yenoah (2,5) tidak bisa anteng di sebuah acara, berkali-kali saya memintanya untuk duduk dan bersabar sebentar lagi. Namun, anak mana sih yang betah duduk berlama-lama dalam sebuah acara formal? Sama halnya dengan jagoan saya, dia pun kembali lari dan melompat ke sana kemari. Karena kesal, saya mengatakan: “Kamu tidak nurut ya. Mommy tidak suka!”

            Kedengarannya sederhana dan hanya kata-kata biasa. Tapi saya menyesal sudah mengatakannya. Setelah saya renungkan, dia bisa saja berpikir kalau dirinya bukan anak penurut. Terbayangkan kalau kalimat tersebut diulang-ulang setiap hari, maka bukan tak mungkin kalau sang anak akan berpikir: Maka pada kesempatan lain, tidak masalah dong kalau saya tidak mendengarkan Mommy. Toh, saya bukan anak penurut. Seram, ya, Bu!

            Dalam perjalanan pulang, saya cepat-cepat meminta maaf padanya. Saja jelaskan kalau saya tak bermaksud mengatakan demikian. “Mommy selalu sayang Noah. Hanya Mommy tidak suka apa yang Noah lakukan di acara tadi. Lain kali tidak diulang ya, Nak.” Saya pun mengajarkannya untuk meminta maaf atas perilakunya tadi. Lega hati saya setelah anak saya menanggapinya dengan senyum lebar dan memeluk saya.

            Saya pun selalu mengingat sebuah nasihat dalam sebuah buku rohani yang saya baca, bahwa hati adalah ibarat sebuah taman. Apa yang kita biarkan untuk ditabur di dalam hati kita, tentu akan menghasilkan buah. Nasihat ini ibarat sebuah rambu-rambu untuk saya agar menjaga tutur kata dan perbuatan sebaik-baiknya.

Sebab, dengan perkataan, perbuatan dan sikap kita, sebenarnya kita sedang menabur sesuatu ke dalam “taman”hati kita dan khususnya anak-anak kita. Perkataan-perkataan negatif yang kita cecarkan pada anak atau bahkan yang secara tak sengaja anak dengar dari mulut kita, orang tuanya, pasti akan menghasilkan buah yang tak baik untuk anak-anak.

Maka, sebelum menjaga taman hati sang buah hati, saya memastikan memiliki taman hati yang baik dulu. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus penulis paruh waktu yang tidak memakai jasa pengasuh, saya memang sebisa mungkin menghindari lelah dengan cermat membagi antara mengurus rumah, mengurus anak dan pekerjaan penulisan. Saya tahu diri, saat dalam keadaan lelah terkadang emosi jadi cepat tersulut. Saya juga tak mau menghabiskan waktu untuk hal yang bisa didelegasikan kepada orang lain, seperti urusan domestik. Lebih baik membayar jasa dan menggunakan waktunya untuk bermain bersama anak, bukan?

Tak hanya itu, menghindari energi negatif dari orang lain juga penting kita lakukan. Contohnya saja, saya menghindari untuk terlibat pembicaraan mendalam dengan beberapa teman yang senang sekali membanding-bandingkan milestone anak satu dengan lainnya. Point-nya bukan anak saya masuk dalam kategori unggul atau tidak dalam versi mereka. Tetapi bagi saya, setiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing, maka membandingkannya sama sekali bukan hal yang bijak.

Akhirnya, kondisi taman hati kita dan anak-anak kita adalah milik kita yang paling berharga. Pastikan hanya hal-hal berguna, positif dan mendukung perkembangan mereka yang bertumbuh di dalamnya, bak indah dan harumnya bunga-bunga yang sedang tumbuh dalam sebuah taman. Selamat berjuang bersama, Ibu. Peluk kasih untuk anak-anak tersayang.

Salam Hangat,

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate