chasing dreams VS being a mother

Dear Ibu,

Saya mau cerita sedikit tentang kehidupan saya. Di usia yang cukup muda, 21 tahun, saya memutuskan untuk menikah. Saat itu saya masih menjalani perkuliahan di semester-semester akhir. Saya ngga pernah berekspektasi untuk cepat-cepat punya anak, tapi ternyata Tuhan yang berekspektasi pada saya.

Kehamilan saya – yang bagaikan kado kejutan ini – sedikit-banyak mengubah kehidupan saya. Saya mulai browsing tentang bagaimana cara mengasuh anak yang benar, apa itu ASI, apa itu colic, dan berbagai macam hal baru lainnya. Saya jadi rajin olahraga, saya juga mengalami beberapa hal aneh (jadi suka makan kambing, setiap hari harus makan cokelat, ngga suka dengar musik yang kencang) yang sebelum saya hamil ngga pernah terjadi, and of course saya jadi menelantarkan skripsi saya. Hahaha.

Bulan demi bulan, sampai juga akhirnya di Juni 2012. Anak pertama saya, Arkhairan Razaki Akbar (atau biasa dipanggil Une), lahir dengan proses persalinan yang singkat. Waktu itu, berbekal dari baca artikel ini-itu dan ke-kekeuh-an yang saya miliki, saya mantap mau mengasuh anak ini sendiri, no babysitter. Tapi di sisi lain, saya ngga punya pengalaman sama sekali dalam mengasuh anak. Jeng-jeng-jeng. Ditambah lagi dengan berbagai macam idealisme-idealisme yang saya buat sendiri seperti ‘hanya ASI, no sufor’ dan ‘pakai diaper hanya saat tidur malam, selebihnya pakai cloth diaper’, which is ada masanya got me frustrated.

Saat itu usia saya baru 22 tahun. Ada momen tiba-tiba saya kepikiran, ‘Enak ya temen-temen gue masih pada ketawa-tawa, nongkrong, main, nonton, sedangkan gue harus nyusuin, gendong, bersihin pup/pipis..’ Padahal suami saya selalu siaga membantu mengasuh anak kami, tapi kok ya tetap saja ada pikiran begitu. Hahahaha.. Namanya juga anak muda udah punya anak 🙂

Sampai akhirnya 2 bulan setelah kelahiran Une, teman-teman saya satu per satu mulai lulus S1. Saya mulai panik. Saya mau lulus juga. Entah dapat kekuatan dari mana, saya jadi sangat semangat mengerjakan skripsi. Saya selalu ajak Une setiap bimbingan skripsi (termasuk menyusuinya sambil menunggu giliran bimbingan), revisi skripsi saya kerjakan setelah Une tidur, dan apabila Une terbangun saya dudukkan ia di bouncer sambil menemani saya revisian.

Belum lagi kalau tiba-tiba Une lagi rewel. Pernah di usia 3 bulan, Une nangis minta menyusu sambil saya gendong. Setelah ia sudah tertidur, saya taruh di tempat tidur, eeeh terbangun lagi. Begitu terus sampai berkali-kali, sampai akhirnya saya ikutan tertidur sambil tangan tetap menggendong Une. Dan kejadian ini terjadi tidak hanya sekali 🙂

Well, ada kalanya saya merasa sangat frustrasi. Menjadi ibu baru dengan tanggungjawab seabrek tanpa babysitter, di sisi lain skripsi menunggu untuk diselesaikan, belum lagi ditambah keinginan untuk bisa gaul seperti teman-teman yang lain. Fiuh.. Saya sempat merasa kesal (entah pada apa dan siapa), juga menangisi keadaan yang kok-ngga-kooperatif-banget-sih. Tapi kembali lagi, kalau ditanya, “Terus maunya gimana?” I’d say, saya akan tetap menjalani semua ini, mengasuh anak saya all by myself dan akan tetap menyelesaikan skripsi dengan baik. And guess what, butuh waktu 5 bulan saja dan akhirnya segala kepusingan itu musnah – saya lulus dan menjadi Sarjana Psikologi.

Lima bulan setelah resmi lulus S1, saya mendaftar seleksi masuk S2. Gila, saya sampai heran kenapa saya ngga kapok-kapok. Alhamdulillah setelah diterima, dua bulan setelah itu saya resmi jadi mahasiswa lagi. Orang-orang di sekitar saya banyak sekali yang bertanya, “Ih, ngapain? Lo kan udah punya suami, punya anak, ngapain sih kuliah lagi? Terus gimana anak lo, sama siapa dia kalo lo kuliah?” Itu semua sudah saya pikirkan bahkan sebelum mendaftar S2. Saya sengaja cari waktu perkuliahan yang tidak membebani tugas saya sebagai ibu. Then, why college days again? Simply, karena saya mau mengaktualisasikan diri saya. Bukan berarti saya ngga senang dengan status saya sebagai istri dan ibu, bukan itu. Saya ingin mewujudkan harapan-harapan saya atas diri saya sendiri. Saya ingin menjadi manfaat bagi orang lain, not only for my family. Saya ngga mau mimpi saya musnah hanya karena saya sudah berkeluarga. It’s even not an excuse for me. Saya tahu kemungkinan saya akan menghadapi hari-hari penuh rasa frustrasi lagi – and it is – tapi saya yakin bisa melaluinya as I did before. Dan alhamdulillah, setelah kurang-lebih 2 tahun berkuliah lagi, saya lulus S2 🙂

Satu hal yang saya petik dari cerita hidup saya setelah saya berhasil melalui semua ini, Tuhan ternyata punya rencana yang lebih indah daripada yang pernah saya kira asalkan saya tetap berusaha untuk memperjuangkannya. Saya memiliki anak terlebih dulu dibanding teman-teman saya, awalnya saya ‘iri’ masih kepingin ‘bebas’ seperti mereka, tapi sekarang saya bisa memberikan masukan kepada teman-teman saya bagaimana cara mengasuh anak. Saya tertekan dengan proses pembuatan skripsi dan tesis yang menyita banyak tenaga, tapi sekarang saya bisa mendapatkan cita-cita yang saya bayangkan sejak dulu. Menjadi ibu mengajarkan saya untuk tetap kuat dan yakin dengan kemampuan yang saya miliki. Menjadi ibu mengajarkan saya bahwa pilihan untuk mengejar cita-cita tetap ada di diri saya – tidak semata bergantung pada kondisi.

So Ibu, kejarlah mimpi-mimpi yang selama ini terpendam. Ngga ada kata terlambat untuk mengaktualisasikan kemampuan diri kita. Let’s fight! 🙂

Peluk Semangat,

Aninda 

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Navigate