Menjadi Perempuan, Menjadi Ibu

Dear Ibu,

    Aku Dita, ibun dari Aksara, yang saat ini sudah berusia 20 bulan. Waktu hamil Aksara, usiaku 27 tahun. Kata orang tua, itu adalah waktu yang pas untuk punya anak. Para ilmuwan di Royal College of Obstetricians and Gynaecologists juga mengamini kata orang tua itu. Secara raga memang mungkin aku sudah optimal, tapi secara jiwa aku belum siap. Gak tahu harus gimana saat lihat garis merah dua di testpack. Tapi setelah lihat senyum suami, lihat kebahagiaan muka orang tua dan terpapar foto teman-teman yang tengah hamil lalu punya bayi di news feed Facebook membuat aku jadi “mungkin inilah saatnya”.

Ketakutan-ketakutan ibu hamil itu banyak banget. Banyak banget. Banget!. Sebulan sebelum aku tahu tentang kehamilanku, aku diterima kerja di kawasan Cikini. Ini menjadi salah satu kecemasan aku kala itu. Baru diterima kerja lah kok udah hamil, itu yang terlintas waktu mau berbagi cerita ini ke orang-orang kantor. Tapiiii, yang keluar dari mereka adalah “Waaah.. selamat ya” *tos dua tangan* *dengan senyum mengembang tanpa dibuat-buat*.

Saat aku hamil 8 bulan, aku memutuskan untuk cuti kerja. Terbilang lumayan dini dibanding teman-temanku yang biasanya ambil cuti hamil ketika kandungan masuk 9 bulan, bahkan satu minggu sebelum lahiran. Aksara lahir pada Juni 2014 di ruang operasi. Aku harus menjalankan caesar karena pembukaanku tidak nambah-nambah. Mentok dipembukaan 4 setelah 2 hari di RS. Rasanya saat itu aku sudah nyerah berjuang untuk normal, karena akan ada perjuangan-perjuangan lain yang harus kami (aku dan Aksara) lakukan setelah anakku lahir. Yang paling dekat saat itu perjuangan IMD, kali ini kami berhasil. Setelahnya air susuku mengalir dengan deras, Alhamdulilah.

Layaknya ibu dan anak baru yang hidup di era media sosial saat ini, aku sering mengunggah foto kemesraan kami. Lalu ada yang komentar, “Lucu banget Aksara. Selamat ya. Tapi sebentar lagi bakalan ditinggal kerja tuh.” Dari pada aku bersungut-sungut, mending aku cari solusinya. Komunikasi. Waktu itu aku kirim email ke atasan untuk minta izin kerja dari rumah sampai usia Aksara mencapai 6 bulan, dengan pertimbangan aku ingin memberikan ASI eksklusif sebaik mungkin. Kebetulan kerjaanku memungkinkan dilakukan di rumah. Emailku direspon dengan baik. Mereka memberiku izin kerja dari rumah dan gaji dibayarkan secara penuh, dengan catatan seminggu sekali aku berkunjung ke kantor. Air susuku semakin deras dan Aksara tubuh menjadi bayi yang sehat dan ceria.

Setahun kemudian, pada Juli 2015, aku membaca berita kalau Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) sedang memperjuangkan agar negara memberikan cuti melahirkan selama enam bulan bagi pekerja wanita. Hal itu membuahkan hasil, pada Agustus 2015, beberapa perusahaan sudah menerapkan cuti 6 bulan tersebut. Bahagia sekali dengar berita itu. Akan ada banyak anak yang tumbuh dengan sehat, dan Ibu yang tetap bisa ikut menunjang kesejahteraan keluarga. Seandainya aja pemerintah bisa memberikan layanan kesehatan yang layak dan pendidikan hingga perguruan tinggi secara gratis — benar-benar gratis, mungkin setiap hari aku bisa main di taman IPB atau kasih makan rusa di hutan CIFOR sama Aksara.

Kalau ada orang yang bilang melahirkan dan punya anak itu adalah titik terendah seorang perempuan dalam kehidupan sosial, jangan takut, mungkin kamu cuma salah ‘nyangkut’ di kelompok sosial tertentu.

Salam!

Leave A Reply

Navigate