LDR Parenting saat Baby Blues

Dear Ibu,

Sejak awal saya kenal dengan Alza kami sudah menjalani hubungan jarak jauh. Kami belajar banyak untuk mengutamakan komunikasi dan kepercayaan, semua berjalan baik, karna jarak kadang justru menjadi tantangan yang menyenangkan dalam hubungan. Kami menjalani LDR (Long Distance Relationship) selama 3,5 tahun hingga akhirnya kita menikah dan punya anak 2 Tahun kemudian.

Semuanya berubah saat Afia lahir, hidup kami berputar 180derajat, bukan hanya pola tidur kami dan waktu senggang yang tiba-tiba hilang, tapi psikologis kami pun berubah. Saat afia berusia kurang dari 1 minggu saya mengalami my first baby blues, yang menyebabkan saya dan Alza harus melakukan ekstra effort untuk menenangkan diri, dan mengembalikan kewarasan kami.

Parenting LDR

Kantor tempat Alza bekerja cukup memberikan kelonggaran untuk memberikan cuti kepada karyawannya. Karna jadwal kerja yang on-off Alza bisa mengatur sedemikian rupa sehingga dia bisa full disamping saya dari persalinan hingga Afia usia 1 bulan. Kemudian Alza berangkat kembali ke pulau Kalimantan meninggalkan saya dan Afia yang belum lancar menyusu dikarenakan problem toungtie-nya. Dimulailah chapter parenting LDR.

Setiap saat menyusui adalah nightmare buat saya saat itu, karna saya harus menahan sakit yang teramat sangat selama Afia menyusu. Saya menghubungi Alza hampir setiap saat afia harus menyusu untuk meminta supportnya. Alza adalah suami yang sangat supportive, kami tidak pernah bergantian bangun tiap malam saat dia masih cuti, yang dia lakukan adalah ikut bangun saat saya harus menyusui, karna dia tau yang saya butuhkan adalah itu. Dia akan dengan sabar membantu saya mengganti popok, menggendong Afia, memijat saya, sampai dia yang selalu browsing mencari referensi kesana sini setiap ada masalah dengan Afia dan saya.

Tapi saat jarak memisahkan kami, tidak banyak yang bisa dia lakukan melalui telepon. Kami berusaha memaksimalkan teknologi untuk berkomunikasi, telepon, facetime, video call, tapi itu semua tidak cukup. Saya mulai banyak keluhan, begitu juga dengan Alza, emosi kami jadi tidak stabil. Belum lagi pada usia 6 bulan Afia mengalami Nursing Strike (mogok ASI), itu terjadi dikarenakan dia protes karna ayahnya berangkat kerja. Semuanya berubah, saya dan Alza yang dulu dengan santai nya menjalani LDR ternyata sekarang kepayahan, kami sering berantem, komunikasi jadi berantakan, bahkan sifat-sifat kami pun sedikit banyak jadi berubah.

Postpartum Depression

Alza jadi mudah cemas takut ada hal buruk terjadi pada saya dan Afia selama dia bekerja (ini terjadi karna dia merasa jauh dan tidak bisa melindungi kami secara nyata). Saya jadi merasa cemas takut Afia tidak bahagia, takut perkembangan emosi Afia tidak sempurna karna dia jauh dari Ayahnya. Sebetulnya semua ketakutan kami itu tidak nyata, itu merupakan efek Hiperbola dari stress yang kami alami, itu adalah gejala dari Postpartum Depression.

Satu persatu kami berusaha keluar dari keadaan ini, di Indonesia untuk mendapat konseling Pospartum bukanlah hal yang mudah, apalagi kebanyakan orang malah menganggap ini masalah sepele, padahal kalau didiamkan ini bisa berefek buruk untuk kami, dan tentunya akan buruk untuk perkembangan anak kami. Kami berusaha merubah sudut pandang, saling mendukung dan berusaha membahagiakan satu sama lain. Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah memberikan ruang bagi stress, don’t push your self to hard. Its okay that sometimes you are not really a good parents, we always aiming to be a good ones but what is important is to make your self happy so that your kids will have a happy life. Only happy parents that can make a happy kids. Saya mulai memberikan waktu untuk diri saya sendiri, melakukan hal yang membuat saya gembira, saya tidak mem push Alza untuk lebih mencurahkan perhatian, bahkan saya mendorong dia untuk kembali ke hobby nya. Saat kami ada waktu untuk pergi berdua beberapa kali kami membuat peraturan untuk tidak membicarakan Afia. Dan yang menurut saya cukup membantu adalah saat kami berdua saya kembali memanggil Alza dengan panggilan akrab bukan dengan ‘ayah’ atau ‘ibu’. Kami sadar betul, perkembangan psikologis kami ternyata terus berkembang, bukan hanya berhenti pada saat puber atau saat lulus menjadi sarjana. Sifat yang dulu ada, ternyata bisa berubah. Emosi yang dulu tidak ada, ternyata bisa hadir. Tingkat kesabaran yang dulu kita miliki ternyata bisa bertambah. Kedewasaan yang dulu kita kira sudah miliki ternyata belum cukup. Semuanya berubah, dan bukan dalam konteks yang buruk. Kami jadi lebih banyak belajar karakter satu sama lain. Bahkan saya merasa saat ini saya lebih mengerti tentang diri saya sendiri daripada sebelumnya.

Menurut saya yang penting bukan hanya fokus kepada tumbuh kembang anak, tapi juga tumbuh kembangnya emosi orangtua. Bukan hanya anak yang belajar mengenal dunia, orangtua juga belajar untuk menjadi “orangtua”. Setiap harinya kita menghadapi Afia, setiap harinya juga Afia mendapat pengetahuan baru, dan kita juga mendapat pelajaran baru. Menjadi orangtua adalah sebuah perjalanan untuk belajar, saat anak kita lahir bukan berarti kita sudah menjadi orangtua dan sudah mengerti cara untuk membesarkan anak, tetapi kita belajar setiap harinya untuk menjadi diri yang lebih baik untuk membesarkan makhluk kecil titipan Tuhan.

Saat ini Afia sudah berusia 2,5 tahun, di awal tahun ini kami diberikan kesempatan emas untuk bisa tinggal bersama di Balikpapan, memulai kehidupan baru. lewat sudah LDR Parenting chapter. Tempat baru, lingkungan baru, rutinitas baru, tantangan baru, keabahagiaan baru. Mudah-mudahan akan menjadi perjalanan yang penuh pelajaran dan kebahagiaan untuk keluarga kecil kami. Amin.

P.S : Semua langkah kami menangani situasi Postpartum Depression tidak didampingi oleh psikolog atau psikiater, itu hanyalah hasil ‘utak-atik’ saya sendiri. jadi apabila ada kawan-kawan yang merasa mengalami situasi serupa dan butuh bantuan, sangat disarankan untuk menghubungi psikolog untuk mendapatkan bantuan therapy yang lebih tepat.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate